Pengamat: Keberhasilan SO 1 Maret Pengaruhi Dunia Internasional

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

362

YOGYAKARTA — Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Evi Fitriani menyebutkan, peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949 berhasil memperkuat upaya diplomasi pemerintah RI di forum internasional. Termasuk juga mengubah sikap Amerika Serikat sebagai negara pemenang PD II, yang berbalik menekan Belanda dan justru mendukung pemerintah Indonesia.

Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam Seminar Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 bertema Implementasi Nilai-nilai Patriotisme SO 1 Maret Untuk Kejayaan Indonesia, bertempat di Moseun Benteng Vredeburg Yogyakarta, Kamis (1/3/2018).

“Saat itu Indonesia menghadapi sejumlah situasi, di antaranya perang dingin antara AS dan Soviet, kembalinya negara penjajah di Asia Tenggara pasca PD II, serta belum menyatunya sejumlah konstituen di tingkat nasional karena Indonesia baru saja merdeka,” ujarnya.

Kepala Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia tahun 2015-2016 itu mengatakan, pada kurun waktu 1945-1949, pemerintah Indonesia mengemban tugas cukup berat di antaranya mempertahankan kemerdekaan, mendapatkan pengakuan negara-negara besar yang mengatur dunia pasca PD II, serta memperluas dukungan dari negara lain di kawasan Asia Afrika.

“Berdasarkan teori diplomasi, negara yang ingin mendapat pengakuan, membutuhkan strategi diplomasi. Selain itu juga membutuhkan adanya kekuatan militer, guna mempertahankan tanah air mereka,” katanya.

Sejumlah kondisi dan situasi tersebut, baik di tingkat nasional maupun internasional, dikatakan Evi turut memengaruhi keberhasilan SO 1 Maret, dalam mengembalikan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Terlebih saat itu Belanda dalam kondisi tekanan dan sulit karena ditentang dunia internasional, setelah melangar perjanjian dengan Indonesia.

“Negara barat justru berpihak pada Indonesia, dan bukan pada Belanda, karena mereka takut Indonesia akan jatuh ke tangan komunis. Mereka tidak mau hal itu terjadi. Apalagi SO 1 Maret telah mengirimkan pesan pada negara barat termasuk Amerika, bahwa Belanda ternyata tidak mampu menguasai dan mengatasi perlawanan Indonesia,” katanya.

Melihat relevansi peristiwa SO 1 Maret 1949 dengan kondisi bangsa dan negara saat ini, Evi, menilai seluruh elemen masyarakat mestinya harus mencontoh semangat nasionalisme yang ditunjukkan para pendahulu yang pantang menyerah dalam membela negara. Dimana meski dalam kondisi baru saja merdeka, namun tetap mampu bersatu dan melawan penjajah.

“Walau saat itu Indonesia masih miskin dan lemah, karena baru saja merdeka, namun semangat nasionalisme yang ditunjukkan begitu luar biasa. Tidak menyerah meski harus menghadapi negara kuat. Dengan kondisi yang jauh lebih bagus saat ini, mestinya kita memiliki semangat lebih untuk membela negara. Jangan mau diobrak-abrik,” katanya.

nur johan
Penulis buku, Noor Johan Nuh menyerahkan buku serial Pak Harto Sang Patriot karyanya berjudul Opsir Kopping pada Danramil Sedayu Bantul, kapten Kusmin – Foto: Ist

Tak hanya itu saja, Evi juga mempertanyakan rasa persatuan dan nasionalisme yang dimiliki rakyat Indonesia saat ini. Yang justru seolah semakin lemah, tidak seperti saat Indonesia baru saja merdeka.

“Saat itu Indonesia baru saja merdeka, seluruh elemen bangsa belum sepenuhnya bersatu, tapi TNI dan rakyat mampu solid melawan penjajah. Sekarang kita sudah merdeka dan bersatu, tapi kenapa justru terpecah-pecah, bahkan ada yang ingin mengubah dasar negara,” ujarnya.

Baca Juga
Lihat juga...