Pedagang Kepiting di Pademangan Mengeluh Sepi Pembeli

Editor: Koko Triarko

633

JAKARTA – Kepiting sebenarnya kaya manfaat, di antaranya meningkatkan kecerdasan, menjaga stamina dan meningkatkan energi. Bahkan, daging kepiting kaya nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Sayangnya, kepiting masih kurang diminati masyarakat.

“Saya sudah cukup lama menjual kepiting Jawa,“ kata Kusno, penjual kepiting, kepada Cendana News, di Pasar Daerah Glodok, Jakarta Barat, beberapa waktu yang lalu.

Menurut Kusno, masih banyak jenis kepiting lainnya seperti kepiting Kalimantan, kepiting Ujung Pandang, dan kepiting Papua yang besar-besar. “Sedangkan kepiting Jawa yang saya jual ukurannya sedang-sedang saja,“ ungkapnya.

Kusno menjadi penjual kepiting belajar dari pamannya yang menjadi penjual kepiting di Pademangan, Jakarta Utara. “Sekarang saya mandiri, usaha sendiri berjualan di sini,“ ujarnya, percaya diri.

Kusno mendapatkan kepiting dari pengepul di Pemalang, Jawa Tengah. “Kepiting dikirim para pengepul pakai bis, saya hanya menjual saja. Harga dari pengepul Rp50 ribu per kilo, saya jual sekitar Rp60-70 per kilonya, “ bebernya.

Namun, saat ini Kusno mengeluhkan hujan besar yang menyebabkan pembelinya berkurang, sehingga masyarakat semakin kurang berminat pada kepiting. “Padahal kepiting sangat bermanfaat, Omega tiganya banyak orang mengatakan menetralisir kadar kolesterol jahat, bahkan daging kepiting berkhasiat mencerdaskan otak. Karena itu, kepiting sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh ibu-ibu hamil dan anak-anak di masa pertumbuhan, “ paparnya.

Kusno menyampaikan, sewaktu perayaan Imlek maupun perayaan Cap Go Meh memang banyak pembeli dan harganya juga naik tinggi. “Saya bisa menjual sampai dua kali lipat sekitar 20 kilo, dari penjualan hari biasanya hanya 10 kilo,“ katanya.

Dari penjualan kepiting, Kusno dapat menafkahi anak-istri. “Alhamdulillah, lumayan hasilnya,“ ucapnya, sumringah.

Harapan Kusno, ingin penjualannya semakin maju dan berkembang, serta harga kepiting stabil, tidak naik-turun tidak menentu yang terjadi akhir-akhir ini.

“Sekarang harganya menurun dan penjualannya berkurang, yang besar harganya Rp200 ribu yang diekspor, dan kalau dijual di dalam negeri Rp120 ribu. Tapi, kalau kepiting telor tidak boleh diekspor,“ tegasnya.

Kusno menyebut, ekspor kepiting biasanya pada bulan sebelas. “Dulu saya pernah ekspor kepiting, tapi karena kalau ekspor butuh modal besar untuk membayar dulu pada pengepul, jadi saya sekarang sudah tidak main ekspor lagi, sekarang saya hanya menjual di lokal saja ke restoran-restoran dan kaki lima,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...