Pak Harto Sangat Menghargai Jasa Para Pendahulu

Editor: Koko Triarko

561

JAKARTA – Tanggal 14 Maret, merupakan peringatan wafatnya Dr. (HC) Drs. H. Mohammad Hatta, yang populer disapa Bung Hatta. Seorang tokoh pejuang, negarawan, ekonom, dan wakil presiden RI yang pertama.

Bung Hatta yang juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 pada usia 77 tahun. Penyanyi balada Iwan Fals sampai membuat lagu khusus ‘Bung Hatta’, yang salah satu liriknya berbunyi ‘hujan air mata dari pelosok negeri, saat melepas engkau pergi’.

Sementara itu, Presiden kedua RI, HM Soeharto, pun sangat menaruh hormat pada Bung Hatta. Dalam buku ‘Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’ (1982), Pak Harto menyampaikan pesan atas meninggalanya Proklamator Bangsa Indonesia tersebut.

“Pada 14 Maret 1980 terjadi hal yang menyedihkan seluruh bangsa: Proklamator Republik Indonesia Bung Hatta meninggal dunia setelah beberapa hari mengindap sakit tua. Disebutkan, bahwa beliau yang dilahirkan di tahun 1902 itu, telah berpesan, ingin dikuburkan di antara rakyat, sekali pun beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Maka, saya tetapkan jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir, di tengah-tengah rakyat, sehamparan dengan rakyat, dengan upacara kenegaraan. Saya tetapkan tujuh hari dinyatakan sebagai hari berkabung nasional.

Kita memberikan penghormatan kepadanya, sama seperti kepada Bung Karno. Sebab itu, makamnya tersendiri, khusus. Itu menunjukkan penghargaan kita kepadanya, sementara makam Bung Karno juga sudah kita pugar.

Tidak ada yang menentang bahwa Bung Hatta adalah seorang proklamator kemerdekaan kita. Tidak ada seorang pun yang bisa menghapuskan data sejarah kita ini. Dan, proklamasi itu sendiri merupakan klimaks perjuangan yang lama. Dan, Bung Hatta turut berjuang untuk kemerdekaan kita ini. Sebab itu, beliau adalah salah seorang perintis kemerdekaan kita.

Setelah proklamasi pun beliau tetap terus berjuang. Dan, walaupun di tengah perjalanan hidupnya terjadi perpecahan antara Dwi-Tunggal Soekarno-Hatta, namun dalam perpecahan itu Bung Hatta masih bertindak konstruktif. Beliau tidak kemudian menentang Bung Karno di muka umum. Beliau memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk melaksanakan idenya. Itu berarti, bahwa beliau tetap menjaga kesatuan dan persatuan bangsa.

Karena itulah, bagi saya pribadi, maupun bagi rakyat Indonesia, tidak perlu disanksikan tentang kepahlawanan Bung Hatta. Kalau kita menganggap Soekarno sebagai pejuang, yang berjasa dalam perjuangan kita, dalam merintis kemerdekaan kita, maka begitu pulalah halnya dengan Mohammad Hatta.

Begitulah kita menghargai kedua proklamator kita itu yang semasa hidupnya pernah terkenal sebagai Dwi-Tunggal. Seperti halnya kita telah menetapkan Bung Karno sebagai Pahlawan Proklamator di tahun 1986, begitu pulalah penghargaan itu kita berikan kepada Bung Hatta.”

Kemudian, dalam http://soeharto.co mengutip buku “Presiden RI II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, yang diterbitkan Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2008, bahwa Pak Harto banyak belajar dari lelaki kelahiran Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902, dan mengingatkan kepada seluruh bangsa Indonesia, tentang hidup Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, senantiasa memperlihatkan keteguhan sikap dan pendirian yang tidak goyang sedikit pun, betapa pun besarnya godaan dan cobaan yang dihadapinya.

Hal itu disampaikan Pak Harto dalam amanatnya pada peresmian pemugaran makam Bung Hatta di Pemakaman Umum Tanah Kusir, jalan Bintaro Raya, Jakarta Selatan, Kamis 12 Agustus 1982.

Lebih lanjut, Pak Harto menerangkan, sejak Proklamasi Kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perubahan-perubahan besar telah terjadi.

Bangsa Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan yang mungkin tidak terbayangkan beberapa dasawarsa yang lalu. Bangsa ini dihadapkan kepada berbagai tuntutan yang mungkin belum terpikirkan ketika negara ini didirikan 37 tahun yang lalu.

Semuanya itu menghendaki jawaban secara lebih tepat, karena memang disadari usaha untuk meneruskan cita-cita para pendahulu bangsa ini tidaklah harus dilakukan dengan sikap dogmatis, harus dilakukan dengan sikap kreatif.

