banner lebaran

Merugi, Petani Tebu Sleman Mengadu pada Titiek Terkait HET Gula

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

569

YOGYAKARTA — Sejumlah petani tebu di Kabupaten Sleman, mengeluhkan kebijakan pemerintah pusat soal penetapan HET gula yang mengakibatkan keterpurukan di tingkat petani.

Di hadapan Anggota Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Haryadi SE (Titiek Soeharto) mereka mengaku harus menanggung kerugian cukup besar akibat kebijakan tersebut.

“Saat ini petani tebu baru merasakan kepahitan akibat penertapan HET gula oleh pemerintah yang sangat rendah. HET gula ditetapkan hanya Rp12.500 per kilo. Padahal kebutuhan biaya pokok produksi mencapai Rp12.000. Sedangkan gula dari petani hanya dibeli Rp9.500. Jelas ini merugikan petani,” kata salah seorang petani dari asosiasi petani tebu Sleman, Sugiono.

Dalam acara temu tani bersama Anggota Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto di dusun Daratan III, Sendangarum, Minggir, Sleman, petani berharap agar pemerintah meninjau kembali kebijakan tersebut. Terlebih upah tenaga untuk biaya produksi tebu, saat ini sangat mahal yakni mencapai Rp70 ribu per hari. Sehingga membuat biaya pokok produksi melampaui dari yang telah ditetapkan yakni Rp12.000 per kilo.

“Akibat kebijakan ini banyak petani yang mengurangi lahan mereka. Bahkan tujuh pabrik gula sudah ditutup karena tidak menenuhi syarat jumlah petani tebu. Itu semua karena banyak petani beralih ke komoditas lain yang dinilai lebih menguntungkan. Bagaimana tidak, kemarin harga gula bisa mencapai Rp13.000 per kilo. Sementara gula hanya Rp12.500 per kilo. Padahal gula produksi 1 tahun sekali, sedangkan beras hanya 3 bulan sekali,” katanya.

Anggota Komisi IV DPR RI
Titiek Soeharto saat berdialog dengan para petani di dusun Daratan III, Sendangarum, Minggir, Sleman – Foto: Jatmika H Kusmargana

Para petani tebu pun berharap agar pemerintah saat ini dapat mengembalikan kebijakan soal penetapan HET gula sebagaiamana zaman Pak Harto. Dimana harga gula bisa stabil, dengan HET gula ditetapkan secara jelas yakni sebesar 1,5 kali dari harga beras. Dengan begitu petani tebu bisa mengkalkulasikan keuntungan dengan pasti.

“Zaman Pak Harto dulu harga gula bisa stabil. Tapi sekarang kenapa tidak. Kita sudah meminta pada Menteri Perdagangan agar kebijakan ini ditinjau, tapi belum direspon,” katanya.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, mengaku akan berupaya menyampaikan keluhan para petani tersebut ke pemerintah. Ia sendiri mengaku sangat prihatin dengan kondisi saat ini yang jelas tidak memihak pada petani.

“Saya prihatin sekali kita masih kekurangan gula dan harus impor. Mestinya dengan lahan yang sangat luas, kita tidak perlu impor. Saya akan sampaikan persoalan gula ini pada pemerintah. Pasti kita tidak akan membiarkan hal seperti ini terus berlanjut,” katanya.

Siti Hediati Haryadi
Suasana dialog dan temu tani Anggota Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto bersama petani warga masyarakat di dusun Daratan III, Sendangarum, Minggir, Sleman – Foto: Jatmika H Kusmargana

Titiek sendiri menyebut selain kurangnya koordinasi antarkementerian terkait, data statistik mengenai pangan secara nasional saat ini masih banyak yang belum sinkron. Hal itu mengakibatkan banyak terjadi selisih pendapat soal, perlu atau tidaknya impor dilakukan.

“Mestinya memang antarkementerian harus ada koordinasi, termasuk soal statistik data pangan yang sering berbeda. Dulu kita bisa menyejahterakan petani tebu, sekarang kenapa kita tidak bisa. Mestinya kan lebih mudah. Saya kira ini harus jadi perhatian kita bersama. Jangan memprioritaskan produksi beras saja, tapi gula diabaikan,” katanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.