Menjaga Batu Prasasti WIDE dan Batu Prasasti Seluruh Nusantara

Oleh : Viddy Ad Daery*

447
Viddy Ad Daery di Candi Wates-Foto: Dokumen Pribadi.

Baru saja dimuat di sebuah situs online di Indonesia, bahwa situs Prasasti Wide di desa Wide, Sedayulawas, Lamongan, akan diurus” oleh Kepala Desa. Sebab, menunggu lembaga Negara bagai menunggu “Godot”. Apalagi saat sekarang, ketika ekonomi lesu dan membuat pemerintah repot dan kalang kabut.

Wide? Kalau kita ingat nama Banyak Wide, adalah tokoh yang di kemudian hari mengabdi di Kerajaan Singasari zaman Prabu Kartanegara dengan nama besar Arya Wiraraja yang ditugaskan (ada yang menyebut dibuang) menjadi Adipati Songenep (sekarang Sumenep), Madura. Arya Wiraraja ini kemudian akhirnya menjadi arsitek cerdik berdirinya Kerajaan Majapahit, berkat kepiawaiannya memanfaatkan info-info intelijen dari pantai utara mengenai kedatangan Pasukan Mongol-China.

Apa hubungannya “batu” di Wide itu dengan sejarah Majapahit ? Nah, itulah yang akan diselidiki. Mengenai batu-batu, judul di atas memotret kecenderungan sekarang ini, yakni ada “kehausan intelektual” dari sebagian masyarakat, untuk membongkar rahasia sejarah, terutama sejarah bangsa Indonesia, yang ternyata akhirnya terbukti mempunyai masa lalu unggul dan gemilang.

Mereka, orang-orang yang haus itu, membaca banyak buku-buku sejarah, bahkan cenderung membaca kembali kitab-kitab kuno, babad-babad purba, keropak-keropak yang selama ini masih dibungkus kain usang dan disimpan di kotak-kotak kayu berbau harum cendana, mewawancarai para orang-orang sepuh, merekam tembang-tembang yang hampir punah karena penembangnya rata-rata sudah berusia lanjut, dan kecenderungan paling akhir adalah membentuk komunitas-komunitas pecinta sejarah, lalu ramai-ramai mendatangi tempat-tempat yang “batu-batunya dicurigai”, dan dengan hati-hati lalu “menyapa” batu-batu itu, dan akhirnya dengan gemas, mereka “memaksa batu-batu itu bicara” dengan cara apapun.

Sebagian memang ada yang tetap memperlakukan batu-batu itu, sebagaimana yang telah berabad-abad dilakukan oleh sebagian nenek-moyang bangsa Indonesia. Atau, konon, oleh sebagian besar bangsa Nusantara ( istilah ilmiahnya Austronesia ), yakni mengajaknya bicara dalam arti memujanya atau menyembahnya, lalu dimintainya berkah dan pertolongan ghaib.

Kebudayaan atau adat istiadat menyembah dan mengajak bicara batu-batu itulah, yang kemudian oleh para ilmuwan Barat diistilahkan sebagai “agama” animisme dan dinamisme. Sedangkan bangsa Nusantara mempunyai istilah sendiri, diistilahkan secara umum sebagai agama Kapitayan. Namun, secara lokal, konsep tersebut menjadi Sunda Wiwitan di Jawa Barat, Kejawen di Jawa, Parmalim di Sumatra, Kaharingan di Kalimantan, Alok Todolo di Toraja Sulawesi, agama Bali kuno di Bali, Islam Wektu Telu di Lombok, Marapu di Sumba, Naurus di Maluku, dan masih banyak lagi. Ketika membicarakan soal agama purba Nusantara ini memerlukan tulisan tersendiri, sedangkan tujuan artikel ini adalah khusus mengenai batu-batu yang diajak bicara tersebut.

PERAN ILMU DAN KEBIJAKAN AKAL

Semenjak tersingkapnya rahasia Gunung Padang di pedalaman perbatasan Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat, maka kini ramai-ramai para insan dahaga sejarah memburu batu-batu misterius, untuk dipelajari kemungkinan rahasia sejarah yang dikandungnya. Batu-batu yang onggokannya atau bentuknya tampak tidak biasa, yang selama ini tidak ada yang menggubrisnya, kini langsung menjadi obyek buruan untuk diteliti, lalu dijadikan bahan diskusi di medsos, terutama di rubrik-rubrik grup diskusi di Facebook.

Seperti halnya mengenai Gunung Padang, pendapat yang mempelajari situs tersebut terbagi ke dalam dua aliran besar. Aliran pertama, percaya bahwa situs Gunung Padang dibangun oleh tangan manusia, tentunya manusia Nusantara purba. Bahwa untuk membangun situs “Candi Purba” atau tempat ibadah purba tersebut membutuhkan proses yang amat dahsyat untuk ukuran akal manusia, apalagi untuk ukuran zaman dahulu, tentu itu hal yang jamak.

Sedangkan aliran ke dua menyatakan, bahwa Gunung Padang itu proses bentukan alam lewat erupsi dan gempa bumi, sedangkan manusia Nusantara purba tinggal memanfaatkannya saja sebagai tempat ibadah. Bahwa kenyataannya, Gunung Padang tersusun rapi, terbuat dari lonjoran-lonjoran batu besar, penganut aliran “bencana alam” toh tetap yakin, bahwa bencana alam juga bisa membentuk susunan batu-batu terstruktur.