“Namun, dalam menghadapi berbagai tantangan yang menghadang, kita bisa belajar dari Bung Hatta, di antaranya dari wataknya yang teguh dan integritasnya yang utuh,” kata Pak Harto.

Karena itu, Pak Harto menekankan, kemajuan apa pun yang hendak dicapai, sekali-kali tidak boleh mengorbankan watak dan integritas bangsa sendiri, sebab di situlah letak nilai kepribadian bangsa. Tanpa watak yang teguh dan integritas yang utuh bangsa Indonesia akan kehilangan kepribadian dan identitasnya.

“Ini yang akan menjadikan bangsa kita bangsa yang lemah,” terang Pak Harto memperingatkan.

Sikap Kerakyatan

Segi lain dari kehidupan Bung Hatta yang perlu diteladani seluruh bangsa Indonesia disebutkan Pak Harto adalah sikap kerakyatannya yang tidak pernah luntur. Betapa pun tingginya jabatan yang pernah didudukinya dan betapa pun penghormatan rakyat yang diterimanya, semua itu tidak menjadikan sikap kerakyatannya luntur dan pudar.

Menurut Pak Harto, sikap kerakyatan Bung Hatta telah mempribadi dalam hidup dan kehidupannya, sehingga tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan.

Karena sikap kerakyatan itu, maka Bung Hatta selalu hidup secara sederhana. Tapi, dalam kesederhanaan itulah terletak kekuatan, kebesaran dan keagungan Bung Hatta.

Kesederhanaan hidup Bung Hatta merupakan contoh yang sangat menonjol dari kehidupannya. “Kita semua perlu berguru pada kehidupan Bung Hatta,” tegas Pak Harto.

Pak Harto mengimbau, agar contoh-contoh kehidupan Bung Hatta itulah yang perlu direnungi bersama pada saat bangsa Indonesia bekerja keras membangun masyarakat Pancasila.

Bagi bangsa Indonesia, masyarakat Pancasila adalah masyarakat yang dibentuk oleh manusia Indonesia yang berwatak teguh dan mempunyai integritas penuh sikap kerakyatan dan berkehidupan sederhana. “Tanpa nilai-nilai luhur itu, kita tidak mungkin berhasil mencapai dan mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia, masyarakat Pancasila,” papar Pak Harto.

Bung Hatta Milik Seluruh Bangsa

Pada awal amanatnya yang dimulai dengan penghormatan terlebih dahulu kepada Rahmi Hatta, Pak Harto menyampaikan terima kasih dan penghargaan pemerintah kepada keluarga Bung Hatta yang menyetujui sepenuhnya pemugaran makam Hatta.

Pemugaran makam dilakukan karena Bung Hatta bukan saja milik keluarga, merupakan telah menjadi milik seluruh rakyat Indonesia dan menjadi bagian yang penting dari sejarah perjuangan bangsa lndonesia.

Pribadi, pemikiran dan kepemimpinan Bung Hatta akan selalu hidup dalam hati sanubari bangsa Indonesia. “Perjuangan, pengorbanan dan jasa beliau akan selalu hidup dalam ingatan dan kenangan kita,” ungkap Pak Harto.

Pak Harto mengemukakan pula, bahwa pembangunan makam Bung Hatta sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengkultuskan Bung Hatta, karena sikap ini bertolak belakang dengan kepribadian Bung Hatta, Wakil Presiden RI pertama itu, yang sangat sederhana.

Pembangunan makam Bung Hatta dimaksudkan untuk menunjukkan sikap hormat seluruh rakyat dan bangsa Indonesia terhadap pemimpinnya yang telah berjasa luar biasa untuk Tanah Air dan berkorban untuk keluhuran bangsanya.

Disadari Pak Harto, penghormatan terhadap Bung Hatta dan para pendahulu bangsa Indonesia lainnya tidak cukup hanya dengan membangun makam itu saja, tapi yang lebih penting tekad dan usaha meneruskan perjuangan mereka.

Seluruh bangsa Indonesia dan seluruh generasi selanjutnya memikul tanggung jawab besar meneruskan cita-cita nasional yang indah luhur yang telah diperjuangkan dan diwariskan para pendahulu.

Mengenai rancangan pembangunan makam Bung Hatta, Pak Harto mengatakan bahwa perjuangan, pandangan hidup dan kepribadian Bung Hatta itulah yang telah dicoba untuk dilambangkan dalam berbagai bentuk dan ukuran pada lingkungan makam ini.

Sebagai pejuang dan pemikir, Bung Hatta ikut merumuskan Pancasila dasar negara Republik Indonesia. Penghormatan bangsa Indonesia terhadap Bung Hatta sebagai pendiri negara ini yang ikut merumuskan dasar negara itu dilambangkan dalam ukuran lantai pertama cungkup makam yang berukuran lima kali lima meter.

