Memaknai Singa Melingkar di Bingkai Lukisan

Editor: Koko Triarko

287

JAKARTA – Pernahkah kita terpikirkan, kalau singa badannya bisa memanjang, bahkan mampu melingkar sesuai lingkaran bingkai lukisan? Aksi singa ini sebagai bentuk kewaspadaan pada lawan yang setiap saat kalau sedikit saja lengah akan memangsanya.

Demikian sepintas pandangan kita melihat lukisan berjudul ‘Awas di Belakang…!!!’ karya Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, salah satu karya seni rupa yang disertakan dalam pameran “A Small Universe in the Field of Meaning” atau “Semesta Kecil di Tengah-Tengah Ladang Makna” yang diselenggarakan Martell yang berasosiasi dengan Edwin’s Gallery di Edwin Galleri, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis-Rabu (1-14/3/2018).

Lukisan ‘Awas di Belakang…!!!’ yang letaknya paling depan sekilas tampak unik dan begitu artistik, tapi kalau kita jeli sebagai peringatan pada kita untuk selalu waspada, apalagi tahun ini adalah tahun politik. Hewan singa adalah simbol penguasa yang dalam hukum rimba berlaku yang paling kuat tentu akan akan akan berkuasa.

Seni rupa, sebagai sebuah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan, baik itu seni rupa murni seperti lukisan maupun patung, desain dan kriya, memang bisa menjadi ladang makna bagi seniman dalam mengeksplorasi ide-idenya.

Putu dalam karya lukisannya tersebut begitu jeli menyikapi pertarungan elit-elit politik yang begitu sengit memperrebutkan kursi kekuasaan. Tapi, mungkin ada juga menginterpretasikan masalah lainnya, dan memang dalam mengapresiasi lukisan tentu bebas berinterpretasi mengenai apa pun, yang pastinya kenyataan di depan mata kita mengenai pemilihan umum yang sebentar lagi akan kita jelang bersama.

Selain pelukis Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, juga terdapat berbagai karya lukisan hasil pemikiran seniman-seniman kontemporer muda Indonesia lainnya, di antaranya Abenk Kalter, Anton Subiyanto, Emte (Muhammad Taufiq), Hendra ‘Blankon’ Priyadhani, I Putu Adi Suanjaya ‘Kencut’, Michael Binuko, Nurrachmat Widyasena, Radhinal Indra Sofyan, Rocka Radipa, Rudy ‘Atjeh’ Dharmawan, Sekarputri Sidhiawati, Walid Syarthowi Basmalah, dan Yosefa Aulia Pratiwi.

Danuh Tyas, kurator pameran ini, dalam katalog pameran, salah satunya menjelaskan, bahwa di sekitar kita telah tersedia berbagai pemaknaan bagi tiap seniman dalam dunia di sekitarnya sebagai inspirasi dalam berkarya.

“Sebuah karya tentunya tidak terwujud semata-mata dari ruang personal seorang seniman, namun bisa dari apa yang ia lihat ataupun mendapatkan gagasan dari makna-makna yang ada di sekitarnya,“ ungkapnya.

Tak hanya karya, Danuh lebih jauh lagi menyoroti senimannya juga. Antara lukisan dan pelukisnya memang tak bisa dilepaskan, bahwa lukisan bisa menjadi cerminan dari perenungan dan hasil pemikiran pelukisnya.

“Dunia sekitar bagi seorang seniman adalah bukan saja tempat ia hidup, tapi lebih dari itu tempat yang ‘menghidupi’ karyanya, ” tegasnya.

Menyaksikan pameran ini, kita semakin terbuka pemikiran dan wawasan. Karya seni rupa mampu membuka cakrawala kita mengenai berbagai hal yang terjadi di sekitar kita. Meski demikian, sebuah karya seni rupa tentu akan menimbulkan banyak tafsir maupun banyak interpretasi. Siapa pun boleh menafsirkan apa pun. Tentunya sebuah karya bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan dari senimannya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.