Meski Difabel, Lilys Semangat Dirikan PAUD Demi Anak-anak

Editor: Koko Triarko

519

MAUMERE –  Banyaknya anak berusia dini yang tidak dititipkan di Kelompok Bermain (Kober) atau bersekolah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK (Taman Kanak-Kanak), membuat seorang perempuan penyandang disabilitas di kelurahan Wairotang, kecamatan Alok Timur, mendirikan sekolah dengan nama PAUD Pelita Hati.

Bermodal semangat mendidik anak-anak, sekolah yang kelasnya mengambil tempat di ruang tamu rumah sederhana berukuran 3 x 4 meter persegi miliknya, pun berjalan sejak 2014. Lantai keramik ditutupi karpet berwarna hijau sebagai alas duduk.

“Saya melihat di lingkungan sekitar rumah kami tidak ada sekolah PAUD atau TK, sehingga saya mengumpulkan ibu-ibu rumah tangga untuk mendirikan PAUD. Ada sekolah PAUD, tapi letaknya jauh, sehingga ibu rumah tangga lebih memilih membiarkan anak mereka berada di rumah,” sebut Maria C. Lilys Supratman (50) pendiri Kober atau PAUD Pelita Hati, Kamis (1/3/2018).

Saat ditemui Cendana News di rumahnya, Lilys yang mengalami cacat pada kedua kakinya tersebut terlihat bersemangat berbincang tentang sekolahnya. Baginya, masa depan anak-anak harus disiapkan sejak usia dini, agar bisa memiliki pondasi yang kuat setelah masuk ke sekolah dasar dan pendidikan selanjutnya.

Setelah ibu-ibu rumah tangga menyepakati, perempuan yang juga sebagai tutor ini pun meminta kepada tetangganya yang bekerja di LSM PLAN Internasional, agar lembaganya bisa membantu dengan memberikan pelatihan bagi dirinya dan dua ibu rumah tangga lainnya untuk menjadi guru atau tutor PAUD.

“Ruang tamu pun saya sulap jadi ruang kelas dengan membeli karpet, agar anak-anak bisa duduk saat bermain dan belajar bersama. Dinding ruang tamu dan teras pun ikut ditempeli pernak-pernik dan poster berupa gambar dan tulisan yang dipergunakan juga sebagai bahan pembelajaran sekaligus menarik minat anak-anak,” terangnya.

Anak-anak PAUD Pelita Hati sedang mengikuti  kegiatan belajar di dalam ruang tamu rumah pendirinya yang disulap menjadi ruang kelas. -Foto: Ebed de Rosary

Bermodalkan Semangat

Satu per satu, anak-anak datang diantar ibunya  selepas jam 07.30 WITA, dengan mengenakan kaos berwarna merah serta celana atau rok berwarna-warni. Terlihat dua anak mengenakan seragam kotak-kotak putih abu-abu ciri khas lembaga pendidikan ini.

Selepas pukul 07.15 WITA, Lilys selaku pemilik rumah sudah membersihkan teras rumahnya serta menata kembali ruang tamu rumahnya untuk dipergunakan sebagai ruang kelas.

Imelda Krova dan Julita Habu, dua tutor lainnya tamatan SMA sama seperti Lilys, juga telah tiba di sekolah.

“Kalau anak-anak datang tepat waktu, maka aktifitas belajar mengajar dimulai pukul 08.00 WITA hingga pukul 10.00 WITA. Waktu bermain biasanya sejak jam 07.30 WITA hingga pukul 08.30 WITA, lalu dilanjutkan belajar bersama,” terang Imelda, yang juga menjabat sebagai Sekertaris PAUD Pelita Hati.

Jumlah murid di sekolah ini, kata Imelda, ada 22 anak. Namun, terkadang tidak semua anak hadir setiap hari. Aktivitas belajar mengajar di sekolah ini berlangsung hari Senin sampai Jumat saja dan setiap anak membayar uang sekolah atau iuran sebesar Rp10.000 per bulan.

Sebab, katanya, mayoritas orang tua murid berasal dari kelas bawah dengan penghasilan pas-pasan. Ini yang membuat lembaga pendidikan ini pun tidak menagih, bila orang tua murid tidak membayar uang sekolah dan memakluminya.

“Kami pun tidak memaksa, bila orang tua murid tidak membayar iuran bulanan, sebab misi kami mendirikan sekolah ini hanya untuk membuat anak-anak di lingkungan tempat tinggal kami bisa bermain dan belajar bersama,” ungkap Lilys.

 

Berharap Uluran Tangan

Tidak memiliki penghasilan tetap bukan menjadi alasan Lilys, Imelda dan Julita patah semangat. Imelda berucap, dirinya tertarik mengajar karena ada perhatian khusus, minat dan kemauan tersendiri kepada anak-anak.

“Saya bergabung sejak 2016, dan biasanya setelah mengurus anak ke sekolah baru mengajar. Setelah pulang mengajar, baru saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kebetulan juga rumah saya tidak terlalu jauh dengan sekolah,” ujar Imelda.

Menurutnya, metode pembelajaran di PAUD Pelita Hati menggunakan kurikulum 2013, sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM) meski sedang dalam proses peralihan dari Rencana Kegiatan Harian (RKH).

“Kami ingin, agar pemerintah lebih memperhatikan pendidikan di NTT, sebab kualitas pendidikan di NTT masih berada di level bawah. Ke depan untuk PAUD pemerintah juga perlu memperhatikan nasib para tutor, selain bantuan untuk sekolah dan kebutuhan anak-anak,” harapnya.

Lilys pun tak mau ketinggalan. Dirinya menaruh asa, agar ke depan PAUD Pelita Hati lebih maju lagi dan bisa memiliki lahan dan ruang kelas sendiri supaya bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan lebih baik.

Pihaknya sudah mengajukan surat ke Pemkab Sikka untuk sewa pakai lahan pemerintah di dekat komplek rumahnya.

Setiap tahun, bebernya, ada bantuan dana dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga kabupaten Sikka sebesar Rp3,5 juta setahun. Dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) ini dipergunakan untuk membiayai operasional dan kegiatan sekolah.

“Sementara dari kelurahan kami mendapat dana intensif sebesar 600 ribu rupiah setahun bagi satu orang guru atau tutor. Kalau dihitung dalam sebulan, ya kami tutor cuma digaji 50 ribu rupiah saja, tapi uang bukan jadi alasan kami menjadi pengajar di sini,” tuturnya.

Lilys pun mengakui, sekolahnya sudah mendapat bantuan alat-alat permainan bagi anak-anak, baik untuk di dalam ruangan maupun di luar ruangan, dari seorang donatur dari Jakarta. Namun, bantuan alat-alat permainan sedang dikirim dari Kupang. Siapa pun yang bersedia membantu, dirinya sangat berterima kasih.

Baca Juga
Lihat juga...