hut

Peran Penting Soeharto, Soedirman, dan Sultan dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949

Oleh Eko Ismadi*

Eko Ismadi -Foto: Ist.

Ketika penulis masih berusia Sekolah Menengah Atas di Surakarta, pada kisaran awal tahun 1980-an, saya berkesempatan berjumpa Presiden Soeharto di nDalem Kalitan. Saat itu, Pak Harto bercerita dengan gamblang sekelumit kisah situasi menjelang hingga terjadinya Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Jauh sebelum serangan 1 Maret 1949, Pak Harto menghadap Jenderal Soedirman dan menyampaikan, “Pak, Saya ingin menyerang Belanda di Yogyakarta.”

“Iya, silahkan. Kalau kamu sukses, maka kamu akan jadi orang. Tapi, kalau gagal, saya tidak ingin melihat orang yang menanggung malu, ada di hadapan saya,” begitulah jawaban Jenderal Soedirman kepada Soeharto. Singkat, padat, tapi sangat tandas. Dalam penuturan Pak Harto saat itu, sesudah mendapat restu yang tandas dari Jenderal Soedirman, Pak Harto bertemu dengan Sultan HB IX, di Keraton Yogyakarta.

Saat itu, Yogyakarta sebagai ibukota negara Republik Indonesia sejak 4 Januari 1946, memiliki peran yang sangat strategis dalam proses perjuangan Bangsa Indonesia. Ketika Soekarno memindahkan Ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta, ia memliki taktik dan strategi yang matang. Ada tiga pemikiran Soekarno yang berkaitan dengan Taktik dan Strategi. Pertama, yaitu penunjukan Sultan HB IX sebagai Menteri Negara bidang Pertahanan. Kedua, di tengah masa revolusi yang carut marut, Soekarno tidak memperbolehkan ada markas dan organisasi TNI yang jelas, agar tentara Belanda sulit mendeteksi kekuatan pertahanan RI yang dilakukan dengan cara gerilya.

Soekarno pernah mengatakan, ”Kalau TNI punya markas dan organisasi yang jelas, justru akan mudah dihancurkan Belanda. Bagaimanapun, Sultan memiliki kerjasama dengan Belanda. Kalau Sultan yang mengatur pasukan, maka, Belanda akan berhadapan dengan Sultan. Itu artinya, Belanda sama saja tidak menghargai Kepemimpinan Raja. Jika Ibu Kota Republik Indonesia masih di Jakarta, Indonesia dalam sekejap akan dapat dhancurkan. Jika pindah ke Yogyakarta, kita masih memiliki Simbol Indonesia, karena Belanda tidak akan menghancurkan Keraton. Paham?!”.

Peran Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949

Saat itu, Jenderal Soedirman menunjuk Soeharto sebagai Komandan Pasukan Keamanan Ibu Kota Yogyakarta. Pertimbangannya, Soeharto merupakan putera kelahiran Yogyakarta, sehingga lebih mengetahui wilayah Yogyakarta dan memiliki pergaulan dengan masyarakat Yogyakarta. Sebagai putra asli Yogyakarta, ketika Soeharto mengemban tugas dan memberi perlawanan kepada Belanda, tidak akan mengalami kesulitan berkomunikasi dalam membangun kerjasama dengan rakyat.

Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, fakta dan data sejarah menunjukkan, Soeharto sebagai pemimpin pasukan yang menyerang Yogyakarta dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Demikian pula dalam proses inisiatif dan keputusan menyerang, Soeharto ikut terlibat secara langsung. Pada kenyataannya, dalam perintah siasat memang menyebut untuk melakukan penyerangan terhadap Yogyakarta. Perintah siasat ini berlaku untuk semua komandan pasukan, termasuk Komandan Pasukan Kemanan Ibukota bernama Letkol Soeharto.

