Laurentius, Mantan Kades Bergaji Minim yang Peduli Pendidikan dan Perekonomian Warga

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

639

MAUMERE — Menjadi Kepala Desa (Kades) di tahun 70-an dengan gaji minim dilakoni Lelaki kelahiran Puho 1 April 1933 ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Dengan bulanan yang terbilang sedikit dan tidak cukup untuk menghidupi keluarga bukan suatu halangan untuknya bertahan 15 tahun di pemerintahan terdepan.

“Saya, melihat anak-anak harus berjalan kaki jauh untuk ke SDK Iligai sehingga setelah setahun jadi kepala desa saya usulkan ke pemerintah bangun SD Inpres Puho dan disetujui. Akhirnya kami bekerja gotong royong bangun sekolah termasuk saya juga ikut kerja,” tutur warga Sikka, Laurentius Bura saat berbincang dengan Cendana News, Kamis (22/3/2018).

Dikatakan Laurens sapaannya, dirinya tidak ingin melihat anak-anak putus sekolah sehingga tahun 1975 SD Inpres Puho didirikan. Dengan adanya sekolah tersebut membuat desa Iligai kecamatan Lela memiliki dua buah sekolah dimana sebelumnya telah berdiri.

“Selain pembangunan fisik seperti jalan, pasar dan kantor desa yang saya lakukan, kita perlu juga membangun manusianya sehingga saya membangun sekolah dan Kapela atau tempat berdoa,” terangnya.

Ia menyebutkan, perlu dibangun dua sekolah di Iligai untuk mendekatkan pelayanan. Dirinya pun meminta kepada pemilik lahan untuk merelakan tanahnya dipergunakan dan setelah usai dibangun dirinya hanya membayar uang 100 ribu rupiah saja tahun 1975.

“Kami bangun kantor desa menggunakan dana subsidi desa hanya untuk membeli semen dan seng saja sementara bahan bangunannya disediakan masyarakat dan dikerjakan secara swadaya. Masyarakat sangat antusias sekali gotong royong, bekerja secara bersama-sama,” terangnya.

Digaji Tiga Ribu

Menjabat sebagai kepala desa di tahun 1974 merupakan sebuah pengabdian sebab bila mengharapkan gaji yang sangat minim tidak ada orang yang mau menjadi kepala desa. Hanya orang yang ingin memajukan wilayahnya saja yang mau mengemban jabatan ini.

“Gaji kepala desa 3 ribu rupiah waktu itu. Saat terima gaji pertama saya menangis dan berpikir apakah dengan gaji seperti ini saya bisa membiayai 10 orang anak. Saat jadi kepala desa pun saya tetap bekerja menjadi tukang bangunan untuk membiayai kehidupan rumah tangga,” tutur Laurens.

Menjabat sejak 1 Agustus 1974 dan berhenti 28 Desember 1989 membuat suami dari Febronia Pagang ini harus bersusah payah memikirkan kehidupan keluarganya. Dirinya pun kerap menerima order membangun rumah warga untuk menambah penghasilan.

“Usai diantik bulan Agustus, bulan September saya mulai membangun jalan. Saya perintahkan semua warga membuat pagar di sekeliling desa menggunakan bambu sehingga desa menjadi rapih dan bersih,” ucapnya sambil meningat-ingat kembali masa-masa itu.

Tahun 1982 sebut Laurens, desanya menjuarai lomba desa sehingga gubernur NTT Ben Mboi mengunjungi desa Iligai dan memberikan penghargaan. Dirinya pun diundang naik pesawat ke Kupang menerima penghargaan dari gubernur yang terkenal keras dan disiplin.

“Gubernur datang dan melihat desa kami dirinya tertawa dan heran melihat semua lingkungan di desa dipagari dengan bambu. Beliau senang saat mengetahui saya juga menyuruh masyarakat menanam kakao, kelapa, pala, cengkeh dan tanaman lainnya sebab beliau menggalakkan program gerakan tanam paksa dan paksa tanam,” tuturnya.

Febronia Pagang, isteri Laurens saat ditanyai Cendana News mengaku senang dan bangga suaminya bisa menjadi kepala desa dan membangun tanah kelahirannya meski kehidupan keluarganya menjadi sulit sebab gaji kepala desa tidak cukup membiayai kehidupan keluarga.

