Masyarakat Keluhkan Sampah di Jalinsum

Editor: Irvan Syafari

389

LAMPUNG — Masyarakat di wilayah Dusun Muara Bakau, Desa Bakauheni, Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mengeluhkan kondisi sampah di tepi Jalan Lintas Timur(Jalinsum) Sumatera.

Triono (50), salah satu warga yang tinggal di dekat lokasi pembuangan sampah menuturkan, kondisi sampah berserakan sudah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

Selain meimbulkan bau tak sedap, akibat sampah berserakan di tepi jalan lokasi yang berjarak ratusan meter dari Pelabuhan PTBandar Bakau Jaya (BBJ) dan pelabuhan penyeberangan ASDP Bakauheni tersebut terlihat sangat kumuh.

Penggarap lahan sawah milik salah satu perusahaan itu mengaku, sudah berupaya melakukan pembersihan. Bersama sebagian masyarakat yang tinggal di dekat lokasi pembuangan sampah, ia telah melakukan gotong royong pembersihan sampah di lokasi pembuangan sampah ilegal tersebut.

Akibat sampah yang menumpuk, banjir kerap meluap ke lahan persawahan, termasuk sampah terbawa air mengotori lahan pertanian sawah.

“Lokasi tepi Jalinsum sebetulnya bukan tempat pembuangan sampah. Namun karena ada yang membuang sampah di sini, akhirnya terus menerus warga dari luar wilayah lain ikut membuang sampah di sini,” ungkap Triono saat ditemui Cendana News, Jumat sore (16/3/2018)

Menurut dia, berbagai jenis sampah sengaja dibuang oleh orang tak bertanggungjawab umumnya merupakan sampah plastik, beberapa jenis sampah bekas bahan bangunan.

Triono bersama beberapa penggarap lahan sawah di dekat lokasi pernah membakar sampah di lokasi tersebut hingga bersih. Beberapa sampah yang hanyut oleh air diangkat mempergunakan rakit dari bambu.

Triono menyebut, sudah memasang himbauan di lokasi tersebut sekitar empat bulan sebelumnya dengan larangan buang sampah sembarangan. Meski demikian pasca dibersihkan dan diberi tanda peringatan masih banyak warga yang membuang sampah di lokasi tersebut.

Berdasarkan jenis sampah yang dibuang dengan kondisi sudah terbungkus plastik, ia melihat sebagian merupakan sampah buangan dari warga yang tinggal di permukiman warga.

“Kami temukan sampah rumah tangga,bekas sayuran,perlengkapan bayi tidak terpakai hingga limbah dari warung makan yang artinya sampah ini sengaja dibuang oleh warga,” beber Triono.

Triono mengatakan, bau menyengat sangat terasa terutama musim penghujan terutama akibat sampah yang basah. Selain bau yang menyengat lalat beterbangan kerap membuat permukiman warga, yang ada di dekat lokasi terganggu oleh lalat pembawa penyakit. Upaya pembersihan diakuinya kerap tak berhasil karena pembuang sampah kerap beraksi pada malam hari agar tidak diketahui.

Triono tidak sendirian. Sapriadi (53), salah satu penggarap lahan padi sawah di Dusun Muara Bakau mengeluh, sampah kerap masuk ke sawah. Sampah terbawa arus air tersebut merupakan sampah botol terbuat dari kaca yang mudah pecah dan membahayakan. Berbagai upaya membersihkan sampah yang telah dilakukan kalah cepat dengan warga yang membuang sampah di lokasi tersebut.

“Saya pernah memergoki warga sengaja membuang sampah pada malam hari saat saya menunggu panen padi, ketika diingatkan pembuang sampah justru marah kepada saya karena saya bukan petugas kebersihan dan aparat desa,” ujar Sapriadi.

Sapriadi berharap instansi terkait bisa lebih memperhatikan kondisi sampah yang berserakan di Dusun Muara Bakau tersebut. Selain menjadi lokasi yang berada di gerbang Pulau Sumatera, sampah yang berserakan kerap mengganggu perjalanan kendaraan yang melintas.

Usulan kepada pihak desa dan kecamatan untuk membuat tempat pembuangan akhir pernah dilakukan, meski belum mendapat respon bahkan terkesan tidak digubris.

Camat Kecamatan Bakauheni Zaidan, saat dikonfirmasi Cendana News terkait kondisi sampah di ruas Jalan Lintas Timur belum bersedia menanggapi. Beberapa bulan sebelumnya pihak Kecamatan Bakauheni sempat mengusulkan untuk penyediaan tempat pembuangan akhir, sekaligus memberikan himbauan kepada warga agar tidak membuang sampah sembarangan.

Pantauan Cendana News sampah di tepi Jalan Lintas Timur KM 03 Bakauheni sebagian sudah masuk ke saluran air yang sekaligus menjadi sumber pengairan lahan pertanian sawah yang digarap warga.

Pengendara yang melintas di wilayah tersebut bahkan kerap harus menutup hidung dan menggunakan masker mengantisipasi bau menyengat dari sampah yang dibuang di lokasi pembuangan sampah ilegal tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...