Korelasi peristiwa sejarah terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949, dilakukan oleh pasukan yang berkedudukan atau memiliki posisi dekat dengan Yogyakarta. Pasukan penyerang yang dipimpin Soeharto daalam wilayah itu, adalah wilayah tugas Soeharto, bukan orang lain. Di hadapkan dengan kebijaksanaan Belanda pada masa itu, masing masing wilayah akan menjadi daerah perang, sehingga harus bertempur dengan pasukan Belanda. Antara lain daerah Temanggung, Banyumas, Magelang, Purworejo, Klaten, serta Solo. Bagaimana mungkin ada konsep Serangan Umum 1 Maret yang dipersiapkan rapi? Ini sesuatu yang tidak mungkin. Bagi saya, kalau ada yang menulis peristiwa Serangan Umum 1 Maret dipersiapkan dalam hubungan pasukan dan dukungan logistik, itu terlalu mengarang cerita atau fiksi. Karena tidak sesuai dengan kondisi saat itu.

Jika hendak membahas pemrakarsa Serangan Umum 1 Maret 1949, silahkan saja tidak ada persoalan. Tetapi, jangan kemudian dihubungkan atau dikaitkan dengan mendeskreditkan Soeharto dan mengecilkan arti Peristiwa Serangan dalam peristiwa Sejarah. Sebab, yang diperlukan oleh bangsa indonesia adalah pemahaman sejarah yang benar. Ketika Serangan Umum terjadi, ada Kepala Staf TNI AD Bapak Oerip Soemohardjo, Panglima Jenderal Soedirman. Semua tidak ada yang merasa dikecilkan dengan adanya peristiwa ini. Demikian juga Soekarno juga tidak merasa popularitasnya terlampaui, atau dikalahkan oleh Soeharto dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret.

Serangan 1 Maret 1949 yang bertujuan menyerang kekuasaan Belanda di Yogyakarta, sebagai Ibu Kota Republik Indonesia, inisiatif dan perencanaannya muncul setelah kota Yogyakarta ditinggalkan TNI akibat Agresi Militer II Belanda, disertai dengan provokasi Belanda kepada dunia Internasional bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Namun, saat itu, sekalipun TNI tidak ada di Yogyakarta, kekuatan TNI tetap ada, dan perlawanan tetap ada. Pengendalian pasukan TNI juga ada dari luar kota Yogyakarta. Serangan Umum 1 Maret 1949 dilakukan, guna menampik berbagai upaya untuk menentang provokasi Belanda, serta membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada. Ini membuktikan bahwa TNI masih mampu memberikan perlawanan. Buktinya, ketika serangan umum dilakukan, PBB dan Amerika memberikan perhatian penuh, lalu bersedia berpartisipasi membantu perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kedaulatan.

Dalam serangan 1 Maret 1949 tersebut, pasukan TNI dalam serangan ini adalah pasukan yang tergabung dalam Brigade 10 yang bertugas sebagai pengaman Ibu Kota dan memiliki wilayah tanggung jawab Wehrkreise III. Pemimpin pasukannya adalah Letkol Soeharto yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia menggantikan Soekarno. Saat itu, kedudukan pasukan dibagi menjadi empat sektor. Wilayah Tugas di sektor Barat dipimpin oleh Mayor Ventje Sumual, Selatan dan Timur oleh Mayor Sarjono, sedangkan di wilayah sektor kota dipimpin dua orang, yakni Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki. Sebagai pemimpin serangan adalah Letnan Kolonel Soeharto.

Serangan Umum 1 Maret 1949 sangat sukses, karena pasukan yang dipimpin Soeharto dapat menduduki kota Yogyakarata selama 6 Jam. Meskipun pendudukan atas kota Yogyakarta berlangsung selama 6 jam saja oleh TNI, tapi memiliki arti penting bagi perjuangan bangsa Indonesia. Karena, peristiwa ini dapat dijadikan sebagai dukungan terhadap usaha diplomasi yang telah dilakukan. Yang tidak kalah penting, serangan ini mampu meningkatkan moral rakyat dan semangat juang TNI. Dari aspek Internasional, peristiwa ini dapat menunjukkan pada dunia, bahwa TNI dengan mudah dapat menduduki kota Yogyakarta yang sebelumnya dikuasai Belanda. Karena dipandang akan terjadi perlawanan berlarut dan Indonesia tidak mudah ditaklukkan, maka PBB dan Amerika memandang perlu untuk mediasi proses penyelesaian konflik.

