banner lebaran

Museum Benyamin Wujud Apresiasi Pada Seni dan Budaya

Editor: Mahadeva WS

258
Steven Setiabudi Musa - Foto, M.Fahrizal

JAKARTA – Bangsa Indonesia kaya beragam seni dan budaya. Setiap suku bangsa yang ada memiliki hasil cipta rasa dan karya yang tertuang dalam adat dan ragam seni budayanya.

Keanekaragaman seni dan budaya Indonesia merupakan aset yang tidak ternilai, sehingga harus dipertahankan dan dilestarikan. Saat ini ancaman terhadap seni dan budaya daerah semakin besar, terutama dengan merasuknya budaya instan, pragmatisme dan yang mengagungkan kebendaan.

Dewan penasehat Yayasan Gita Jaya Semesta Steven Setiabudi Musa mengatakan, kekayaan dan keanekaragaman seni musik daerah semakin sulit dipertahankan. Hal itu akibat masuknya secara masif seni musik asing. Dampaknya, kaum muda kurang begitu mengenal seni musik khas daerah.

Generasi penerus kurang mengenal dan menyukai Gambang Kromong yang berasal dari betawi, music degung yang berasal dari sunda, dan karawitan yang berasal dari Jawa. Fenomena yang terjadi saat ini adalah anak-anak muda Indonesia menggandrungi musik dari luar negeri, sementara di saat bersamaan pementasan music daerah semakin sedikit.

Rasa cinta yang begitu besar terhadap pelestarian, pengembangan, dan pelestarian seni budaya daerah dituangkan dalam bentuk pagelaran konser music Batavia Fanfare Tribute to Benyamin Sueb. Konser akan digelar pada 18 April di Gedung Kesenian Jakarta.

Lagu karya Benyamin Sueb dengan pasangan duetnya Ida Royani identic dengan music gambang kromong, yang tema-tema lagunya sangat dekat dengan keseharian masyarakat. Dapat dikatakan bahwa Benyamin Sueb merupakan icon kota Jakarta.

Banyak warga Jakarta termasuk keluarga dari Almarhum Benyamin Sueb meminta pemerintah membuat museum Benyamin Sueb.  Museum yang didalamnya mengisahkan perjalanan Benyamin Sueb memperkenalkan kota Jakarta dengan lagu-lagu dan film-film. Khazanah masyarakat kota Jakarta dapat terlihat dalam karya-karya Benyamin Sueb.

“Pelestarian Kebudayaan Betawi sudah tertuang dalam Perda No4/2015, tinggal bagaimana kita menjalaninya dan paling tidak masyarakat betawi merasa bahagia dengan adanya Perda ini. Seni budaya harus di galakkan, jangan sampai tidak agar masyarakat Jakarta semakin berbudaya. Pemprov DKI seharusnya menangkap (merangkul) para pelaku seni budaya agar mereka tidak berjalan sendiri dengan memberikan wadah kepada mereka jangan sampai nasib mereka sama dengan para atlet yang sudah membawa nama besar bangsa tetapi di masa tua nya terbengkalai. Paling tidak Pemerintah harus konsen dengan para pelaku seni budaya,” tutur Setia Budi yang juga merupakan Anggota Komisi E DPRD DKI, Senin (12/03/2018).

Dengan Perda yang sudah tertuang tersebut, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, pelaku seni dan masyarakat mulai melakukan gerakan yang nyata untuk menghidupkan kembali seni budaya warisan leluhur. Sudah saatnya pihak-pihak yang berkompeten melakukan berbagai gerakan nyata mencintai dan mengenali seni kebudayaan betawi.

“Pagelaran konser music Batavia Fanfare Tribute to Benyamin Sueb merupakan salah satu gagasan yang terbesit dan terlintas untuk membangkitkan kembali seni budaya betawi yang hampir punah dengan mengajak pelajar sekolah untuk terlibat didalam pagelaran tersebut. Terkait museum Benyamin Sueb yang banyak diminta oleh masyarakat, saya akan bicarakan dan usulkan dalam rapat kerja DPRD nanti,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.