Lahir 29 Februari, NH Dini Rayakan Ultah 1 Maret

Editor: Satmoko

514
Sastrawan NH Dini - Foto Repro Dok PDS HB Jassin/Akhmad Sekhu

JAKARTA – Alangkah uniknya orang yang lahir pada tanggal 29 Februari. Hal itu dikarenakan tanggal 29 Februari adalah hari ekstra yang ditambahkan pada akhir bulan Februari pada setiap tahun kabisat, yang merupakan hari ke-60 pada tahun kabisat dalam kalender Gregorian.

Tanggal 29 Februari hanya ada pada tahun yang angkanya habis dibagi 4, seperti 1972, 1976, 1980, 1984, 1988, 1992, 1996, 2000, 2004, 2008, 2012, 2016 serta pada tahun abad (kelipatan 100) yang angkanya habis dibagi 400 seperti 1600 dan 2000. Tahun 1800 dan 1900 bukan tahun kabisat karena walaupun angkanya habis dibagi 4 namun merupakan tahun abad yang tidak habis dibagi 400.

Orang-orang yang berulang tahun pada tanggal 29 Februari memang dapat merayakannya pada 28 Februari atau 1 Maret, tapi terasa janggal karena tidak bertepatan tanggalnya.

Sebuah hukum di Inggris tahun 1256 menghitung tanggal 29 Februari (leap day) dan 28 Februari sebagai satu hari sehingga orang yang lahir di tanggal 29 Februari di Inggris dan Wales secara legal mencapai umur 18 atau 21 tahun pada tanggal 28 Februari.

Sastrawan NH Dini termasuk salah seorang yang lahir pada tanggal 29 Februari, , tepatnya tanggal 29 Februari 1936. Masih ada orang yang lahir pada tanggal tersebut, seperti di antaranya Paus Paulus III, Zainal Abidin Pagaralam Gubernur Lampung ke-2 periode 1966-1973, dan aktris Fera Feriska, untuk menyebut hanya beberapa orang saja, karena mungkin masih banyak orang yang lahir pada tanggal 29 Februari.

Lahir pada tanggal 29 Februari, tapi karena tahun 2018 ini tidak ada tanggal 29 Februari jadi NH Dini merayakannya tanggal 1 Maret.

“Karena saya penganut Kejawen, jadi saya memilih tanggal 1 Maret untuk merayakannya, “ kata NH Dini kepada Cendana News melalui pesan WhatsApps Ritawati Jasin, keponakan sekaligus pegawai Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin (PDS HB Jassin), Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, belum lama ini.

Lebih lanjut, NH Dini menerangkan tentang dirinya yang lahir pada tanggal 29 Februari.

“Ya disyukuri karena itu saya anggap sebagai karunia. Di antara banyak karunia kepada saya, satu di antaranya supaya saya ‘agak’ beda dari lain-lainnya maka dilahirkan oleh ibu saya pada tanggal yang lain dari lainnya pula,“ ungkapnya bijak.

Menurut NH Dini, dalam waktu dekat ia akan mengadakan pada acara peluncuran seri kenangan buku ke-15 yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 10 Maret 2018 pukul 09.00 WIB di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta dengan pembicara Prof. DR. Suminto Sayuti dan DR. Faruk.

“Kalau mau bertemu saya datang saja pada waktu acara peluncuran itu,“ ajaknya.

Pada tahun 2016, sebuah kesempatan langka bagi NH Dini untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Perayaan digelar secara sederhana atas kerja sama Sedekah Budaya, Forum Pencinta Nh Dini Semarang, dan Kumandang Sastra, di Vina House, Semarang. Acaranya bertajuk Pertemuan Dua Hati, yang diambil dari judul novel Dini.

Dua kakak Dini hadir, yakni Heratih dan Maryam. Dini adalah bungsu dari lima bersaudara. Empat kakaknya adalah Heratih (89 tahun), Nugroho (almarhum), Maryam (82 tahun), dan Teguh Asmar (almarhum). Adapun sahabat-sahabatnya sesama seniman yang hadir, antara lain Toeti Heraty Rooseno, Ajip Rosidi, Ahmad Tohari dan Taufiq Ismail.

Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand itu mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati.

Beberapa karya NH Dini, yang terkenal, di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai(1998), dan masih banyak lagi karya-karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.

Pada perayaan ulang tahunnya, Dini mengeluh minimnya penghargaan. Padahal, ia telah mengharumkan nama Indonesia dengan karya-karyanya di dunia internasional. Menjadi sastrawan bagi Dini yang digelutinya selama 60 tahun lebih tidaklah mudah. Ia hanya menerima sedikit sekali royalti honorarium yang bisa menutupi biaya hidup sehari-hari. Maka dari itu, ia mengaku sering menjadi parasit. Ia banyak dibantu oleh teman-temannya untuk menutupi biaya makan dan pengobatan.

Dalam kondisi apapun, ia tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidup. Ia merasa beruntung karena dibesarkan oleh orang tua yang menanamkan prinsip-prinsip hidup yang senantiasa menjaga harga diri. Mungkin karena itu pulalah NH Dini tidak mudah menerima tawaran-tawaran yang mempunyai nilai manipulasi dan dapat mengorbankan harga diri.

Ketua Forum Pencinta Nh Dini Semarang, Triyanto Triwikromo, menyampaikan, bahwa masih ada waktu untuk mengucapkan terima kasih, membalas budi, dengan cara memberi penghargaan yang layak, memberi biaya hidup sepanjang sisa hidupnya. “Jangan sampai beliau mengeluarkan uang sendiri untuk tusuk jarum,” kata Triyanto mengingatkan.

Tiga kali sepekan Dini tusuk jarum di Pak Tjiong untuk mengendalikan vertigo dan osteoartritis di lututnya. Khusus untuk Dini, Pak Tjiong tak memungut bayaran, namun biaya taksi bolak-balik Banyumanik-Jagalan menghabiskan lebih kurang Rp300 ribu.

“Kami, Forum Pencinta Nh Dini Semarang, tidak bisa apa-apa, kecuali mengetuk hati siapa pun untuk lebih memperhatikan mbak Dini,” kata Triyanto.

Perlu dicatat, sastrawan bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin itu adalah ibu dari sutradara film Hollywood ‘Minions’, Pierre-Louis Padang Coffin. Dini dipersunting Yves Coffin, Konsul Prancis di Kobe, Jepang, pada 1960.

Dari pernikahan itu ia dikaruniai dua anak, Marie-Claire Lintang (lahir pada 1961) dan Pierre Louis Padang Coffin (1967). Anak sulungnya kini menetap di Kanada, dan anak bungsunya menetap di Prancis. Dini berpisah dengan suaminya, Yves Coffin pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta.

Baca Juga
Lihat juga...