banner lebaran

Minat Gazebo Bambu Tinggi, Warga Ketapang Mendapat Penghasilan

Editor: Irvan Syafari

562

LAMPUNG — Membaiknya sektor pariwisata bahari di wilayah Lampung Selatan termasuk tempat usaha kuliner kekinian berkonsep tradisional membawa berkah bagi pemilik usaha pembuatan gazebo.

Taufik Hidayat (32), salah satu warga Dusun Rejosari, Desa Pematangpasir, Kecamatan Ketapang melihat peluang tersebut. Berawal dari bekerja sebagai karyawan pembuatan gazebo di Bandarlampung sejak 2010, dirinya mulai memberanikan diri membuka usaha tersebut di rumahnya pada awal 2016 dengan modal awal Rp5 juta.

Taufik demikian ia dipanggil,menyebut melihat tingkat permintaan akan gazebo justru banyak berasal dari konsumen kelas menengah keatas. Kondisi tersebut diakuinya saat dirinya menjadi karyawan pembuatan gazebo dengan pembeli merupakan pemilik restoran, pengusaha lokasi wisata, hingga perseorangan. Permintaan akan gazebo oleh pengusaha sektor wisata mencapai 10 hingga 15 unit sekali pemesanan.

“Proses pembuatan gazebo dikerjakan dengan tradisional menggunakan bahan bambu hitam, tali ijuk, atap daun kelapa, alang alang, rumbia atau asbes tergantung selera konsumen,” beber Taufik kepada Cendana News.

Batang batang bambu hitam berbagai ukuran yang sudah disiapkan diakui Taufik dibeli dari berbagai kecamatan di Lampung Selatan dengan jenis bambu kualitas super. Harga bambu hitam super diakui Taufik saat dirinya pertama kali membuat gazebo seharga Rp10.000 per batang ukuran 15 meter. Kini ukuran yang sama dibeli dengan harga Rp25.000. Penggunaan bambu yang banyak dipergunakan untuk bagan,tambak dan bekisting bangunan diakuinya membuat harga bambu semakin mahal.

Dibantu oleh rekan bernama Sareh (33) ia menyiapkan batang bambu yang sudah dipotong potong sesuai pola kebutuhan pembuatan saung. Berbagai peralatan tradisional dipergunakan di antaranya gergaji, palu, golok, serut yang merupakan peralatan utama ditambah pernis dan tali ijuk untuk proses akhir.

Peralatan tersebut diakuinya diperoleh dari Bandarlampung sebagai tempat awal dirinya mengenal proses pembuatan gazebo menjadi karyawan.

Gazebo buatan Taufik diakuinya kini banyak dipesan oleh pemilik usaha kuliner di sepanjang jalan lintas timur Sumatera dan beberapa tempat wisata di Lampung Timur dan Lampung Selatan.

Gazebo atau dikenal dengan saung bambu kerap menjadi tempat untuk bersantai menikmati hidangan kuliner sejumlah rumah makan di atas air bekas galian pasir yang marak di Lampung Timur. Sejumlah pantai memesan gazebo untuk tempat berteduh wisatawan saat berkunjung ke objek wisata pantai.

Terbiasa membuat gazebo bambu dengan berbagai model, ukuran membuat Taufik dan Sareh bisa mengerjakan pesanan gazebo minimal 15 unit gazebo per bulan. Menggunakan pola dan ukuran yang sudah disediakan, membuat dirinya bersama Sareh sudah menyiapkan pola pola ukuran agar mudah dan cepat dirangkai.

Pemesan biasanya akan memilih bentuk dan ukuran menyesuaikan ketersediaan tempat dan konsep yang akan disajikan di lokasi yang ditempatkan gazebo.

“Penyuka konsep minimalis bisa memesan gazebo ukuran dua meter dan yang paling besar bisa mencapai empat meter tergantung selera,” ujar Taufik.

Ukuran yang berbeda diakuinya mempengaruhi harga yang ditawarkan termasuk pilihan penggunaan atap. Corak gazebo dengan motif batik berukuran 2×2 meter disebutnya dijual dengan harga Rp2,5 juta, ukuran 1,5×3 meter seharga Rp3,5 juta hingga ukuran 2×5 meter dengan harga Rp4 juta.

Harga tersebut masih bisa turun menyesuaikan jenis atap yang digunakan di antaranya alang alang,daun kelapa,rumbia atau asbes.

Mampu membuat gazebo dengan rata rata 15 unit per bulan membuat ia dan Sareh mampu mengumpulkan uang hingga Rp45 juta dari pembuatan gazebo. Saat pesanan meningkat ia dibantu oleh pekerja lain, yang akan diupah berdasarkan sistem borongan per unit sesuai kesepakatan. Pesanan sejak awal Maret  mulai meningkat dengan sebanyak 20 unit, yang banyak dipergunakan untuk pemanis warung dan usaha kuliner.

“Banyak pemilik usaha kuliner mempersiapkan untuk masa bulan Ramadhan dengan peluang berjualan hidangan buka puasa sehingga memesan gazebo jauh jauh hari,” kata Taufik.

Sareh yang membantu pekerjaan pembuatan gazebo menyebut khusus untuk atap sengaja dipesan dari ahli pembuatan atap. Jenis atap alang alang dan daun rumbia banyak diminati karena nuansa tradisional lebih kental.

Saat ini atap jenis tersebut dibeli dengan sistem lembaran berukuran satu meter dengan harga Rp5.000 per lembar atap alang alang,Rp7.000 atap daun kelapa dan Rp9.000 untuk atap daun rumbia.

Pembuatan kerajinan gazebo disebutnya memiliki mata rantai ekonomi yang saling menguntungkan. Bagi pemilik pohon bambu permintaan berkelanjutan membuat pemilik bisa mendapatkan penghasilan tambahan, termasuk pembuat atap berbahan alang alang, rumbia dan daun kelapa. Saat pesanan banyak sejumlah pemuda desa di wilayah tersebut bahkan ikut bekerja membuat gazebo dengan bayaran yang lumayan.

“Saya dan Taufik memang awalnya hanya karyawan lalu berpikir membuka usaha skala kecil dengan memanfaatkan potensi lokal bambu dan kini sudah berjalan dan dikenal,” tutur Sareh.

Selain permintaan perorangan,perusahaan,permintaan dari sejumlah instansi disebutnya mulai banyak mengalir. Kunci keberhasilan pembuatan saung atau gazebo bambu diakuinya tergantung tingkat kerapian,model yang diinginkan konsumen dan waktu pengerjaan yang tepat.

Meski diminta tepat waktu ia menyebut, detail pengerjaan harus tetap rapi termasuk hingga waktu penyelesaian dengan sentuhan akhir pemberian cat pernis.

Salah satu contoh model gazebo yang sudah jadi siap dijual -Foto: Henk Widi.

Pilihan bambu super dengan standar umur yang sudah tua diakui Sareh juga selalu diperhatikan. Bambu yang tua diakuinya akan awet dan akan memberi kepercayaan bagi konsumen.

Meski zaman sudah modern namun gazebo berkonsep alami, yang umumnya untuk tempat berteduh di sawah tersebut masih banyak diminati. Sebagai peluang usaha kecil pembuatan gazebo memberi penghasilan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.