Parade Juang dan Aksi Teatrikal Meriahkan Puncak Peringatan Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta

Editor: Irvan Syafari

375

YOGYAKARTA — Parade Juang dan aksi teatrikal melibatkan ribuan peserta dari berbagai elemen kelompok memeriahkan puncak acara peringatan peristiwa bersejarah Serangan Umum 1 Maret, di kawasan Jalan Malioboro dan Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Minggu (04/03/2018).

Selain diikuti unsur TNI mulai dari TNI AL, TNI AU, dan TNI AD, lengkap dengan kendaraan tempur panser Anoa dan Tarantula hingga kavaleri berkuda, parade atau karnaval ini juga diikuti berbagai elemen lain baik Polisi maupun kelompok masyarakat sipil seperti pasukan bregada prajurit dan kelompok kesenian.

Tak hanya dari Yogyakarta saja, para peserta kegiatan yang digelar Yayasan Supersemar bersama Komunitas Djogjakarta 1945, dan Paguyuban Wehrkreise Yogyakarta ini juga berasal dari berbagai kota lain seperti Surabaya, Jakarta, Malang, Medan hingga dari Pulau Kalimantan.

“Parade dan aksi teatrikal ini digelar dengan melibatkan semua pihak untuk menunjukkan semangat persatuan dan kemanunggalan TNI dan rakyat saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada Perang Revolusi tahun 1945-1949,” ujar Panitia Acara dari Komunitas Jogja 45, Chandra Gusta.

Kegiatan pada puncak peringatan Serangan Umum 1 Maret kali ini digelar lebih meriah dari tahun sebelumnya, sebagai upaya menggemakan gaung peristiwa Serangan 6 Jam di Yogyakarta ke tingkat nasional. Sekaligus mendorong ditetapkanya peristiwa Serangan Umum 1 Maret sebagai hari nasional.

Dalam aksi teatrikal itu sendiri digambarkan suasana perjuangan rakyat bersama TNI merebut Yogyakarta, yang saat itu dikuasai tentara Belanda. Reka ulang peristiwa Serangan Umum 1 Maret ini dibuat untuk memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi saat itu.

Ketua Komunitas Djokdjakarta 1945, Eko Isdianto menyatakan cerita dalam aksi teatrikal ini dibuat dengan bersumber pada literasi dan cerita eyang-eyang pejuang yang pernah secara langsung mengikuti Serangan Umum 1 Maret.

“Kita hanya menvisualisaskkan sejarah peristiwa Serangan Umum 1 Maret, sehingga kita tidak boleh berpihak. Semua harus dituangkan sesuai perannya,” katanya.

Suasana aksi teatrikal dan parade juang yang digelar Yayasan Supersemar bersama Komunitas Djogjakarta 1945 dan Paguyuban Wehrkreise Yogyakarta untuk memperingati peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949/Foto: Jatmika H Kusmargana.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono, berharap peringatan peristiwa Serangan Umum 1 Maret ini dapat menumbuhkan semangat kolektif seluruh masyarakat dalam membangun bangsa dan negara Indonesia.

“Semoga semangat persatuan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini akan selalu terjaga dari waktu ke waktu,” ujar dia.

Baca Juga
Lihat juga...