Dari bukti yang ada, pertempuran di dalam kota Yogyakarta hanya berlangsung paling lambat hingga sekitar pukul 11.00, karena pada saat itu bantuan tentara Belanda dari Magelang telah tiba di Yogyakarta. Film yang dibuat mengenai serangan 1 Maret 1949 berjudul “6 jam di Yogya”, masih mendapat masukan dari beberapa perwira di jajaran atas, sehingga jalan ceriteranya cukup otentik. Menurut beberapa saksi, serangan dimulai tepat pukul 06.00, berlangsung sekitar enam jam, berakhir pukul 12.00. Berhentinya pendudukan dan pengunduran Pasukan TNI dari Yogyakarta, bukan atas perintah siapa pun, melainkan karena datangnya bantuan pasukan Belanda yang sudah mendekati Yogyakarta. Saat itu, bantuan tentara Belanda dari kota Magelang, Semarang, Solo, serta dukungan logistik dan paramedis yang diperlukan untuk suatu operasi militer besar-besaran, telah meluncur ke Yogyakarta.

Peranan Sultan dalam Serangan Umum 1 Maret dan Kedekatan dengan Soeharto

Secara pribadi, saya sempat bertemu dengan Tokoh dan Saksi Sejarah Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, bernama Mayor Komarudin. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu mengatakan kepada saya,

Pak Harto itu orang yang dekat dengan Sultan. Sebelum dan sesudah serangan selalu bertemu Sultan, Nak Eko. Pak Harto yang memimpin pasukan dan tanda pasukan dengan menggunakan janur kuning. Saya Komandan Kompi, salah menghitung hari, sehingga saya melakukan serangan sebelum waktu yang ditentukan. Pak Harto yang ditunjuk Sultan dan memimpin Pasukan untuk menyerang.”

Bagi saya, Serangan Umum 1 Maret 1949 ini bukan dari ide seorang saja, melainkan dua orang, yaitu Soeharto dan Sultan HB IX. Setelah perintah dikeluarkan perlu direalisasikan, yang paling mungkin merealisasikan adalah Soeharto. Sementara, Sultan HB IX akrab dengan Belanda. Sehingga, yang paling memungkinkan untuk menyerang adalah Soeharto dengan jabatan serta kedudukannya.

Dalam berbagai tulisan pelaku sejarah dan saksi menyebutkan, ada perintah siasat dan hierarki kepemimpinan dalam organisasi tugas TNI dan organisasi tempurnya. Bahkan terkesan aneh lagi, ada yang menyebut adanya bantuan logistik dan susunan pasukan cadangan dalam peristiwa serangan Umum 1 Maret 1949. Hal ini terkesan mengada-ada, mengingat kondisi TNI pada tahun 1949 tidak mungkin bisa bekerja seperti itu. Fakta sejarah dan penjelasan beberapa saksi, menyebut adanya peranan Sultan HB IX dalam penyerangan 1 Maret. Hal ini dapat diterima dan dapat dibuktikan dengan analisa sejarah, mengingat peranan Sultan HB IX sebagai Raja Jogyakarta, Perwakilan Pemerintah di Yogyakarta, serta Sebagai Menteri Negara bidang Pertahanan.

Saat itu, menjelang momentum 1 Maret 1949, Soeharto dan sultan HB IX, diketahui sangat rajin mendengarkan siaran radio luar negeri. Maka, sangat dimungkinkan, akibat sering terjadi dialog antara keduanya, kemudian memunculkan gagasan untuk segera mengadakan serangan ke Yogyakarta, sejalan dengan Surat Perintah Siasat No. 4 dari Panglima Sudirman, yaitu menyerang kedudukan Belanda di Yogyakarta. Dihadapkan dengan status Sultan HB IX, maka dapat dibenarkan, Soeharto sebelum serangan umum dimulai, ada pertemuan antara Sultan HB IX dan Letkol Soeharto. Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Koran kedaulatan Rakyat, Sultan HB IX menjelaskan, ia diajak pertimbangan soal serangan 1 Maret, dan Letkol Soeharto pun meminta nasehat. Ketika terjadi serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap Yogyakarta, peristiwa tersebut terkenal dan dikenang oleh seluruh rakyat indonesia hingga sekarang ini.

