Panen Dini Udang, Jasa Giling Es Banjir Permintaan

Editor: Satmoko

202

LAMPUNG – Kondisi banjir luapan Sungai Way Sekampung mengakibatkan sejumlah pemilik usaha tambak di Desa Bandar Agung merugi puluhan juta rupiah per petak.

Kerugian akibat banjir tersebut diakui oleh Hendra (30) salah satu petambak udang vaname akibat tanggul tambak limpas sehingga terpaksa dilakukan panen dini. Udang vaname yang bisa dipanen parsial pada usia 45 hari hingga 50 hari. Panen total usia 90 hari tersebut bahkan terpaksa dipanen lebih cepat.

Imbas panen dini tersebut membuat pemilik tambak udang vaname harus melakukan panen udang meski harga belum maksimal. Pada saat masa panen normal, ia mengaku, harga udang vaname bisa dijual Rp80.000 hingga 90.000 per kilogram usia 90 hari.

Akibat panen dini ia menyebut udang hanya dijual murah seharga Rp60.000 per kilogram. Meski mengaku rugi akibat panen dini, panen udang vaname dilakukan agar ia bisa menutupi biaya operasional dari penjualan udang vaname tersebut.

“Secara ekonomis kami memang rugi. Jika tidak dipanen lebih awal imbasnya bisa merugi lebih banyak, terutama saat debit air meninggi hingga limpas ke dalam tambak,” terang Hendra, salah satu warga Desa Bandar Agung kecamatan Sragi saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses penyortiran udang pasca-panen dini, Sabtu (17/3/2018).

Econg (kiri) menggiling es batu pesanan pemilik tambak untuk mengawetkan udang dan ikan selama pengiriman ke pasar [Foto: Henk Widi]
Selain Hendra, proses panen dini mengakibatkan kerugian pemilik usaha tambak lain. Sejumlah pemilik tambak yang memiliki modal cukup bahkan melakukan proses peninggian tanggul, sebagian menggunakan jaring untuk menghindari udang keluar dari tambak. Sejumlah pemilik tambak yang melakukan panen parsial dini masih terus mengoperasikan kincir air untuk sirkulasi air tambak yang tercampur air banjir.

Hendra menyebut, panen parsial dini yang dilakukannya pada hari normal, ia bisa memperoleh sebanyak 6 kuintal. Namun akibat banjir maksimal dirinya hanya memperoleh sekitar 3 kuintal. Akses jalan yang terputus diakuinya membuat ia membutuhkan es balok yang sudah digiling untuk mengawetkan udang yang akan dibawa ke pasar. Sekali panen Hendra membutuhkan sebanyak tiga bok es balok yang sudah dihaluskan.

Banyaknya petambak udang vaname yang panen dini, ikut berdampak positif bagi pemilik usaha jasa penggilingan es balok.

Econg (36) warga Desa Bandar Agung menyebut pada hari normal dirinya menyediakan sebanyak 30 hingga 40 balok per lima hari. Namun saat panen dini akibat banjir dan saat panen raya udang vaname, dirinya bisa menyediakan hingga 100 es balok per lima hari.

“Kebutuhan es jadi melonjak karena banyak petambak memanen udangnya lebih awal, mengantisipasi kerugian, dan harus dijual ke luar daerah yang membutuhkan es untuk mengawetkan,” beber Econg.

Econg menyebut es balok yang dijualnya akan dibeli oleh pelanggan dalam bentuk sudah digiling, sebagian berbentuk es balok utuh. Laki-laki yang berjualan es balok sejak empat tahun silam tersebut menjual es balok berukuran 1 meter dengan harga sejak Rp15.000 hingga kini Rp25.000 per balok. Umumnya pembeli merupakan pedagang ikan laut, nelayan tangkap, nelayan budidaya dengan jumlah bervariasi.

Tambak udang milik warga Desa Bandar Agung sebagian masih terendam banjir [Foto: Henk Widi]
Pemilik usaha tambak saat panen parsial disebutnya kerap membutuhkan hingga enam es balok. Dua es balok bisa dipergunakan untuk empat box khusus penyimpan udang. Satu es balok dijual dengan harga Rp25.000 termasuk jasa penggilingan menjadi Rp30.000. Puncak permintaan tinggi akan es balok dalam kondisi normal  memasuki bulan April, namun akibat banjir permintaan akan es justru tinggi akibat panen dini.

“Dalam kondisi normal umumnya panen raya petambak udang dilakukan bulan April, namun sekarang akibat bencana banjir panen terpaksa dilakukan lebih awal,” terang Econg.

Sejumlah nelayan di muara Sungai Way Sekampung membuat permintaan akan es balok yang sudah digiling selalu ada setiap hari. Es balok dalam kondisi sudah digiling memang menjadi kebutuhan penting untuk komoditas perikanan berupa ikan bandeng, tongkol, dan cumi-cumi tangkapan nelayan agar tetap awet sebelum dikirim ke lokasi penjualan.

Baca Juga
Lihat juga...