Nelayan Ketapang Keluhkan Pendangkalan Sungai dan Kerusakan Tanggul

Editor: Satmoko

435

LAMPUNG – Abrasi pantai yang terjadi di wilayah pesisir timur Lampung berimbas bagi sejumlah nelayan tangkap yang ada di wilayah pantai Ketapang. Imbas yang dirasakan adalah pendangkalan alur sungai dan tanggul penangkis.

Andi (30), salah satu nelayan di pantai Ketapang menyebut, pendangkalan sungai sudah terjadi sejak dua tahun terakhir. Pendangkalan paling parah disebutnya terjadi saat cuaca buruk bahkan menyebabkan tanggul penahan gelombang ambrol pada beberapa bagian.

Selama pendangkalan sungai berlangsung  sejumlah perahu nelayan tradisional berukuran besar tidak bisa menyandarkan perahu ke sungai, sebagian harus menyandarkan perahu di tepi pantai.

Beberapa tahun sebelumnya sejumlah nelayan disebutnya bahkan masih bisa menyandarkan perahu di belakang rumah warga yang berada di dekat alur sungai.

Akses alur masuk perahu nelayan terhambat pasir dan tanggul penangkis yang ambrol [Foto: Henk Widi]
“Sebelumnya perahu jenis kasko berukuran besar dan kecil bisa masuk ke alur sungai, namun kini pemilik perahu tradisional berukuran kecil harus mengangkat perahu melewati pasir yang menutupi muara sungai,” terang Andi, salah satu nelayan warga Desa Ketapang Kecamatan Ketapang Lampung Selatan saat ditemui Cendana News, Minggu (18/3/2018).

Puluhan nelayan tradisional sebagian juga harus menyandarkan perahu miliknya di dekat lokasi pendaratan ikan Ketapang. Lokasi pendaratan ikan yang sebagian berupa tanggul batu alam pun mulai rusak akibat terjangan ombak.

Sebagian tanggul penangkis terbuat dari beton juga mengalami kerusakan akibat diterjang ombak sehingga nelayan memilih menambatkan perahu dengan membuat dermaga sendiri mempergunakan tonggak bambu.

Ia berharap dengan adanya pendangkalan sungai di Ketapang pihak terkait bisa melakukan normalisasi sungai. Normalisasi sungai tersebut bisa memudahkan nelayan mendaratkan perahu yang dekat dengan rumah dan perahu yang dimiliki tidak mudah rusak akibat hempasan ombak.

“Saat kondisi cuaca buruk nelayan kerap was-was karena selain bisa tenggelam perahu yang ditambatkan di tepi pantai bisa rusak berbenturan dengan perahu milik nelayan lain,” beber Andi.

Nelayan di Ketapang mengumpulkan hasil tangkapan berupa udang lobster dan berbagai jenis ikan laut [Foto: Henk Widi]
Selain menyulitkan perahu milik nelayan untuk masuk ke sungai, pendangkalan sungai disebut Andi berpotensi membuat perkampungan nelayan meluap akibat banjir. Volume pasir yang terlalu besar menutupi alur sungai membuat sebagian nelayan harus menyandarkan perahu jauh dari tempat tinggal.

Selain Andi, nelayan lain bernama Hendra (36) yang menyandarkan perahu di sungai Ketapang mengeluhkan kerusakan tanggul penangkis. Tanggul penangkis yang dilengkapi dengan fasilitas jalan setapak terbuat dari paving blok sudah amblas di beberapa bagian. Amblasnya sejumlah titik jalan setapak di tanggul penangkis bahkan terjadi pada lokasi tambat perahu.

“Tanggul penangkis yang rusak umumnya akibat faktor abrasi gelombang laut dan juga konstruksi pembangunan yang kurang kuat di bagian pondasi,” terang Hendra.

Perbaikan sudah dilakukan oleh warga dengan melakukan penambalan menggunakan batu dan padas. Meski demikian, ganasnya terjangan ombak pantai Ketapang membuat sejumlah kerusakan tanggul penangkis semakin banyak. Sejumlah warga  berinisiatif melakukan penanaman pohon albasia di dekat tanggul penangkis untuk mencegah kerusakan semakin parah.

Pohon albasia sengaja ditanam oleh warga untuk menahan abrasi pantai [Foto: Henk Widi]
Pohon albasia yang ditanam tersebut, diakuinya, ikut membantu menahan proses abrasi di beberapa bagian tanggul penangkis. Sementara di beberapa bagian lain masih mengalami kerusakan.

Selain dipergunakan sebagai tempat menambatkan perahu tanggul penangkis tersebut kerap dipergunakan sebagai lokasi bersantai saat sore hari juga menjadi lokasi memancing bagi pecinta hobi memancing.

Baca Juga
Lihat juga...