Pedagang Tepi Jalan di Desa Gayam Miliki Pasar Baru

Editor: Koko Triarko

414

LAMPUNG — Bertahun-tahun berjualan di tepi jalan lintas penghubung kecamatan Penengahan, Ketapang, Kalianda, para pedagang di Desa Gayam, kini mulai memiliki pasar baru yang lebih bersih.

Kepala Desa Gayam, Yandi Efendi, mengatakan, pembangunan pasar baru Lappai Khatu sudah dilakukan selama beberapa waktu lalu. Pasar baru Gayam disebutnya baru bisa diresmikan pada Kamis (15/3/2018) atas inisatif desa dan
persatuan pedagang pasar kalangan (P3K) pasar Gayam.

Yandi Efendi, Kepala Desa Gayam. [Foto: Henk Widi]
Menurut Yandi Efendi, berdasarkan sejarahnya pasar desa Gayam merupakan salah satu pasar tertua di Lampung Selatan, nyaris bersamaan dengan pasar Kalianda. Namun, aktivitas pasar yang berada di tepi jalan dan dikenal dengan pasar senggol hanya berlangsung sebatas pukul 05.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB sejak tahun 1980-an.

“Sejak saya kecil hingga kini saya menjadi kepala desa upaya memenuhi harapan masyarakat untuk bisa memiliki pasar yang luas dan bisa menjadi lokasi berjualan bisa direalisasikan untuk kegiatan berdagang,” terang Yandi Efendi, saat menghadiri peresmian pasar baru Lappai Khatu, Kamis (15/3/2018).

Kehadiran pasar baru Lappai Khatu merupakan harapan dari persatuan pedagang pasar kalangan untuk pertemuan pedagang dan pembeli. Selama ini, kesan kumuh, negatif atas keberadaan pasar Gayam yang berada di tepi jalan tersebut membuat pedagang dari wilayah lain enggan berjualan di pasar Gayam.

Kehadiran pasar baru Lappai Khatu disebut Yandi Efendi sementara waktu dibangun dengan ukuran 50 meter x 18 meter. Dibangun atas inisiatif persatuan pedagang pasar kalangan (P3K) pasar Gayam, masih berupa hamparan, lapak.

Ke depan, ia berharap tempat usaha berupa rumah dan toko bisa bertambah seiring dengan inisatif masyarakat yang memiliki lahan di dekat pasar tradisional tersebut.

Meski berada di lokasi yang dekat persawahan, namun akses yang mudah membuat jalan tersebut mudah dicapai. “Pada tahap awal, lokasi yang sudah disediakan pasar dibangun untuk pedagang pakaian,makanan pokok hingga sayuran dengan sistem lapak dan hamparan,” beber Yandi Efendi.

Pasar tradisional yang merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli, kata Yandi Efendi, dibangun sementara berupa los, dasaran dan akan dikelola oleh pemerintah desa.

Keberadaan pasar tradisional disebutnya sekaligus upaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga desa dan memfasilitasi para pedagang di wilayah tersebut.

Di tempat yang sama, saat peresmian pasar tradisional Lapai Khatu Hermizi, Staf Ahli Bupati bidang ekonomi pembangunan mewakili Bupati Lampung Selatan, Zainudin Hasan, mengapresiasi pembangunan pasar tradisional di desa tersebut.

Menurutnya, keberadaan pasar tradisional akan meningkatkan perekonomian masyarakat yang bisa menjual hasil bumi masyarakat yang ada di wilayah tersebut. “Pada saat daerah lain berlomba-lomba membangun pasar modern, desa ini justru membuat pasar tradisional yang diharapkan bisa menjadi lokasi jual beli,” terang Hermizi.

Hermizi mengapresiasi keberadaan pasar tradisional yang diharapkan oleh warga sejak 1980. Perkembangan zaman membuat warga yang berjualan di tepi jalan berjumlah sekitar ratusan pedagang sudah tidak tertampung, sehingga harus mendapatkan tempat yang baru. Kehadiran pasar baru tersebut diakuinya sekaligus menjadi tempat bagi pedagang yang selama ini sudah kerap berjualan di tepi jalan.

Hermizi juga menyebut, keberadaan pasar tradisional menjadi sebuah kesempatan bagi warga yang selama ini bisa memberi kemandirian dan menjadikan Desa Gayam sebagai lokasi berjualan.

Selain bagi warga, kehadiran pasar tradisional tersebut merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan asli desa dari sektor perdagangan. Selama ini, keberadaan pasar tradisional ikut membantu masyarakat dalam transaksi jual beli dan membantu perputaran uang dari sektor perdagangan.

Baca Juga
Lihat juga...