Penjelasan Marsudi pun sesuai dengan apa yang ditulis oleh Sultan HB IX. Penjelasan Presiden Soeharto sejalan dengan yang disampaikan Sultan HB IX dalam buku biografi Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, di mana dikutip, “Sulit untuk menghubungi Jenderal Soedirman sebagai komandan Gerilya… Tetapi saya kemudian dapat mendatangkan komandan gerilya, Letkol Soeharto. Dalam pertemuan di rumah kakaknya, GBPH Prabuningrat, di kompleks Keraton sekitar 13 Februari 1949, ia menanyakan kesanggupan Soeharto untuk menyiapkan suatu serangan umum dalam waktu dua minggu….Kontak-kontak selanjutnya dilakukan dengan perantaraan kurir. …Melalui kurir pula, ia memberitahu Soeharto pada sore hari 1 Maret 1949 bahwa “pendudukan Yogya, sudah cukup diduduki oleh pasukan gerilya dianggapnya pasukan di Yogya saja.”

Dalam seminar tentang Peranan Wehrkreise III Pada Masa Perang Kemerdekaan II 1948-1949 di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional atau Jarahnitra Yogyakarta, Seorang tokoh dan pelaku sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 yang bernama Marsoedi mengemukakan, ”Letkol Soeharto bertemu dengan Sultan HB IX. Saya sendiri yang menjadi penghubungnya. Pertemuan itu terjadi, pada 14 Februari 1949. Letkol Soeharto diantar masuk ke Keraton Yogyakarta melalui nDalem Purbaya, dan kemudian bertemu empat mata dengan Sri Sultan HB IX di kediaman GBPH Prabuningrat, saudara Sri Sultan yang juga menjadi tangan kanan HB IX.”

Kemudian, Marsudi menjelaskan, ”Pertemuan itu berlangsung dalam suasana gelap, karena seluruh lampu dimatikan. Saat menghadap Sri Sultan, Soeharto mengenakan busana peranakan, jenis baju tradisional khusus bagi abdi dalem Kraton Yogyakarta.” Setelah pertemuan selesai, Letkol Soeharto mengatakan dengan kalimat pendek. “Tunggu perintah lebih lanjut,” kata Marsoedi menirukan ucapan Soeharto waktu itu.

Bagi saya, istilah Serangan Umum sudah termasuk dalam perintah Siasat. Kita paham, yang mewujudkan perintah Siasat tersebut adalah Soeharto. Yang lebih penting adalah menunjuk Soeharto sebagai komandan pasukan penyerang dan menentukan hanya pasukan dari Yogyakarta saja. Namun, berdasarkan penjelasan Sultan HB IX, kita jadi mengerti, wewenang HB IX sangat besar, yaitu selain menetapkan tanggal penyerangan, hanya melalui kurir pada sore hari tanggal 1 Maret 1949, ia memberi instruksi kepada Soeharto agar serangan tersebut dihentikan, seperti dituliskan: … Melalui kurir pula ia memberitahu Soeharto pada sore hari 1 Maret bahwa “pendudukan Yogya” oleh pasukan gerilya dianggapnya sudah cukup.

Peran Jenderal Soedirman dalam Gerilya dan Serangan Oemoem Satu Maret

Ketika Belanda menyerang Yogyakarta, lalu menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, bahkan kemudian terbentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Bukittinggi, telah menjadikan Kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota RI sempat lumpuh dan melemahkan semangat perjuangan Bangsa Indonesia. Saat itu, Jenderal Soedirman tidak sepakat dengan pendirian Soekarno yang menempuh jalur diplomatis, namun akhirnya ditangkap. Penyerangan yang dilakukan Belanda pada masa Agresi Militer Belanda II ini, sempat membuat TNI terusir dari Kota Yogyakarta. Bahkan, Belanda sempat menyatakan, Negara Indonesia sudah tidak lagi memiliki kemampuan menghadapi Belanda.