“Saya senang bapak bisa mengabdi untuk masyarakat dan saya selalu meminta agar bekerja dengan baik. Meski gaji bapak sangat minim, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sebelumnya saat menjadi sopir, namun saya tidak permasalahkan,” sebutnya.

Febronia mengaku tetap tinggal di kota Maumere dan suaminya di desa karena dirinya harus mengurus sekolah anak-anak. Dirinya katakan kepada sang suami, engkau bertugas membangun desa, saya tetap tinggal di Maumere untuk membangun anak-anak agar sekolah mereka tidak berantakan.

“Paling seminggu sekali bapak datang ke Maumere sambil membawa pisang, ubi, beras dan kayu api dan itu bagi saya sangat bernila sekali. Meski kami harus pontang-panting untuk membiayai pendidikan anak-anak kami namun selalu saja ada jalan keluar,” tuturnya.

Disalami Dua Presiden

Saat masih bekerja di bengkel misi di Ende, Laurens bergabung dengan grup musik Fanfare dan memainkan alat musik Bombardon di grup musik yang hampir semuanya menggunakan alat musik tiup dan sangat terkenal di tahun 50-an hingga 80-an.

Tahun 1951 saat presiden Soekarno tiba di Ende kelompok musik kami Fanfare yang menyambut presiden di depan dermaga Ende. Saat membawakan lagu Indonesia Raya harusnya bagian refrain diulang dua kali tapi hanya sekali sehingga Bung Karno menepuk bahu Laurens dan katakan refreinnya dua kali.

“Kami dua kali menyambut presiden Soekarno dimana tahun 1953 juga beliau datang ke Ende. Beliau sangat terkesan sekali mendengar suguhan musik yang kami bawakan,” kata Laurens bangga.

Laurens pun bangga bisa kembali bersalaman dengan presiden Soeharto yang datang bersama isteri, Ibu Tien Soeharto saat berkunjung ke Maumere untuk melakukan panen raya jagung di desa Watumilok kecamatan Kangae dimana saat itu dirinya sudah menjabat kepala desa Iligai.

“Semua kepala desa termasuk saya menyambut bapak presiden Soeharto bersama isteri dan rombongan di bandara Frans Seda Maumere. Kami semua berbaris dan bapak presiden bersama isteri menyalami kami satu per satu dan ini membuat saya bangga bisa bersalaman dengan presiden Soeharto,” tuturnya.

 

Menjadi kepala desa di zaman itu tegas Laurens nasibnya sangat menyedihkan apalagi dirinya harus tinggal terpisah dengan isteri dan anak-anak. Saat ditanyai apa enaknya menjadi kepala desa, dirinya bertutur, enaknya jadi kepala desa itu kita bisa memerintah masyarakat dan mereka sangat menghormati kita, katanya sambil berkelakar.

Rumah warga Iligai
Perumahan warga di desa Iligai kecamatan Lela yang di pekarangan rumahnya dipenuhi tanaman kakao dan pisang. Foto : Ebed de Rosary

Sementara ituu, Aloysius Yan Lali warga asli Iligai mengatakan, selama masa pemerintahan Laurens desanya menjadi ramai sebab setiap hari Senin ada pasar desa yang membuat sektor ekonomi pun bertumbuh.

“Banyak pembangunan yang telah dilakukan beliau dan saya sangat respek sekali dengan pembangunan yang dilakukan terutama membangun pasar desa. Orang dari semua wilayah datang ke Iligai untuk melakukan aktifitas jual beli,” tuturnya.

Yanes sapaannya pun mengaku kades Laurens membuat desa Iligai terlihat hidup dan ramai. Beliau membangun fasilitas umum dan memimpin dengan tegas dan bijaksana namun sayang sekali pasar desa pun mati suri setelah beliau pensiun.

“Mungkin karena beliau dididik dan bekerja sangat disiplin. Beliau juga pekerja keras meski saat itu sulit sekali cari orang untuk jadi kepala desa sebab banyak yang tidak mau,” sebutnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.