Pantai Batu Putih, Alternatif Nikmati Keheningan

Editor: Satmoko

438

LAMPUNG – Pantai Batu Putih merupakan salah satu pantai yang menghadap ke arah timur pesisir Lampung Selatan dengan ombak landai berhadapan dengan pulau-pulau kecil di wilayah Ketapang.

Pulau Seram Besar dan Seram Kecil terlihat di hadapan Pantai Batu Putih yang sebagian dilengkapi dengan tanggul penahan ombak sekaligus tempat bersantai memandang laut.

Pantai ini dikenal oleh masyarakat karena memiliki ciri khas batu padas berwarna putih di ujung bagian timur sehingga dikenal dengan Pantai Batu Putih.

Lokasi yang tepat berada di dekat kantor Desa Ketapang tersebut bahkan menjadikan pantai batu putih mudah dicapai dengan berbagai moda transportasi darat. Bagi pengunjung yang akan menikmati suasana liburan di Pantai Batu Putih dari Pelabuhan Bakauheni, bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat sekitar 40 menit. Dari kota Kalianda, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu satu jam melintasi jalan lintas Sumatera dan Jalan Lintas Timur Sumatera.

Nursalim, salah satu pemuda Desa Ketapang yang ikut mengelola Pantai Batu Putih saat ramai dikunjungi pada hari libur [Foto: Henk Widi]
Menurut Nursalim, salah satu pemuda di Desa Ketapang, Pantai Batu Putih ramai dikunjungi saat libur panjang. Meski demikian pada perayaan jelang Nyepi yang diawali dengan kegiatan Melasti, ia mengaku, ribuan orang menggunakan pantai Melasti sebagai lokasi untuk upacara penyucian.

Lokasi yang berdekatan dengan tempat ibadah umat Hindu Pura Segara Batu Putih disebutnya membuat pantai tersebut kerap dikunjungi warga dari Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Timur.

“Pantai Batu Putih akan ramai saat libur panjang, hari besar keagamaan, tahun baru serta acara khusus yang menggunakan pantai ini. Namun saat hari biasa hanya warga di dekat wilayah Kecamatan Ketapang yang berkunjung ke pantai ini,” terang Nursalim, salah satu pemuda di Desa Ketapang yang ditemui Cendana News tengah menikmati suasana Pantai Batu Putih Ketapang, Minggu (18/3/2018).

Nursalim menyebut suasana pantai yang tenang dengan ombak yang landai membuat anak-anak  aman bermain. Sekitar tahun 2009 pantai tersebut masih memiliki hamparan pasir putih yang luas, namun selanjutnya pantai tersebut dilengkapi fasilitas tanggul penahan ombak. Selain sebagai penahan ombak tambahan sejumlah lokasi tambat perahu, jalan setapak dengan paving blok, membuat pantai tersebut lebih tertata.

Jalan setapak ratusan meter juga kerap dipergunakan oleh warga untuk olahraga lari saat pagi hari dan sore hari. Tanggul penangkis ombak juga kerap dipergunakan oleh pecinta memancing pada malam hari, mencari ikan sembilang dan berbagai jenis ikan yang kerap ditangkap nelayan setempat.

Selain di jalan setapak tersebut pengunjung bisa menikmati suasana Pantai Batu Putih dari ketinggian yang berada di dekat lokasi Pura Segara Batu Putih.

Perahu tradisional kerap disewakan untuk berkeliling ke Pulau Seram Kecil dan Seram Besar [Foto: Henk Widi]
Sebagai salah satu pantai yang dekat dengan jalan lintas timur, Pantai Batu Putih kerap dikunjungi masyarakat yang sekaligus berniat membeli ikan. Lokasi pantai yang dekat dengan tempat pendaratan ikan nelayan Ketapang membuat pasokan ikan segar mudah diperoleh. Kegiatan bakar ikan di pantai bahkan kerap dilakukan oleh pengunjung yang datang secara rombongan untuk bersantai.

Pengunjung diakuinya tak perlu khawatir, sebab dengan memanfaatkan waktu bersantai di Pantai Batu Putih tak harus membayar tiket masuk. Pemberlakuan tiket masuk disebut Nursalim kerap hanya dilakukan saat hari khusus di antaranya libur panjang dengan kunjungan bisa mencapai ratusan bahkan ribuan orang.

“Saat tahun baru pengunjung bisa ribuan orang sehingga diberlakukan tarif masuk dan dikelola oleh karang taruna untuk pemasukan desa dan biaya kebersihan,” terang Nursalim.

Pantai yang landai tersebut juga dimanfaatkan oleh warga dan anak-anak di wilayah tersebut untuk mencari ikan. Selain mempergunakan peralatan serok dan jaring, sejumlah warga nelayan yang memperoleh ikan sembilang, bandeng dan udang bisa dibeli untuk dibakar di tepi pantai. Peralatan tangkap tradisional sekaligus proses mencari ikan yang dikerjakan nelayan menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung yang mengajak serta anak-anak.

Alfan dan Deni, mencari teripang di sekitar Pantai Batu Putih Ketapang [Foto: Henk Widi]
Alfan dan Deni, anak-anak di sekitar pantai tersebut mengaku, kerap bermain saat libur mencari teripang dan kerang. Pantai yang landai dengan beberapa bagian masih berpasir menjadi lokasi untuk bermain. Ia juga kerap membantu sang ayah yang bekerja sebagai nelayan di pantai tersebut dan mencari ikan dengan alat serok.

Saat libur panjang, selain menikmati suasana pantai, sebagian nelayan bahkan menggunakan kesempatan untuk menyewakan perahu. Perahu tersebut umumnya disewakan untuk berkeliling menikmati suasana Pulau Seram Besar dan Pulau Seram Kecil. Cukup membayar sekitar Rp25 ribu per orang pengunjung bisa menikmati suasana hening pulau yang tak jauh dari Pantai Batu Putih tersebut.

Pantai Batu Putih yang cukup nyaman untuk bersantai tersebut memang terlihat jauh dari keramaian. Kendaraan roda empat harus diparkir di lokasi yang berada di dekat pelelangan ikan dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Pengunjung yang ramai hanya saat hari libur panjang membuat lokasi pantai tersebut jarang ditemui pedagang makanan dan minuman ringan.

Nursalim menganjurkan pengunjung untuk membawa bekal sendiri karena di Pantai Batu Putih tidak ditemui pedagang. Meski demikian suasana yang santai dan hening menjadi lokasi tepat untuk bersantai setelah sepekan bekerja. Selain bisa dipergunakan untuk bersantai, Pantai Batu Putih juga kerap dipilih untuk lokasi swafoto dan tempat menyalurkan hobi fotografi.

Baca Juga
Lihat juga...