KPK Tahan Staf Ditjen Hortikultura Terkait Kasus Korupsi Pengadaan Pupuk

Editor: Irvan Syafari

2.161
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah/Foto: Eko Sulestyono.

JAKARTA —– Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara resmi telah menahan seorang tersangka dalam kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Tersangka tersebut diketahui bernama Eko Mardianto, salah satu staf Sub Bagian Rumah Tangga Bagian Umum, Sekretariat Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura, Kementrian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia.

Mardianto diduga terlibat dalam kasus perkara korupsi proyek pemgadaan pupuk hayati di lingkungan Ditjen Hortikultura Kementan, Tahun Anggaran (TA) 2013. Tak lama setelah ditetapkan sebagai tersangka, yang bersangkutan tampak terlihat langsung mengenakan rompi tahanan KPK warna oranye.

Berdasarkan pantauan Cendana News langsung dari Gedung KPK Jakarta tersangka Eko tampak terlihat hanya terdiam. Dia tidak bersedia memberikan keterangan apapun saat ditanya sejumlah wartawan. Eko langsung bergegas memasuki mobil tahanan milik KPK dengan pengawalan ketat sejumlah petugas keamanan.

“Eko Mardianto sebelumnya secara resmi memang telah diretapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) proyek pengadaan pupuk. Tersangka Mardianto langsung ditahan penyidik KPK di Rumah Tahanan (Rutan) Jakarta Timur Cabang KPK,” jelas Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di Gedung KPK Jakarta, Jumat (9/3/2018).

Menurut Febri, tersangka Mardianto untuk sementara akan menjalani masa penahanan pertama selama 20 hari. Lamanya masa penahanan tergantung kebutuhan penyidik KPK. Penahanan tersebut dilakukan untuk mempermudah penyidik KPK dalam rangka melakukan pemeriksaan atau meminta keterangak kepada bersangkutan.

Febri menjelaskan, penetapan status tersangka terhadap Eko bersama sejumlah tersangka lainnya secara resmi telah dilakukan oleh penyidik KPK sejak 9 Februari 2016 (dua tahun yang lalu). Sejumlah tersangka tersebut masing-masing diketahui adalah Hasanuddin Ibrahim (Dirjen Hortikultura Kementan) 2010 hingga 2015 dan Sutrisno (pihak swasta).

Tersangka Eko diketahui berperan sebagai salah satu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam lingkup Satuan Kerja (Satker) Ditjen Hortikultura Kementan Republik Indomesia. Penyidik KPK menduga bahwa proyek pengadaan pupuk hayati di Kementan tersebut sengaja “digelembungkan” atau dimark-up.

Tersangka Eko Mardianto (rompi oranye) di Gedung KPK Jakarta/Foto: Eko Sulestyono.

Berdasarkan penyelidikan, KPK kemudian menemukan adanya indikasi terkait adanya dugaan penyelewengan anggaran terkait pengadaan pupuk hayati tersebut.

Awalnya nilai kontrak anggaran proyek tersebut diperkirakan hanya sebesar Rp8 miliar, namun ternyata digelembungkan menjadi Rp18 miliar. Diperkirakan nilai kerugian negara mencapai Rp10 miliar.

Baca Juga
Lihat juga...