Pak Harto Lengser, Stigma Profesi Petani Berubah

Editor: Satmoko

790

YOGYAKARTA – Aktivis sekaligus pengamat sosial asal Yogyakarta, Syaifudin menyebut, telah terjadi penurunan stigma terhadap profesi petani dan sektor pertanian, sejak lengsernya Presiden RI ke 2 HM Soeharto hingga saat ini.

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang memandang rendah profesi petani.

“Pasca-reformasi, ada penurunan stigma terhadap petani. Padahal zaman Pak Harto dulu, petani dimuliakan dan difasilitasi. Sektor pertanian menjadi aspek utama yang digerakkan. Hingga kita mampu mencapai swasembada,” katanya, saat menjadi narasumber kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Anggota Komisi IV DPR/MPR RI, Siti Hediati Haryadi SE atau Titiek Soeharto, bertempat di Dusun Balangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman.

Suasana kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Anggota Komisi IV DPR/MPR RI, Siti Hediati Haryadi SE atau dikenal pula secara akrab dengan sapaan Titiek Soeharto, bertempat di Dusun Balangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Foto: Jatmika H Kusmargana

Syaifudin mengkritisi banyaknya mahasiswa pertanian yang justru enggan terjun ke sawah menjadi petani. Hal itu dipengaruhi banyaknya orang tua yang sejak awal menancapkan kesadaran pada anak-anaknya bahwa petani bukanlah profesi yang diidam-idamkan dan menjanjikan.

“Artinya ada stigma yang salah di negara ini. Padahal sebenarnya petani merupakan pekerjaan luhur dan high class. Karena tidak semua bisa jadi petani. Tidak semua mampu membiayai sektor pertanian,” ujarnya.

Jika hal semacam ini terus dibiarkan, ia menilai Indonesia akan mengalami keterputusan generasi petani. Yang bukan tidak mungkin membuat negara harus memenuhi semua kebutuhan pangan masyarakatnya dengan cara impor.

“Karena itu petani harus dikader dan diregenerasi. Harus ada peningkatan stigma petani. Untuk mengangkat marwah petani,” katanya.

Syaifudin saat menjadi narasumber kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Anggota Komisi IV DPR/MPR RI, Siti Hediati Haryadi SE atau Titiek Soeharto di Dusun Balangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Foto: Jatmika H Kusmargana

Syaifudin juga menilai perlunya mendorong sektor pertanian dari sisi kebijakan di tingkat pusat agar bisa meningkat. Yakni untuk mewujudkan ketahanan pangan dan tercapainya pangan yang layak. Terlebih unsur pangan merupakan bagian integral sistem pertahanan rakyat semesta.

“Kalau kita lihat anggaran di tingkat pusat untuk pertanian itu kurang dari 2 persen. Padahal perhatian atau tidaknya pemerintah pada struktur masyarakat bisa dilihat dari postur anggaran. Artinya memang ada yang perlu didorong,” kata Syaifudin.

 

 

Baca Juga
Lihat juga...