Pengiriman 28 Kepiting Bertelur ke Medan Berhasil Digagalkan

Editor: Irvan Syafari

344

PADANG — Balai Karantina Ikan Padang, Sumatera Barat, berhasil menggagalkan 28 ekor kepiting bertelur, yang akan masuk melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Kepala Balai Karantina Ikan Padang, Rudi Baramara mengatakan kepiting bertelur itu direncanakan akan dibawa ke Medan, Sumatera Utara.

Kepiting yang diamankan itu jenis kepiting bakau (Scylla Serrata). Pengiriman kepiting itu merupakan adanya permintaan pengusaha di Medan, sebanyak 50 kepiting.

Ia menyebutkan, sesuai aturan, pihak Balai Karantina Ikan akan melakukan periksaan terlebih dulu, sebelum dilakukannya pengiriman ikan atau sejenisnya.

“Nah pada saat diperiksa, ternyata ada 28 ekor kepiting yang bertelur. Itu yang kita amankan, sedangkan yang 22 ekornya lagi layak kirim,” ungkapnya, Rabu (21/3/2018).

Menurutnya, pengamanan 28 kepiting bakau itu dilakukan pukul 08.25 WIB pagi tadi di BIM. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 56 Tahun 2016 tentang larangan penangkapan dan/atau pengeluaran lobster, kepiting, dan rajungan, tidak dibenarkan lagi menangkap dan mengirim kepiting dengan berat di bawah 200 gram. Begitu pula untuk kepiting yang sedang bertelur.

Alasan dilarangnya penjualan kepiting bertelur, karena keberlangsungan kepiting perlu untuk dijaga. Penjelasannya, jika dalam sekali bertelur, kepiting bisa 500 ribu anaknya.

“Bayangkan kalau yang bertelur itu kita konsumsi terus, bisa-bisa habis juga,” katanya.

Rudi menjelaskan, dengan adanya keberhasilan Balai Karantina Ikan menggagalkan, nanti akan pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap pengusaha yang mengirim kepiting tersebut. Hal ini dikarenakan, yang bersangkutan tercatat baru pertama kali mengirim kepiting.

“Kepiting itu beratnya beragam, mulai dari 1 kilogram untuk satu ekor kepiting, sampai untuk tiga ekor dengan berat 1 kilogram,” paparnya.

Rudi memaparkan, berdasarkan keterangan dari pengirim, kepiting itu didapatkan melalui dikumpulkan dari nelayan yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan.

“Jadi kepiting ini didapatkan oleh pengusaha itu dengan harga murah. Persoalan tidak diperbolehkannya memperjual belikan kepiting bertelur, ternyata belum diketahui tahu yang bersangkutan,” tegasnya.

Untuk itu, Balai Karantina Ikan mengimbau agar keberadaan kepiting di alam tetap terjaga, masyarakat khususnya nelayan diminta tidak lagi menangkap kepiting yang kecil.

“Kepiting tidak dilarang untuk ditangkap dan dijual, namun harus taat aturan yakni beratnya di atas 200 gram, serta tak sedang bertelur,” ucapnya.

Dikembalikan ke Habitatnya

Setelah diamankannya 28 ekor kepiting bertelur oleh Balai Karantina Ikan Padang, Sumatera Barat. Puluhan kepiting itu, kembali melepas kepiting bertelur tersebut ke habitatnya.

Kepiting itu, dilepaskan di kawasan mangrove, Pasir Jambak, Kota Padang. Pelepasan pun dilakukan langsung oleh Kepala Balai Karantina Ikan Padang, Rudi Baramara bersama Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Padang, Muhamad Yusuf, serta nelayan kepiting di Pasir Jambak.

Di hadapan masyarakat, Rudi meminta kepada masyarakat agar tidak menangkap atau menjual kepiting yang sedang bertelur.

Balai Karantina Ikan Padang berharap kepada masyarakat untuk tidak lagi menangkap kepiting bertelur. Rudi menyarankan masyarakat untuk membiarkan para kepiting bertelur itu untuk berkembang biak.

“Kalau jumlahnya di alam tambah banyak, yang untung juga nelayan. Jadi perkembangan biakan perlu dijaga juga,” tegasnya.

Baca Juga
Lihat juga...