Dengan inisiatif pribadi, Jenderal Soedirman memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda, memilih bergerilya bersama Prajurit TNI. Kepemimpinan Jenderal Soedirman ini, juga memiliki pengaruh yang besar, sebagaimana besarnya peran Soekarno, Sultan HB IX, serta Bung Hatta. Suara Jenderal Soedirman didengar Prajurit TNI, sehingga Belanda menganggap Soedriman sebagai ancaman bagi Belanda. Hingga saat ini, berbagai perjuangan Jenderal Soedirman telah menjadi suri tauladan bagi seluruh bangsa Indonesia dan generasi penerusnya. Itulah mengapa Belanda berusaha untuk membunuh Jenderal Sudirman dan mematahkan perjuangannya.

Peranan jenderal Soedirman, dapat dikorelasikan dari penjelasan Bapak Marsudi yang mengungkapkan, ”Sebelum bertemu Soeharto, Sri Sultan pada 1 Februari berkirim surat kepada Panglima Besar Soedirman dan kemudian dijawab oleh Soedirman agar menghubungi Letkol Soeharto di Blibis.”

Menurut Presiden Soeharto ketika saya bertemu di Kalitan, setelah kembali dari Serangan Umum, Pak Harto menghadap Jenderal Soedirman, disaksikan oleh Soepardjo Rustam, ajudan dari TNI AD. Soeharto mengatakan, ”Pak ….. Serangan Sudah dilaksanakan.” Menurut Pak Harto, ”Beliau hanya diam saja … tidak menjawab. Akhirnya, saya kembali ke markas.”

Penjelasan tersebut diamini oleh Komarudin, yang salah hitung hari. Penjelasan Presiden Soeharto sejalan dengan yang disampaikan Sultan HB IX dalam buku biografi beliau yang berjudul biografi Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, di mana dikutip: “Waktu telah mendesak, ketika itu telah pertengahan Februari. Segera ia mengirim kurir untuk menghubungi Jenderal Soedirman di persembunyiannya, meminta persetujuannya untuk melaksanakan siasatnya dan untuk langsung menghubungi komandan gerilya…”

Berdasarkan dua fakta di atas, sebenarnya, kedua pejabat negara tersebut adalah seorang profesional sejati di masanya. Saling menghargai dan tenggang rasa daalam melaksanakan komunikasi kerja dengan benar. Ini terbukti, ketika setelah perang gerilya selesai, Jenderal Soedirman kembali ke Yogyakarta. Hubungan antara ketiganya juga tidak bermasalah dan saling mencurigai.

SERANGAN OEMOEM 1 MARET 1949 DALAM NASIONALISME INDONESIA

Bagi penulis, peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949 terhadap Yogyakarta ini merupakan wujud pelaksanaan dari perintah Jenderal Soedirman yang terkenal dengan perintah Siasat No 4, melakukan perlawanan terhadap terhadap Belanda, menampilkan Letkol Soeharto sebagai komandan pasukan TNI yang menyerang dan bertempur.

Generasi penerus sekarang ini tidak melihat besar kecil dari peristiwa ini atau membandingkan tentang kehebatan dengan pertempuran yang lain. Tetapi penulis sebagai warga negara dan penulis sejarah yang memahami akan hal ini menilai dampak dan manfaat dari serangan ini. Karena pada kenyataannya bila tidak ada serangan ini nasib perjuangan kita selanjutnya juga tidak dapat diprediksi.

Perintah siasat tidak ada menyebutkan tentang penyerangan ke Yogyakarta secara umum, tetapi hanya disebutkan, ”Lakukan serangan sebagai perlawanan terhadap Belanda.” Maka dari itu, Serangan Umum adalah Istilah dalam pemberitaan setelah serangan terhadap Yogyakarta sukses dan diketahui oleh seluruh dunia. Sebuah istilah yang didasarkan akan peristiwa serangan yang datang dari segal penjuru kota dan menyerang disebuh sudut kota yang menjadi kedudukan Belanda.

Setiap peristiwa sejarah memiliki peranan, pembelajaran, dan pelajaran dimana masing masing peristiwa sejarah tidak akan sama. Tetapi memiliki kelebihan yang berbeda pula. Kebetulan saja tokoh dalam peristiwa ini yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia, bukan sebuah rencana yang dipersiapakan oleh manusia.

