Minimalisir Polusi, Petani Lamsel Jual Jerami pada Peternak

Editor: Irvan Syafari

188

LAMPUNG — Minimalisir polusi limbah pertanian berupa jerami yang dibakar, petani di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan memilih menjual jerami kepada para peternak penggemukan sapi. Jerami dijual untuk peternak skala besar yang kerap mencari jerami menggunakan truk.

Di antara mereka terdapat Hasan (30), salah satu pemilik lahan sawah di Desa Tetaan, Kecamatan Penengahan. Sebelum ada pemanfaatan jerami untuk pakan, ia mengaku hanya membakar limbah paska panen tersebut untuk pembersihan lahan sawah.

Semenjak tahun 2000 dengan semakin banyaknya pemilik ternak skala besar di Kecamatan Sidomulyo, Natar, Palas membuat jerami semakin banyak dicari peternak pengggemukan sapi. Jerami dibeli dengan sistem borongan dan sebagian diambil oleh para pemilik ternak sapi dan kerbau secara gratis.

“Semenjak jerami diperjualbelikan dan laku kami petani pemilik lahan pertanian memilih menjual jerami dengan sistem borongan sekaligus membersihkan lahan sawah dari jerami,” ujar Hasan saat ditemui Cendana News, Rabu (28/3/2018)

Dalam satu hektare lahan sawah, ia menyebut dengan sistem pemanenan dengan perontokan padi manual menghasilkan sekitar 5 ton gabah padi varietas IR 64. Limbah Jerami yang dihasilkan bisa mencapai delapan ton.

Sebelum panen, jerami sudah dipesan oleh pemilik peternak penggemukan sapi. Harga yang ditawarkan dengan sistem borongan berkisar Rp300 ribu hingga Rp300 ribu untuk semua jerami di lahan miliknya.

Menurut dia meski dijual murah, dengan sistem borongan, dirinya tak repot membersihkan limbah panen. Harga tersebut blebih murah dibandingkan di daerah lain yang sudah menjual jerami dengan sistem ikat atau bongkok Rp3000 per ikat.

Lahan pertanian sawah yang masih cukup luas membuat harga lebih murah, karena peternak bisa mencari jerami ke beberapa tempat.

“Harga bisa lebih mahal jika lokasinya dekat dengan jalan raya, sehingga truk pengangkut bisa dekat dengan sawah,” cetus Hasan.

Pada lahan seluas satu hektare, jerami bisa diangkut dengan kendaraan truk dari pemilik peternak penggemukan sapi. Pengangkut yang masih mempekerjakan sejumlah kuli angkut dengan upah harian Rp70 ribu membuat harga jerami masih relatif murah di wilayah tersebut. Semenjak kerap dijual ke peternak penggemukan sapi, ia mengungkapkan polusi udara di wilayah tersebut bisa dicegah.

Cukup lama warga dan pengguna Jalan Lintas Sumatera kerap mengeluhkan polusi asap yang mengganggu perjalanan bahkan menghalangi pandangan. Selain itu aturan dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura untuk tidak membakar jerami, membuat petani lebih memilih menjualnya. Sebagian petani sengaja menumpuk limbah jerami di tepi sawah menjadi sumber tumbuhnya jamur merang yang bisa dikonsumsi.

Ahmad (40), warga desa Kemukus kecamatan Ketapang menyebut pemilik enam ekor sapi jenis brahman dan limousin. Pada musim panen padi dirinya mencari pakan jerami sebanyak enam ikat setiap hari ke lahan sawah yang sedang panen.

Meski tidak membeli kepada petani, saat ini sejumlah peternak tradisional diwajibkan membantu merontokkan gabah sebelum mengambil jerami.

“Kami diperbolehkan mengambil jerami dengan syarat ikut merontokkan padi, sehingga petani ikut terbantu karena perontokan menggunakan alat tradisional sistem gepyok,” beber Ahmad.

Ahmad menuturkan, warga yang memiliki ternak sapi dan kerbau menggunakan jerami sebagai pakan tambahan. Pelatihan pembuatan pakan fermentasi sekaligus menjadi tambahan pakan. sehingga jerami bisa dipergunakan untuk stok saat musim kemarau.

Peternak lain bernama Tabrani (40), warga desa Sukaraja mengaku pakan jenis jerami sempat tidak dilirik peternak.  Pasa masa lalu, pasokan pakan jenis rumput gajah, tebon jagung dan dedak berlimpah di wilayah tersebut. Namun pemanfaatan jerami pada saat musim kesulitan mencari pakan membuat jerami disimpan untuk stok.

Ahmad, warga Kemukus mengumpulkan jerami untuk pakan ternak sapi miliknya-Foto: Henk Widi.

“Kebutuhan pakan sapi terutama untuk penggemukan memang penting dengan asupan pakan yang beragam baik pakan alami maupun pakan buatan,” ungkap Tabrani.

Sebanyak enam ekor sapi jenis peranakan ongole dan limousin disebutnya diberi pakan hijauan rumput dan jerami.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.