Bung Hatta juga seorang muslim yang saleh, yang teguh imannya dan kuat ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Angka lima melambangkan keislaman Bung Hatta yang kuat, menunjukkan lima rukun Islam dan sembahyang lima waktu.

Sejarah mencatat, bahwa generasi Bung Hatta merupakan angkatan yang melahirkan berbagai gagasan dan pemikiran besar untuk membangun suatu kehidupan bangsa, yang merdeka.

Pikiran dan gagasan Bung Hatta mengenai demokrasi ekonomi dan koperasi, misalnya, terpancang kokoh kuat dalam UUD 1945. “Demokrasi ekonomi, dengan koperasi sebagai salah satu soko-guru ekonomi nasional itulah yang ingin kita bangun dalam alam Indonesia Merdeka,” demikian Pak Harto mengatakan dalam amanatnya.

Upacara peresmian pemugaran makam Bung Hatta tersebut selain Ibu Rachmi Hatta dan Ibu Tien Soeharto, dihadiri pula oleh Wakil Presiden dan Ny. Nelly Adam Malik, pimpinan lembaga tertinggi dan tinggi negara, Menko Kesra Surono, Menko Ekuin Widjojo Nitisastro, Menko Polkam M. Panggabean, para menteri Kabinet Pembangunan III, para Dubes dan anggota korps diplomatik lainnya serta para pejabat tinggi pemerintahan.

Selain itu, tampak pula menghadiri peresmian pemugaran Bung Hatta ini, Menteri Luar Negeri Malaysia Tan Sri Gazali Syafei. Selain Gubernur DKI Jaya Tjokropranolo, juga tampak hadir Gubernur Sumbar Ir.Azwar Arras.

Selesai memberikan amanatnya, dengan didahului pengguntingan pita yang dilakukan Ibu Tien Soeharto, Pak Harto membubuhkan tanda tangannya pada prasasti peresmian makam dan membuka selubung batu prasasti yang beratnya lima ton diletakkan di sebelah kiri pintu gerbang makam.

Pada batu prasasti ini dipahatkan kata-kata: ”Meskipun Bung Hatta telah tiada, Bung Hatta akan tetap hidup di hati kami. Cita-cita Bung Hatta akan senantiasa menyinari perjuangan kami.”

Kedua kalimat yang dipahatkan pada batu prasasti yang didatangkan dari Ciawi, Jawa Barat, itu merupakan kata-kata Pak Harto tatkala melepas jenazah Bung Hatta ke tempat peristirahatannya yang terakhir pada 14 Maret 1980.

Sebelum meninjau bagian-bagian bangunan makam Bung Hatta, Pak Harto, lbu Tien Soeharto, serta Ibu Rachmi Hatta mendapat kesempatan pertama menaburkan bunga di atas pusara Bung Hatta.

Penaburan bunga kemudian dilakukan Wakil Presiden Adam Malik dan Ny. Adam Malik, para pimpinan lembaga tertinggi dan tinggi negara, para menteri dan pejabat pemerintahan lainnya beserta istri.

Selesai 234 Hari

Sekretaris Kabinet Drs. Murdiono, selaku ketua direksi dan pimpinan proyek pembangunan pemugaran makam Proklamator Kemerdekaan Negara RI Bung Hatta dalam laporannya mengatakan, bahwa pembangunan pemugaran makam tersebut yang batu pertamanya diletakkan lbu Rachmi Hatta pada 12 Agustus 1981, dapat diselesaikan dalam jangka waktu 234 hari.

Sekretaris Kabinet juga menjelaskan lingkungan makam yang terdiri dari bangunan utama, bangunan pendukung, bangunan pelengkap serta taman dan pepohonan.

Bangunan utama yang didirikan di atas tempat bersemayamnya jenazah Bung Hatta sejak semula, berupa cungkup makam.

Salah satu dari bangunan pendukung berupa gapura atau pintu gerbang yang beratapkan bentuk rumah di Minangkabau, yang mengingatkan para pengunjung nantinya, bahwa Bung Hatta putra Indonesia berasal dari Sumatera Barat. Bangunan pendukung lainnya adalah pagar keliling yang tembus pandang.

Bangunan pelengkap berupa batu prasasti dan musholla, tempat pengunjung nantinya mengambil air wudhu dan sembahyang.

Sekretaris Kabinet dalam laporannya juga menjelaskan arti dan perlambang berbagai bentuk dan ukuran-ukuran pada lingkungan bangunan makam bung Hatta itu.

Dalam kesempatan peresmian pemugaran makam ini, tampak pula hadir ketiga putri dan para menantu Bung Hatta serta L. Wangsawidjaja, sekretaris pribadi Bung Hatta yang selalu mendampingi Bung Hatta dalam perjuangannya sampai akhir hayat.

Lihat juga...

Isi komentar yuk