Moonrise Over Egypt, Kisah Heroik Para Pejuang Diplomatik

Editor: Satmoko

329
Salah satu adegan film Moonrise Over Egypt (Foto: Istimewa/Dok PH TVS Films)

JAKARTA – Tak mudah untuk mendirikan sebuah negara karena tak cukup hanya memproklamasikan kemerdekaan yang itu baru secara de facto. Tapi juga harus ada pengakuan secara de jure atau secara hukum. Tak ketinggalan pengakuan dari negara luar terhadap kemerdekaan negara republik Indonesia.

Hal tersebut sangat disadari Haji Agus Salim yang memimpin rombongan perjuangan diplomatik ke Mesir pada 1947 sebagai upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia dari dunia internasional.

Film ini diawali dengan adegan Haji Agus Salim (Pritt Timothy) membasuh muka di wastafel dan kemudian bercermin hingga terbayang peristiwa Sokat, anaknya, yang berjuang hingga sampai menghembuskan nafas terakhir.

Kemudian, adegan selanjutnya kesibukan Haji Agus Salim bersama tiga utusan diplomatik lainnya, yang pergi ke Kairo, yaitu Abdurrachman Baswedan (Vikri Rahmat), Mohammad Rasjidi (Satria Mulia) dan Nazir Datuk Sutan Pamuntjak (drh. Ganda).

Dibantu dua mahasiswa Indonesia Zein Hassan (Reza Anugrah) dan Hisyam (Bhisma Wijaya), para diplomat Indonesia bernegosiasi dengan Liga Arab pimpinan Sekretaris Azzam Pasha dan Perdana Menteri Mesir saat itu, Nokrashi Pasha (Mark Sungkar).

Zein Hassan dan Hisyam dekat dengan Zahra (Ina Marika), mahasiswi manis dari Malaysia. Mereka sama-sama menyimpan perasaan saling suka. Meski tak disampaikan lewat kata-kata, tapi dari gesture tubuh dan tatapan mata mereka terlibat cinta segitiga. Ketiganya bahu-membahu membantu ketika keempat diplomat Indonesia itu kekurangan uang. Hanya saja salah seorang di antaranya menjadi mata-mata Belanda.

Willem Van Recteren Limpurg yang merupakan Duta Besar Belanda untuk Mesir menyusun serangkaian siasat agar empat utusan Indonesia tersebut gagal. Dengan didampingi Cornelis Adriaanse yang merupakan seorang Duta Besar Keliling Belanda, Willem menakuti Pemerintah Mesir. Mereka berdua bersiasat akan mencabut semua dukungan kepentingan luar negeri negaranya terhadap pemerintahan Mesir, jika menyetujui kedaulatan Indonesia.

Gertakan kedua aparat Belanda tersebut langsung membuat takut Nokrasyi, karena politik dalam pemerintahannya jelas akan terganggu. Dia juga dipaksa untuk menangguhkan serta menunda pembahasan tentang Idonesia. Karena penundaan tersebut, Agus Salim serta teman-temannya harus pontang-panting kurang lebih dua bulan di Kairo. Hari berganti hari sampai Agus Salim dapat mencium siasat jahat serta tak beres Nokrasyi.

Agus Salim serta teman-temannya juga mencurigai perintah Belanda berada di balik dalang yang Nokrasyi lakukan dalam pemerintahannya. Akhirnya lambat laun dia mencurigai sadar perjuangannya di Mesir dijegal.

Berbagai peristiwa yang mewarnai perjuangan diplomasi ini, dari mulai kegiatan spionase sampai dengan roman, membuat kisah sejarah ini menjadi dramatis dan menegangkan.

Di sisi lain situasi jadi kian parah serta genting ketika tertiup kabar jelek dari tanah air. Kabar tersebut yaitu tentang pergerakan pasukan Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) yang sedang mengepung beberapa wilayah Republik Indonesia. Ketegangan terjadi, tentu soal pengakuan de jure atas kemerdekaan Indonesia.

Film produksi TVS Films ini bagus ceritanya. Alurnya mengalir lancar. Sutradara Pandu Adiputra cukup berhasil mengemas cerita tentang diplomasi dengan cukup baik yang tak sekedar berkata-kata, tapi juga menyelipkan kisah cinta mahasiswa yang romantis nan sederhana, dan kisah spionase yang cukup menegangkan. Meski eksekusinya tampak sedikit kedodoran karena seting Mesir yang memang baru bagi sang sutradara.

Akting Pritt Timothy sangat baik dalam memerankan sebagai Haji Agus Salim. Pembawaannya yang tenang dengan kata-kata yang bijak, kadang cukup kocak. Basic Pritt yang teater memang mampu membawakan karakter Haji Agus Salim yang berwibawa.

Begitu juga dengan akting Vikri Rahmat, Satria Mulia dan drh. Ganda, cukup baik dalam memerankan sesuai karakter masing-masing. Abdurrachman Baswedan yang cenderung emosional dan temperamental, Mohammad Rasjidi yang resah gelisah dan Nazir Datuk Sutan Pamuntjak yang tenang kalem.

Adegan yang sangat mengharukan ketika Haji Agus Salim bersama Sokat, anaknya, menjahit pakaian yang sobek dengan jarum. Pakaian itu yang dipakai Sokat hingga sampai menghembuskan nafas terakhir karena ditembak Belanda. Pakaian itu dibawa Haji Agus Salim ke mana-mana, termasuk ke Mesir, betapa hubungan ayah-anak itu begitu dekat.

Menonton film ini, kita jadi terbuka wawasannya tentang para pejuang yang begitu gigih, penuh semangat dan pantang menyerah dalam memperjuangkan misi diplomasi untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia dari dunia internasional. Sebuah film berlatar sejarah yang tentu patut kita apresiasi karena sebagai tontonan dan sekaligus juga tuntunan.

Baca Juga
Lihat juga...