Mengenal Lebih Dekat Wayang Sawah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Nama Wayang Sawah mungkin belum begitu dikenal masyarakat secara luas. Wayang kreasi seorang petani asal dusun Dobangsan, Giripeni, Wates, Kulonprogo, Untung Suharjo ini memang baru muncul sekitar tahun 2015 lalu.

Yang dimaksud Wayang Sawah sendiri adalah wayang yang secara khusus dibuat sebagai media penyuluhan bagi kaum petani. Semua tokoh maupun jalan cerita pewayangan, selalu berkaitan dengan dunia pertanian, yang bertujuan untuk mengedukasi petani.

Untuk digaris-bawahi, Wayang Sawah berbeda dengan Wayang Jerami. Jika bentuk tokoh Wayang Jerami dibuat sangat sederhana dari batang padi atau jerami, Wayang Sawah dibuat sebagaimana wayang purwa pada umumnya yakni menggunakan kulit atau karton yang dilukis membentuk karakter tokoh.

Untung Suharjo, sang kreator Wayang Sawah menyebut saat ini sudah ada belasan tokoh wayang yang ia buat. Terdiri dari dua kelompok utama yakni para tokoh kerajaan Wiso Ngumboro yang mewakili kerajaan jahat dan kerajaan Giri Seto yang mewakili kerajaan baik.

“Sebagaimana wayang pada umumnya, Wayang Sawah juga memiliki pakem cerita tersendiri. Intinya adalah menggambarkan pertarungan antara kelompok hama penyakit yang kerap menyerang tanaman dan kelompok predator hama alami yang membantu petani,” katanya.

Dalam pakem cerita Wayang Sawah, kerajaan Wiso Ngumboro dipimpin oleh seorang tokoh raja jahat bernama Prabu Kolo Werengko. Tokoh ini menggambarkan hama wereng hijau yang selalu menjadi momok bagi petani.

Ia dibantu sejumlah tokoh jahat lain yang juga mewakili hama penyakit yang kerap menyerang tanaman, seperti wereng batang cokelat, tikus wirog, walang sangit, ulat daun, keong mas, hingga walang daun dan wereng kuning.

Sementara itu kerajaan Giri Seto dipimpin oleh seorang tokoh bernama Prabu Kuru Seto. Ia merupakan gambaran serangga Tom Cat atau paiderus, yang selalu menjadi musuh alami wereng. Ia juga dibantu sejumlah tokoh lain yakni walang wadung, burung hantu Tyto Alba, laba-laba, hingga ular dan anjing.

“Selain itu ada juga tokoh lain, yang mewakili sosok para petani kecil. Karakternya pun bermacam-macam. Ada tokoh petani yang bijak dan mau menerima masukan, namun ada pula tokoh petani yang bandel dan tidak mau diajak maju,” katanya.

Untung menjelaskan karakter tokoh Wayang Sawah itu diambil dari kondisi atau keadaan sesungguhnya di masyarakat. Begitu juga jalan cerita atau lakon yang dimainkan, selalu mengikuti apa yang sedang menjadi permasalahan dan dihadapi para petani.

“Pementasan Wayang Sawah ini hanya berdurasi sekitar dua jam. Ceritanya biasanya berganti-ganti tergantung situasi pertanian, misalnya hama yang sedang endemis apa. Termasuk perkembangan baru seperti masalah pupuk hingga benih,” katanya.

Untung menyebut dibandingkan kegiatan pertemuan atau penyuluhan, pertunjukan Wayang Sawah jauh lebih efektif untuk mengedukasi para petani. Ia sendiri mengaku sudah merasakan perubahan itu di desanya.

“Dinamika antar kelompok tani semakin baik. Rasa kegotongroyongan, dan persodaraan antar teman-teman petani juga semakin kuat. Semua menjadi lebih kompak,” katanya.

Lihat juga...