Mengenal Sejarah Betawi di Anjungan DKI Jakarta TMII

Editor: Koko Triarko

1.198

JAKARTA – Anjungan Provinsi DKI Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur  menempati area seluas 6.000 meter persegi, merupakan sarana edukasi seni budaya Betawi.

Bangunan utama anjungan ini terlihat unik, mengadopsi bentuk replika Tugu Monumen Nasional (Monas). Maskot Ondel-ondel berdiri tegak di depan pintu masuk gedung, menyambut pengunjung.

“Keunggulan Anjungan DKI Jakarta melukiskan perkembangan seni budaya, pemerintahan dan pembangunan Kota Jakarta, dimulai sejak zaman Kerajaan Pajajaran hingga akhir abad 20,” ungkap Kepala Anjungan DKI Jakarta TMII, Fadlan Zuhran, kepada Cendana News, Kamis (8/3/2018).

Memasuki area anjungan ini, dimulai dengan blandongan yang terletak sebelah kiri.  Blandongan merupakan bangunan pagelaran tempat diselenggarakan kegiatan seni budaya Betawi. Seperti Tari Ondel-ondel, Tari Topeng, Tari Yapong, Tari Rebana Biang, Rebana Hadroh dan kesenian lainnya. Namun, kata Fadlan, fungsi blandongan ini juga bisa digunakan untuk kegiatan acara formal.

Selanjutnya, gedung anjungan yang berbentuk replika Tugu Monas. Memasuki lobi utama atau lantai satu anjungan ini, tersaji berbagai cermin suasana khas Betawi, dengan mengetengahkan garde selayaknya rumah-rumah Jakarta tempo dulu.

Di area ini, jelas Fadlan, keanekaragaman replika busana adat Betawi lengkap tersaji dengan rapi. Di antaranya, busana Care Haji atau pengantin pria, yaitu berupa jubah dengan dalaman gamis dipadukan dengan celana pantolan dan selop tertutup. Ada pun kelengkapannya berupa selempang dada.

Diorama Museum Bahari dan busana adat care haji serta busana care Cina khas Betawi di lantai 1 gedung utama Anjungan DKI Jakarta TMII. -Foto: Sri Sugiarti.

Busana care cina atau pengantin wanita, berupa kun (kebaya panjang) dipadukan rok melebar serta teratai penutup dada dan selup tutup. Penghiasnya adalah pending atau ban pinggang dari emas, perak, dan imitasi. Penutup pundak, kalung lebar, gelang listering, sanggul stupa, hiasan burung hong, kembang goyang, tutup telinga serta cadar mempercantik sang pengantin wanita.

Busana sadariah atau pria, berupa baju koko dengan celana komprang motif batik payung dan sandal terompah. Dilengkapi cukin atau sarung motif kotak yang disematkan di bahu terlihat gagah. Ada pun baju encim atau wanita, yaitu kebaya pendek yang meruncing di bagian depan, kain pagi sore dan selop tutup. Terlihat anggun dengan hiasan kondi sawi asin, ronce melati, giwang kembang manggis, dan peniti tale.

Di lantai ini juga ditampilkan diorama sejarah Kota Jakarta yang memberi kesan mendalam bagi pengunjung. Seperti, museum nasional, museum wayang, museum bahari, museum gedung joeng 45, museum sejarah Jakarta, museum sumpah pemuda, museum Mohammad Husni Thamrin, museum tekstil, dan museum seni rupa dan keramik.

“Banyak pengunjung tertarik dengan tampilan diorama sejarah ini,” kata Fadlan.

Selain itu, lanjut dia, miniatur transportasi Kota Jakarta dari masa ke masa, budaya khitanan, kesenian boneka berbusana unik sesuai dengan budaya yang ada di Jakarta.

Menuju lantai dua, secara umum menampilkan diorama tentang perjalanan sejarah perkembangan Kota Jakarta. Yaitu, jelas Fadlan, diorama masa pra sejarah, zaman kerajaan Hindu Tarumanagara, kedatangan bangsa Portugis di Sunda Kelapa yang menggambarkan proses perjanjian dengan Kerajaan Pajajaran untuk mendirikan benteng.

“Ada diorama Fatahillah yang menggambarkan masa pendudukan Belanda hingga masa pendudukan Jepang sampai akhirnya masa Kemerdekaan 17 Agustus 1945,” ungkap Fadlan.

Di lantai ini, tepatnya di dinding sejarah Jakarta, terpampang beberapa foto menarik yang memukau pengunjung. Seperti, Pasar Senin tempo dulu, Pelabuhan Tanjung Priok dan foto kisah sejarah lainnya.

Hingga puas berkelliling di lantai ini, mata pun terfokus pada diorama menarik, yakni suasana Jakarta zaman modern sebagai kota multikultur dan destinasi pengunjung untuk datang mengadu nasib. Ada yang menjadi pengusaha, karyawan sampai pedagang asongan dan kaki lima.

Kepala Anjungan DKI Jakarta TMII, Fadlan Zuhran. -Foto: Sri Sugiarti.

Juga pada diorama simbol kegagahan Jakarta “Tugu Monas”. Monas ini merupakan sebuah wahana yang mempersatukan seluruh warga multikultur Jakarta dari berbagai strata sosial untuk bersantai menikmati hari libur.

Disampaikan Fadlan, semangat patriotisme rakyat Indonesia dilambangkan melalui lidah api Tugu Monas yang terbuat dari perunggu seberat 143 ton dilapisi 35 kilogram emas murni.

Sepintas mata memandang, di sisi kiri gedung utama ada rumah adat Betawi tipe joglo. Rumah adat ini memiliki bagian depan terbuka yang disebut paseban.

Beberapa furnitur antik diletakkan di ruang depan, di antaranya kursi bersandar berbentuk segi empat lengkap dengan meja marmer berbentuk segi enam. Kursi goyang, lampu gantung dan hiasan dinding kepala kijang juga tertata apik.

Interior unik rumah joglo ini adalah ornamen yang terletak pada dinding pintu penghubung antara ruang depan dengan bagian dalam. Keunikan arsitektur Sunda, Belanda, Jawa, dan China sangat kental terlihat. Bahkan, bagian detailnya ragam hias dari rumah tersebut tampak pengaruh arsitektur Arab.

“Unsur ragam hias ungkapan arsitektur dan elemen dekoratif adanya pengaruh budaya luar yang diimplementasikan sebagai ungkapan dari seni budaya Betawi,” ujarnya.

Di Anjungan DKI Jakarta ini, pengunjung juga bisa menikmati aneka kuliner khas Betawi, seperti kerak telur. Bagi pengunjung TMII dari luar daerah yang hendak bermalam tersedia penginapan di area belakang gedung utama. Harga penginapannya pun terjangkau.

Terpenting lagi, jelas Fadlan, edukasi sejarah seni budaya Jakarta kerap disajikan kepada pengunjung, terkhusus para pelajar. Tujuannya agar masyarakat lebih mengenal budaya Betawi.

Bahkan, menurutnya, banyak wisatawan mancanegara berkunjung  ke anjungan ini dan menggali sejarah budaya Betawi. “Sebulan pengunjung kisaran 500 orang,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...