Pemberontak Mali Rilis Video Kondisi Sandera Prancis

226
Ilustrasi wilayah Mali - Foto : Istimewa

ABIDJAN – Kelompok jaringan Al Qaida di Mali telah merilis video kondisi terakhir pekerja bantuan Prancis Sophie Petronin, yang diculik pada akhir 2016.

Petronin yang tengah menjalankan kegiatan amal untuk anak-anak yang kekurangan gizi dan anak yatim piatu telah tinggal di kota Gao, di timur laut Mali yang bergejolak, selama 15 tahun. Sebelum akhirnya diculik dan dibawa pergi dengan mobil truk oleh kelompok tersebut.

Video propaganda tersebut dikeluarkan Kamis (1/3/2018) malam oleh Jama’ah Nusrat ul-Islam wa al-Muslimin (JNIM). Kelompok tersebut telah dikaitkan dengan penculikan terhadap setidaknya enam sandera Barat yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di Mali.

Di dalam video tersebut menunjukkan cuplikan gambar kondisi Petronin (72), yang sedang berbaring di sebuah dipan di dalam sebuah tenda. Tampak, Petronin tergeletak di antara kotak obat-obatan. Tidak jelas kapan rekaman Petronin diambil. Video tersebut dengan latar belakar suara Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengatakan “Saya akan melindungimu” diputar berulang-ulang di Prancis.

Keponakan Petronin, Arnaud Granouillac mengatakan, kesehatan bibinya tampak memburuk sejak gambar terakhirnya dirilis pada musim panas lalu. Granouillac menuduh pemerintah Prancis telah mengabaikan keluarga tersebut.

“Dia kelelahan. Pada hari sejak ia diculik, kami berusaha sendiri. Saya harap Presiden Emmanuel Macron melihat video ini dan menyadari bahwa kita harus membawa bibi saya keluar dari sana,” ujar Granouillac.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis Agnes von der Muhll mengatakan, sangat penting untuk tetap berhati-hati dalam keadaan tersebut. Lembaga-lembaga Prancis sepenuhnya telah dikerahkan dan terus menjalin kontak dengan keluarga tersebut.

Beberapa jam setelah video tersebut dirilis, orang-orang bersenjata menyerang markas tentara di ibu kota Burkina Faso, serta kedutaan Prancis dan pusat kota. Prancis memiliki pasukan khusus yang memerangi pemberontak di Sahel yang berbasis di Burkina Faso.

Warga sipil Prancis telah lama menjadi sasaran utama penculikan oleh kelompok kriminal dan pemberontak di wilayah Afrika Barat yang gersang tersebut. Sebagian karena ada anggapan bahwa pemerintah Prancis siap membayar uang tebusan untuk menjamin pembebasan mereka.

Sejak adanya intervensi militer Prancis pada 2013, kelompok-kelompok jaringan Al Qaida, yang sempat menguasai kota-kota di Mali utara dan para pemberontak Islamis telah berulang kali menyatakan warga negara Prancis di Afrika Barat sebagai sasaran.

Serangan oleh pemberontak terus meningkat di Sahel meskipun di Mali terdapat pasukan PBB yang beranggotakan 13.000 orang. Bahkan serangan juga meningkat walaupun ada peningkatan keterlibatan militer Prancis serta Amerika Serikat. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...