Bagi penulis, Peristiwa serangan Umum 1 maret 1949, dalam analisa sejarah, tidak menunjukkan adanya upaya untuk menurunkan popularitas dan wibawa Jenderal Sudirman ataupun ingin mengangkat popularitas Letkol Soeharto. Tetapi, sebuah ide yang muncul diantara Sultan HB IX dan Letkol Soeharto sebagai Komandan Pasukan Ibu Kota, atau muncul dari keduanya, karena antara Menhan dan Pasukan Keamanan Ibu Kota, tentu memiliki hubungan erat dan komunkiasi intensi untuk mengurus negara.

Dari semua tulisan dan Analisa sejarah yang disajikan maka yang dapat dipertanggungjawabkan memahami Serangan Oemoem dan Pelaksanaannya adalah Soeharto, Soedirman, Dan Sultan HB IX, Serangan Oemoem 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilakukan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara secara besar-besaran untuk menyerang kedudukan Belanda. Ketika dilakukan serentak dari segala penjuru dan menyerang ke seluruh sudut kota yang menjadi kedudukan dan markas Belanda, sehingga Belanda harus meninggalkan Yogyakarta untuk menghidari korban yang lebih besar.

Bagi penulis, Pemrakarsa serangan ini adalah Sultan HB IX sebagai Menhan dan Letkol Soeharto sebagai Komandan pasukan Kemanan Ibukota Republik Indonesia. Dalam pemikiran awal sebagai langkah yang dilakukan oleh Sri Sultan HB IX untuk melakukan serangan, karena keduanya sering melakukan pertemuan dengan Letkol Soeharto. Meminta kesediaan Soeharto, menentukan pasukan dari Yogya saja, dan menentukan hari penyerangan. Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 bukan sebuah taktik atau setrategi perang tetapi sebuah aksi gerilya sebaga perlawanan terhadap pendudukan belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Karena petempuran dilakukan hanya untuk menentang pernyataan Belanda bahwa TNI sudah tidak ada dan republik Indonesia sudah runtuh tak berdaya lagi.

Satu yang pasti, peristiwa serangan Umum 1 Maret 1949 adalah sebuah peristiwa kebangsaan Indonesia yang layak untuk dihormati dan dihargai sesuai dengan fakta dan data sejarah, tidak perlu dihubungkan dengan popularitas Soeharto atau hanya untuk menunjukkan ketidaksenangan kepada Soeharto. Yang penting bisa memberikan wawasan sejarah bagi generasi muda sekarang ini, tidak harus disertai kontroversi dan perilaku sejarah yang dideskripsikan untuk mencari tujuan, sensasi, dan menumbuhkan polemik dalam kehidupan kebangsaan indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

1. DR. A.H. Nasution Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 2, Diplomasi Atau Bertempur, PT. Angkasa, Bandung, Tahun1977.

2. Cindy Adam terjemahan oleh Abdul Bar Salim, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, Gunung Agung Jakarta, Tahun 1948.

3. Atma Kusumah, Biografi Sultan HB –Tahta Untuk Rakyat, PT Gramedia, Jakarta, Tahun 1982.

4. Buku Gerilya Wehrkreis III.

5. Djocjakarta, 19 Desember 1948, De Militaire Zuiverings acties Van Nederlandse, in en Bij Djocjakarta bij aanvang van de tweetde politionale actie, Mei 1976.

6. Heijber, Pierre, De Politionale Actie, De Strijd om Indie 1945-1949, Fibula – Van Dishoek, Haarlem, Tahun 1979.

7. Purwokusumo, Sudarisman, SH. Yogyakarta Sewaktu Ibukota RI, artikel Majalah Vidya Yudha No 17.

8. Drs, Sigit Wruhantoro, Sejarah Perjuangan pada Clash II.

9. Osman Raliby, Documenta Historia, Bulan Bintang Jakarta, Tahun 1952.

10. O.G. Oeder, The Smiling Jenderal, Presiden Of Indonesia, Gunung Agung, Jakarta, MCML XIX.

*Eko Ismadi adalah Pengamat Sosial Politik dan Militer

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com