banner lebaran

Menteri ESDM Resmikan Excess Power KPC untuk PLN

Editor: Koko Triarko

307

BALIKPAPAN — Setelah penandatanganan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya pada Desember 2017, kerja sama jual beli tenaga listrik dengan skema excess power 18 MW antara PLN dengan PT Kaltim Prima Coal (KPC) diresmikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan, bersamaan dengan diresmikannya PLTU Tanjung Bara 3×18 MW milik KPC di Sangatta, Kutai Timur, Kamis (8/3/2018).

Peresmian dihadiri Direktur Bisnis Regional Kalimantan PT PLN (Persero), Machnizon, dan jajarannya. Dengan kerja sama ini, listrik dari power plant PT KPC sebanyak 18 MW akan disalurkan oleh PLN, guna memperkuat sistem kelistrikan di Sangatta, untuk melayani lebih dari 40.000 pelanggan PLN di sana.

“Hal ini menjadi kerja sama yang positif, bahwa sebagian listrik bisa dimanfaatkan untuk masyarakat. Ke depan juga saya akan mendorong usaha pertambangan untuk membangun PLTU dan kemudian memberikan sepertiga atau 30 persen listriknya kepada masyarakat. Sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka, sekaligus mendorong agar rasio elektrifikasi segera menjadi 100 persen,” kata Jonan, saat memberikan sambutan peresmian Excess Power KPC Untuk PLN.

Sebelum kerja sama ini berlangsung, sistem kelistrikan di Sangatta dijalankan dengan skema semi isolated dengan suplai utama dari PLTD di sana, sementara sebagian lagi dipasok dari sistem kelistrikan Mahakam, dengan total daya mampu berkisar 18.5 MW.

Melalui kerja sama ini, Machnizon mengatakan selain menambah pasokan daya juga mendukung penurunan biaya pokok produksi listrik. Pasalnya, dengan masuknya 18 MW dari excess power KPC, maka daya untuk Sangatta tercukupi, sehingga operasi PLTD di sana bisa dihentikan.

“Ibaratnya begini, jika dulu kita produksi 1 kWh dengan biaya pokok Rp2.000, saat ini 1 kWh dengan harga di bawah Rp1.000. Sehingga ada efisiensi”, terangnya.

Ia pun menjelaskan, bahwa saat ini listrik Sangatta juga disuplai dari sistem Mahakam melalui gardu induk (GI) Teluk Pandan Bontang sebesar 8 MW. “Jadi, sekarang daya mampu Sangatta berkisar 26 MW”, lanjutnya.

Dengan beban puncak Sangatta yang saat ini berkisar 18.14 MW, artinya masih terdapat surplus daya yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

“Tentunya kehidupan ekonomi masyarakat menjadi lebih baik melalui kerja sama excess ini, juga masih ada surplus yang bisa dimanfaatkan untuk potensi pelanggan baru, seperti kawasan pemerintahan, stadion, rumah sakit dan pelanggan umum”, lanjut Machnizon.

Sebagai salah satu bentuk nyata kesiapan PLN untuk menerangi Indonesia, saat ini pembangunan GI 150kV di Sangatta oleh PLN juga telah selesai dan siap beroperasi.

Bila GI 150kV Sangatta beroperasi, maka dipastikan sistem kelistrikan untuk Sangatta dan Kutai Timur akan semakin handal, karena daerah tersebut akan dilayani oleh sistem kelistrikan interkoneksi Mahakam.

Di sisi lain, masyarakat yang merasakan langsung kecukupan daya di Sangatta menuturkan, bahwa dengan bertambahnya listrik PLN, warga sangat merasakan perubahan yang positif.

Seperti yang diungkapkan M Ridwan, warga di sana yang juga berprofesi sebagai guru. “Di sekolah, anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman. Yang terpenting saat ini anak-anak juga sudah bisa belajar dengan menggunakan komputer. Kami berterima kasih kepada PLN”, pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.