Pemilik Usaha Dukung Penanaman Kayu Produksi Berbasis Hutan Masyarakat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

569

LAMPUNG — Potensi lahan yang luas di wilayah kabupaten Lampung Selatan dimanfaatkan oleh warga untuk melakukan penanaman berbagai jenis tanaman kayu produksi sekaligus investasi jangka menengah.

Giyono (40) salah satu pemilik kebun seluas satu hektare lahan menyebut memanfaatkan potensi tersebut untuk budidaya. Semula lahan yang hanya ditumbuhi ilalang dan semak belukar dan dimanfaatkan sebagai lokasi menanam sebanyak 500 batang pohon sengon.

Selain sebagai penghijauan, penanaman kayu produksi jenis sengon memberi penghasilan tambahan setiap enam tahun sekali. Kawasan yang sebelumnya gersang dan kerap mengalami kesulitan air bersih ikut terbantu dengan adanya ratusan tanaman kayu sengon dan jenis tanaman lain.

“Pada satu deret khusus saya gunakan untuk menanam kayu sengon namun di sela sela tanaman tersebut masih bisa ditanami berbagai jenis tanaman bernilai ekonomi dari buahnya,” terang Giyono salah satu petani penanam kayu sengon di desa Klaten saat ditemui Cendana News, Rabu (21/3/2018)

Penanaman kayu sengon disebut Giyono memiliki nilai ekonomis tinggi dengan harga jual Rp1,8 juta per kubik dengan perolehan sekitar 50 kubik. Saat panen dirinya bisa menghasilkan Rp90 juta.

Giyono
Giyono, salah satu pemilik satu hektar tanaman kayu sengon dan berbagai jenis tanaman kayu lain [Foto: Henk Widi]
Ia menyebutkan, selain mendapatkan nilai ekonomis pemanfaatan lahan untuk menanam sengon ikut membantu reboisasi di kawasan tersebut. Terlebih sebutnya, sebagian wilayah yang ditempatinya berada di lahan miring yang berpotensi tergerus air dan mengakibatkan longsor.

Pada beberapa kawasan di daerah aliran sungai Way Pisang Giyono menyebut lahan sudah beralih fungsi menjadi kebun jagung. Imbasnya longsor yang menggerus tanah membuat beberapa bagian lahan tersisa tanah padas yang tidak bisa dimanfaatkan.

Upaya reboisasi dilakukan oleh Giyono dengan menggunakan tanaman jati putih atau gamalina dan sengon yang bisa tumbuh di lahan tanah padas.

Pemanfaatan lahan untuk penanaman kayu produksi bahan bangunan juga didorong oleh Syarufudin (38) salah satu pemilik usaha pembuatan perabotan rumah tangga.

Sebagian kayu untuk pembuatan lemari, meja, kursi disebutnya dominan merupakan kayu produksi hasil budidaya. Berbagai kayu kelas yang kini hanya ditemui di kawasan hutan lindung sudah sulit ditemui karena kawasan tersebut tidak boleh dimanfaatkan.

“Sebagian warga sengaja memanfaatkan kayu produksi hasil budidaya untuk bahan bangunan sehingga bisa menghemat pengeluaran,” beber Syarifudin.

Syarifudin juga menyebut tidak menerima bahan kayu yang bermasalah terutama diperoleh dari kawasan hutan lindung. Sebagian bahan kayu untuk bangunan yang dijual kepadanya serta digunakan untuk membuat perabotan dominan merupakan tanaman yang dibudidayakan warga dan berbasis hutan masyarakat. Selain bisa diketahui asal usulnya penggunaan kayu legal disebutnya tidak akan menyalahi aturan.

Pemanfaatan kayu produksi hasil tanaman masyarakat juga didorong oleh Hendra (40) salah pemilik usaha pengetaman kayu atau panglong di desa Pasuruan. Hendra menyebut kemudahan memperoleh bibit dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) mendukung penghijaun dan penanaman kayu produksi.

Bibit tanaman tersebut diperoleh secara gratis dari Persemaian Permanen Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Sekampung Way Seputih (BPDASWSS).

Sebagai pemilik usaha pengetaman kayu Hendra bahkan menyewa lahan selama tiga puluh tahun seluas sepuluh hektar untuk ditanami kayu jati ambon dan sengon.

Selain memanfaatkan lahan tak terpakai selama proses penanaman dua jenis pohon tersebut lahan masih bisa ditanami jagung.

“Pohon jabon dan sengon bisa dipanen setelah enam tahun dan tanaman jagung empat bulan panen sehingga bisa memperoleh nilai ekonomis berlipat,” beber Hendra.

Baca Juga
Lihat juga...