Masalah Banjir di Kota Padang Mulai Temukan Solusi

Editor: Koko Triarko

775

PADANG — Sejumlah titik di Kota Padang, Sumatera Barat, yang selama ini menjadi daerah langganan banjir akan segera diperbaiki.

“Ada berapa titik di Kota Padng yang sering terjadi genangan hingga banjir jika hujan menguyur Kota Padang dengan intensitas tinggi. Di antaranya, daerah Jati, Ujung Gurun dan terparah Jondul Rawang,” ujar Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, Kamis (8/3/2018).

Menurutnya, selama ini persoalan banjir belum menemukan titik terang, karena masih dipermasalahkan soal kewenangan. Untuk itu, dalam mengatasi hal ini perlu koordinasi antara Pemprov Sumbar, Pemko Padang hingga pusat. Maka, perlunya dilakukan penyerahan aset yang terkendala untuk menangani persoalan ini kepada pusat, sehingga ini dapat dilakukan penganggaran.

Pjs Wali Kota Padang, Alwis (kanan) bersama  Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Kota Padang, Fadelan, di rumah dinas Wali Kota Padang/Foto: M. Noli Hendrair

“Untuk itu, kita mesti kumpulkan ini menjadi satu. Sehingga persoalan banjir ini dapat dilakukan penanganan dengan segera,” katanya.

Senada, Pjs Wali Kota Padang, Alwis, menyebutkan persoalan banjir di Kota Padang akan diselesaikan, karena pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai Sumatra V Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan ikut serta membantu penanganan banjir yang selama ini terjadi.

Namun, untuk merealisasikan bantuan Balai Wilayah Sungai Sumatera V itu dalam penanganan banjir dan genangan air di Kota Padang, perlu penyerahan aset pemerintah. Karena, di aturan sebelumnya persoalan drainase itu kewenangan kota. Namun, ada Permen PUPR, bahwasanya persoalan drainase perkotaan pusat dapat masuk untuk membantu.

“Jadi, adanya Permen ini yang membuat Balai Wilayah Sungai Sumatera V semangat untuk membantu,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Kota Padang, Fadelan, didampingi Kasi Drainase dan Trotoar Dinas PUPR  Kota Padang, Kasmaizal, membenarkan bahwa Balai Wilayah Sungai Sumatera V dapat membantu.

Ia menjelaskan, ada aturan dari Permen Menteri PUPR Nomor 15/PRT/M/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pasal 311, bahwa subdirektorat operasi dan pemeliharaan sungai san pantai mempunyai tugas pembinaan pelaksanaan norma, standar, prosedur dan kriteria kegiatan operasi  dan pemeliharaan, pengendalian pelaksanaan, audit teknis, pemantauan, pembinaan pemberdayaan masyarakat dan pembinaan pengelolaan sumber daya air kepada badan usaha serta evaluasi dan pelaporan progres kegiatan operasi dan pemeliharaan sungai dan pantai serta drainase utama perkotaan.

“Maka, dari Permen itu Balai Wilayah Sungai Sumatera V bisa masuk untuk membantu. Namun, terlebih dahulu  Balai Wilayah Sungai Sumatera V butuh serah terima aset dari Pemko Padang. Jadi, langkah awal  kita penyerahan aset ke pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera V. Setelah aset diserahterimakan, baru BWSS V bisa mengerjakan seluruhnya, baik itu melakukan rehab dan pemiliharaan,” ungkapnya.

Dilanjutkanya, yang akan dikerjakan meliputi drainase primer, seperti Banda Jati dari Banda Bakali hingga Padang Arau, kemudian Muaro Jembatan Siti Nurbaya, Banda Puruh, belakang tansi, lalu Danau Cimpago, Saluran Koto Marapak dan Sungai Jirak.

Ditambahkannya, sebelum serah terima aset itu, Balai Wilayah Sungai Sumatera V dapat masuk dalam menyelesaikan persoalan genangan air dan banjir di Kota Padang ini. Namun, melalui persetujuan surat dari Pemerintah Kota Padang, sebab penyelesaian serah terima aset ini mesti melalui proses persetujauan dari DPRD Kota Padang terlebih dahulu hingga ke Kementerian.

“Untuk itu, agar dana APBN dapat masuk. Makanya, kita akan lengkapi persyaratan, di antaranya dokumen rencana umum, rencana detil ded, surat pernyataan dari wali kota dan lainnya, hingga menunggu proses penyerahan aset selesai,” katanya.

Jadi, kata Fadelan, bantuan dari Balai Wilayah Sungai Sumatera V ini sifatnya revitalisasi yang menghidupkan kembali saluran zaman Belanda di Kota Padang.

Dikatakan Fadelan, ada beberapa penyebab terjadi banjir di Kota Padang,  yakni tiga penyebab utama itu didapatkan setelah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera V, yakni kultur wilayah Padang yang cenderung datar. Kedua, kapasitas drainase yang cenderung kurang, yang masalah drainase utama perkotaan primer tidak sanggup menampung debit hujan. Lalu, masyarakat masih ada yang menutup drainase. sehingga, perlu diberikan sosialisasi.

“Kita akan lakukan perbaikan pembuatan saluran sekunder terlebih dahulu dengan dana APBD 2018. Minggu besok akan di ULP-kan, setelah itu akan dilakukan peninjauan lapangan”, sebutnya.

Untuk sistem kerja, nantinya saluran 200 meter ke dalam dan 200 meter sepanjang jalan. Karena drainase saluran air lebarnya hanya 80 meter. Sehingga, nanti drainase itu akan lebar dan air dapat mengalir dengan lancar.

Baca Juga
Lihat juga...