Museum Olahraga TMII Menginspirasi Generasi Muda

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

641

JAKARTA — Dua tahun terakhir, Museum Olahraga Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mempu mencatat jumlah kunjungan yang fantastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Museum Olahraga TMII, Herman Chaniago menyebutkan, kalau dulu pengunjung di Unit Pelaksanaan Tugas dari Kementerian Olahraga (Kemenpora) yang bertugas melestarikan, merawat, dan menjadi pusat informasi serta pembelajaran bagi generasi muda ini relatif masih kurang di angka 5.000 orang per tahunnya. Pada 2016 jumlah kunjungan menembus angka 16.070 orang.

“Tahun 2017, melonjak di angka 40.850 orang. Ini berarti lonjakan yang signifikan begitu juga dari sisi anggaran,” sebutnya kepada Cendana News, Kamis (8/3/2018).

Disebutkan, keberadaan Museum Olahraga yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1989 ini turut mewarnai TMII, tapi mungkin belakang ini baru terasa gegretnya dengan inovasi program.

“Ini adalah bagian konstribusi Museum Olahraga yang turut meramaikan dan mendukung TMII sebagai pusat peradaban budaya maupun rekreasi,” ungkap ayah dua putri ini.

Disebutkan juga, museum ini terus melakukan berbagai upaya strategi agar generasi muda bisa paham kesejarahan olahraga Indonesia. Untuk 2018 ini menurut Chaniago, pihaknya tetap melanjutkan program-program sebelumnya. Di antaranya, lomba edukasi dari usia dini hingga SD, SMP, SMA dan mahasiswa serta komunitas. Seperti lomba panahan dan lomba street dance tapi juga disisipkan olahraga tradisional supaya mereka mengenalnya.

“Jadi tidak melulu modern tapi dikemas dengan selera anak muda. Karena kalau tidak pintar-pintar mengemas, saya kira sekarang ini repot,” ujar Chaniago.

Herman Chaniago
Kepala Museum Olahraga Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Herman Chaniago. Foto : Sri Sugiarti.

Kata Chaniago, olahraga salah satu alat yang efektif untuk membangun karakter anak yang sekarang lebih demam dengan gadget. Ada beberapa langka yang diambil, selain lomba edukasi, program lainnya adalah meet and greet. Yaitu mempertemukan para atlet-atlet pesohor Indonesia dengan pengunjung Museum Olahraga TMII, khususnya generasi muda. Seperti, Tri Ningsih, atlet pelari mungil Indonesia, Richard Sambera, atlet perenang, dan masih banyak lagi.

Ke depan, kata Chaniago, pihaknya akan mendatangkan atlet-atlet nasional yang lainnya untuk bisa menginspirasi generasi muda dalam berprestasi di bidang olahraga.

Meet and greet ini inspirasi bagi pelajar, bahwa menjadi atlet itu perlu perjuangan dan dedikasi. Karena mereka harus mengorbankan masa muda dan remajanya untuk menjadi atlet,” ujarnya.

Program lainnya adalah pameran di luar Museum Olahraga TMII, baik itu atas undangan penyelenggara maupun gagasan sendiri. Tujuan pameran ini kata Chaniago, sebagai jemput bola kepada masyarakat luas. Sehingga mereka yang tidak berkesempatan datang ke Museum Olahraga TMII, bisa mengetahui tentang sejarah olahraga Indonesia lewat pameran tersebut.

Adapun kegiatan lain yang baru rampung disusun yakni senam kreasi Museum Olahraga. Senam ini jelas Chaniago, ditujukan dalam rangka memberikan alternatif bagi masyarakat dalam upaya memperkenalkan Museum Olahraga, tapi medianya melalui senam.

Kreasi senam ini telah di-launching pada 26 Februari 2018 lalu. Menurutnya, saat TOT (Training of Trainer) senam kreasi Museum Olahraga ini diikuti oleh 15 provinsi.

Adapun pengembangan lainnya adalah rencana membuat Patung Legenda yang akan disimpan di lantai tiga Museum Olahraga TMII.

Disampaikan Chaniago, ada beberapa pilihan atlet nasional yang benar melegenda. Pertama, Rudy Hartono, juara All England 8 kali berturut-turut. “Siapa yang bisa nyamain Rudy Hartono, belum ada,” ujarnya.

Atlet legenda lainnya adalah pelari Indonesia pertama yang menang di Asean Games tahun 1962, Moch.Sarengat. Kemudian, Yayuk Basuki, juara tenis Wimbledon, dan Ramang, legenda sepak bola Indonesia yang menahan Uni Soviet, kosong-kosong di tahun 1956.

Museum Olahraga TMII
Museum Olahraga Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Foto : Sri Sugiarti.

Program selanjutnya adalah komunikasi, informasi, dan edukasi dengan membuat majalah, brosur, dan media sosial (medsos) seperti FB dan instragram.

Ini menurutnya, menjadi alat untuk mempublikasikan apa saja yang telah Museum Olahraga lakukan sebagai salah satu unit yang bertanggungjawab dalam pelestarian, perawatan, edukasi maupun informasi.

Baca Juga
Lihat juga...