Kulonprogo Punya Relawan Pembasmi Hama Tanaman

Editor: Koko Triarko

263

YOGYAKARTA – Sejumlah petani di Kabupaten Kulonprogo, secara sukarela aktif melakukan upaya penanganan hama tamanan. Tak sekadar melakukan pembasmian hama, mereka secara rutin juga aktif melakukan pemantauan dan pengendalian hama penyakit di lahan pertanian milik petani di seluruh wilayah setempat.

Ketua Regu Perlindungan Tanaman Binangun Kulonprogo, Untung Suharjo. –Foto: Jatmika H Kusmargana

Adalah Regu Perlindungan Tanaman Binangun Kulonprogo, yang bergerak secara swadaya dan beranggotakan sekitar 36 petani ini. Mereka dengan sukarela aktif membantu para petani di 12 kecamatan di Kulonprogo dalam mengatasi hama penyakit yang menyerang tanaman.

Ketua Regu Perlindungan Tanaman Binangun Kulonprogo, Untung Suharjo (43), mengatakan, kelompoknya pertama kali dibentuk pada 2012 lalu oleh pemerintah, untuk membantu dinas pertanian dalam mengatasi hama penyakit tanaman di tingkat kabupaten. Awalnya, kelompok ini bernama Brigade Proteksi Tanaman.

“Dulu, anggota kami hanya 20 relawan, namun kini ada 36 relawan. Semuanya adalah petani. Berasal dari berbagai kecamatan. Kami memang dibentuk pemerintah. Namun, kami adalah relawan, sehingga tidak dibayar,” katanya.

Meski tak mendapat upah, Regu Perlindungan Tanaman Binangun Kulonprogo tetap konsisten menjalankan tugasnya. Semangat untuk membantu sesama petani serta memajukan dunia pertanian di daerah Kulonprogo menjadi motivasi utama mereka.

Dalam melakukan pengendalian hama penyakit, Regu Perlindungan Tanaman Binangun Kulonprogo tidak menggunakan pestisida atau obat kimia. Mereka memilih menggunakan pestisida alami yang berasal dari petani pembuat agen hayati. Hal ini dilakukan untuk menjaga kondisi lahan pertanian, agar tetap lestari.

“Setiap mendapat laporan adanya serangan hama penyakit, kita langsung melakukan tindak lanjut dengan turun ke lapangan,” katanya.

Meski bergerak secara swadaya, Untung mengaku mendapat dukungan penuh dari pemerintah, khususnya Dinas Pertanian Kulonprogo. Mereka bahkan mendapat bantuan fasilitas pendukung seperti alat penyemprot hama atau handsprayer, pompa air, hingga sarana transportasi berupa motor roda tiga.

“Banyak suka duka menjadi relawan Regu Perlindungan Tamanan. Bahkan, tak jarang kita harus tombok, karena tidak memiliki dana operasional, sementara tetap harus membantu petani mengatasi hama penyakit yang menyerang,” katanya.

Karena beratnya tugas yang harus dijalankan Regu Perlindungan Tanaman, Untung pun mengaku menerapkan peraturan khusus bagi setiap petani yang ingin menjadi anggota. Selain harus merupakan lulusan sekolah lapang pengendali hama tanaman, setiap anggota juga harus rela patungan dana sosial untuk menjalankan setiap kegiatan.

“Syarat utama lainnya ialah harus dapat izin dari istri, dan bersedia tidak dibayar,” tegasnya.

Baca Juga
Lihat juga...