banner lebaran

Pak Harto Membangun Asrama Buat Para Santri di Tegal

Oleh Mahpudi, MT

556

Catatan redaksi:

Merayakan Maret sebagai Bulan Pak Harto, redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Pesantren Lebak Siu Tegal 17
Pak Harto di Pondok Pesantren di Lebak siu Tegal saat melakuan Incognito (8/4/1970). Foto: Ist/Museum Purna Bhakti Pertiwi

Bagian 7 Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto

Episode selanjutnya dari Incognito Pak Harto di Tegal, kali ini giliran warga Lebaksiu nobar (nonton bareng) dengan Pak Harto. Setelah seharian berkeliling ke sejumlah daerah pertanian, Pak Harto memutuskan untuk menginap di tengah rakyatnya. Puji syukur, kami dipertemukan kepada Agus Sujarwo, saksi kedatangan Pak Harto saat itu. Agus telah menjadi kepala desa Yamansari pada saat kami singgah, awal Mei 2012. Malam itu, rumahnya begitu ramai, warga berdatangan dari berbagai penjuru desa. Rumah tinggal kepala desa memang masih dalam satu komplek dengan balai desa.

Agus menuturkan, ia adalah satu putera dari Maktoeb, kepala desa Yamansari saat Pak Harto singgah tahun 1970. “Ayah saya bercerita, dirinya waktu masa perjuangan pernah bersama-sama Pak Harto berperang melawan penjajah di sejumlah daerah,” tutur Agus. Tak heran, malam itu, ia menyaksikan Pak Harto dan ayahnya begitu akrab.

Kepala Desa Agus Sujarwo
Kepala Desa Agus Sujarwo (kanan) tengah bercerita kepada Tim Ekspedisi tentang kunjungan Incognito Pak Harto ke desa Yamansari, Lebaksiu, Tegal, pada tahun 1970

Hari beranjak malam. Seperti yang dilakukan bagi warga desa Tambi, Indramayu, beberapa hari sebelumnya, Pak Harto pun mengajak warga desa Yamansari nonton bareng film di halaman Balai Desa. “Saya ingat, film yang diputar tentang pertanian, “ ungkap Agus. Tentu saja, menurut amatan Agus saat itu, warga sangat senang menontonnya. Pada masa itu,menyaksikan pertunjukan, film sungguh sebuah suguhan yang mewah bagi warga desa.

Pada esok harinya, Pak Harto menghabiskan waktunya untuk melihat lebih dekat kehidupan rakyatnya. Hari itu, 8 April 1970,  betapa kaget Kyai Umar mendapat tamu istimewa di Pondok Pesantrennya, Miftahul Mubtadin, Tegal Kubur, Lebaksiu, Tegal. Memang, Presiden Republik Indonesia ke-2 datang mengunjungi pesantrennya. Seperti diingat dan dituturkan kepada kami oleh Kyai Amirudin (salah satu putera dari Kyai Umar), ayahandanya menyambut Pak Harto di halaman masjid. Kemudian, Kyai Umar mengantar berkeliling melihat-lihat keadaan pesantren.  Sepanjang perjalanan berkeliling itu, keduanya berbincang-bincang. Tak banyak yang diketahui apa isi pembicaraan antara ayahandanya dengan Pak Harto. Namun, ia menyaksikan, keakraban terpancar di antara keduanya.

Pesantren Lebak Siu Tegal
Pak Harto mendapat penjelasan dari pimpinan Pondok Pesantren di Lebak siu Tegal saat melakuan Incognito (8/4/1970). Foto: Ist/Museum Purna Bhakti Pertiwi

Hal yang sama diakui pula oleh Kyai Lukman Hakim, salah satu putera Kyai Mufti dari Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah, Babakan, Lebaksiu-Tegal.  Pak Harto singgah ke pondok Pesantren yang dipimpin ayahnya. Yang menarik, selain menyaksikan dari dekat proses pendidikan di ruang-ruang belajar, Pak Harto juga menyempatkan untuk berbicara di depan para santri  dan  ulama. Saat itu, Pak Harto mengajak mereka untuk bersama-sama, agar bangsa ini bersatu, membangun bangsa dan negara. Kepada kami, Kyai Lukman berpendapat, kehadiran Pak Harto saat itu juga terkait dengan usahanya meraih dukungan rakyat menjelang Pemilihan Umum yang akan digelar tahun 1971.

Tim Ekspedisi berbincang dengan Kyai Amirudin
Tim Ekspedisi berbincang dengan Kyai Amirudin di salah satu sudut Pesantren Miftahul Mubtadin (5/5/2012), Tegal Kubur, Lebaksiu, Tegal
tentang kunjungan incognito Pak Harto tahun 1970.

Pak Harto menyaksikan betapa kehidupan santri begitu bersahaja. Mereka tinggal dalam sebuah pondok yang sederhana, fasilitas seadanya, bahkan satu kamar dihuni oleh berpuluh orang. Ini pula yang menggerakkan Pak Harto untuk segera membangunkan asrama bagi para santri pada kedua pondok pesantren yang dikunjunginya. Ketika diantar oleh Kyai Lukman, kami berkesempatan untuk melihat dari dekat bangunan yang disumbang oleh Presiden Soeharto pasca Incognito tahun 1970 itu. “Bangunan ini masih kami gunakan sebagai asrama para santri. Bangunannya sangat kokoh, sampai-sampai, kami harus menggunakan alat khusus untuk memasang paku di temboknya,” ungkap Kyai Lukman. ***

Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto lainnya

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.