Untuk menengahi dua kubu tersebut, diperlukan peran ilmu dan kebijakan akal. Ilmu bisa dipelajari dari berbagai disiplin, baik ilmu fisika, geologi, antropologi, bahkan sastra-budaya.

Bidang sastra-budaya, antara lain karena dalam naskah kuno “Bujangga Manik” juga disebutkan, bahwa dalam perjalanan keliling Jawa-Bali, agamawan Sunda kuno Bujangga Manik alias Amang Layaran, juga singgah di “Gunung Padang”, bahkan berpendapat mengenai arah “kiblat” jika beribadah di Gunung Padang.

Contoh lain, misalnya, ketika menyelidiki sebuah prasasti kuno di Pulau Tumasik ( kini Singapura ) yang tidak bisa dibaca saat itu, Raffles akhirnya menyalin tulisan di prasasti itu, lalu mengirimkannya ke museum Inggris. Ternyata para antropolog Inggris tidak ada yang bisa membacanya. Peristiwa itu tak akan kita ketahui kalau tidak membaca reportasenya di buku kuno “Hikayat Abdullah” karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, peranakan Melayu-India yang bekerja sebagai sekretaris Raffles dan gubernur-gubernur Singapura beberapa periode sesudahnya.

Abdullah juga melaporkan, bahwa gubernur Singapura sesudah Raffles, yakni Samuel George Bonham, sayangnya membiarkan seorang insinyur Inggris, Coleman menghancurkan prasasti itu, hingga kini tinggal cuilannya. Di kemudian hari, para antropolog dan epigraf akhirnya bisa memaksa batu prasasti itu bicara, bukan karena bacaan di batu itu, melainkan dari kisah di kitab kuno “Sejarah Melayu Sulalatus Salatin” dimana ada kisah bahwa Raja Suran setelah menaklukkan wilayah-wilayah Sriwijaya, lalu mendirikan batu prasasti di tepi sebuah sungai di Tumasik alias Singapura. Jadi, isi batu prasasti tesebut adalah luapan perayaan kemenangan Raja Suran.

BATU-BATU ZAMAN MEGALITIKUM

Disamping batu-batu zaman Sriwijaya, zaman Singasari dan zaman Majapahit, dan juga batu-batu dengan tulisan Arab yang dibuat dari masa paling baru, yakni zaman Sunan-Sunan, maka kini batu-batu amat purba atau diperkirakan dari zaman Megalitikum, kini banyak diburu oleh para insan haus sejarah. 

Batu-batu Megalitikum itu memang rata-rata amat sangat lama tak terdeteksi oleh para ilmuwan, karena bentuknya yang rata-rata amat biasa-biasa, bahkan cenderung polos, tidak seperti batu-batu zaman Hindu-Budha yang sudah diukir, ditulisi, dan dibentuk bermacam-macam motif bentukan.

Penulis teringat ketika hampir 10 tahun lalu mendirikan organisasi LKL ( Lembaga Kebudayaan Lamongan ), langsung banyak mendapat masukan dari beberapa budayawan lokal tingkat desa, yang menunjukkan ada batu besar “yang mencurigakan” di dekat mata air Sendang Brumbung, di dalam hutan Drajat, Paciran, Lamongan. 

Waktu itu belum ada kehebohan soal Gunung Padang. Penulis mengamati struktur batu-batu besar itu yang mirip piramida meskipun amat sangat sederhana. Langsung tergelitiklah “radar antena intelektual” penulis, dan dengan nekad menyatakan bahwa situs Brumbung adalah Candi Purba zaman megalitikum alias pra sejarah.

Pernyataan penulis dikutip dan diberitakan oleh media lokal dan ada ilustrasi fotonya. Pernyataan itu cukup bikin heboh secara lokal kabupaten dan mengangkat pamor nama LKL. Meski timbul pro-kontra, akhirnya kini pemerintah Lamongan mengakui pernyataan penulis, dan situs Candi Brumbung kini direncanakan akan dijadikan obyek wisata.

Kini, ternyata, ada terbaca dalam “karya sastra kuno” Tantu Panggelaran yang menyatakan bahwa di desa asrama kuno Pacira ( nama lama Paciran ), ada tempat ibadah peninggalan zaman purba yang masih difungsikan oleh sebagian masyarakat. Bahasa versi Kitab Tantu Panggelaran yang njelimet dan simbolis tentu tidak segamblang itu, tetapi ilmu yang luas dan kecerdasan yang arif bijaksana dari kitalah yang bisa menafsir kitab kuno itu, terhadap batu-batu agar semakin bicara, atau semakin kita ketahui arti keberadaannya. Manfaatnya tentu untuk mengetahui sejarah panjang bangsa kita.

*Viddy AD Daery adalah budayawan dan pembaca buku. Menulis serial buku Pendekar Sendang Drajat, antara lain seri “Misteri Pendekar Khidir dan Islam Purba Nusantara”.

Baca Juga
Lihat juga...