Pertanian dan Industri Pengolahan Tumpuan Ekonomi Kalsel

Editor: Irvan Syafari

569
Kepala Perwakilan BI WIlayah Kalsel Harymurthy Gunawan saat melakukan wawancara dengan Insan Pers-Foto: Arief Rahman.

BANJARMASIN — Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) Harymurthy Gunawan mengklaim, pada 2018 perekonomian di Banua berpotensi untuk tumbuh meningkat dibanding pada 2017 lalu. Adapun prediksi pertumbuhan sendiri diprediksi akan tumbuh pada kisaran 5,4-5,8 persen.

Hal ini menurutnya cukup beralasan, mengingat didukung oleh lebih baiknya konsumsi rumah tangga seiring terjaganya daya beli masyarakat, peningkatan konsumsi pemerintah seiring lebih baiknya kapasitas fiskal pemerintah, peningkatan investasi seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur, serta sedikit peningkatan ekspor seiring prospek ekspor produk sektor pertanian dan industri yang lebih baik.

Kemudian dari sisi sektoral diprediksi pertumbuhan ekonomi Kalsel akan lebih banyak ditopang oleh sektor pertanian dan sektor industri pengolahan. Hal tersebut karena ada beberapa faktor pendukungnya, yakni seiring baiknya harga jual hasil produksi komoditas unggulan di bidang pertanian dan perkebunan.

Faktor pendukung lainnya ialah, sektor konstruksi seiring tingginya investasi, sektor transportasi dan komunikasi seiring perluasan penetrasi 4G operator seluler, serta sektor perdagangan seiring lebih baiknya konsumsi Rumah Tangga dan lebih tingginya kinerja sektor penghasil barang.

“Tapi di sisi lain, sektor pertambangan akan tumbuh melambat, khususnya memasuki semester kedua karena dipengaruhi prakiraan penurunan harga batu bara,” jelasnya, Senin (19/03/2018).

Jika melihat data pertumbuhan ekonomi Kalsel pada triwulan IV-2017 tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 4,46 persen. Angka ini melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,37 persen.

Sementara secara keseluruhan pada 2017, perekonomian Kalsel tumbuh sebesar 5,29 persen, meningkat bila dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,40 persen.

Adapun lebih baiknya pertumbuhan ekonomi Kalsel sendiri pada 2017 dibanding tahun 2016 lalu dikarenakan lebih baiknya tingkat harga komoditas utama yang berdampak kepada peningkatan ekspor serta kinerja sektor pertambangan dan sektor pertanian.

Selanjutnya, perbaikan kinerja sektor utama mendorong aktivitas perdagangan dan investasi yang dicerminkan pada sektor Perdagangan Hotel dan Restoran (PHR) dan sektor konstruksi.

Sementara dari sisi pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK), realisasi inflasi pada triwulan IV-2017 tercatat sebesar 3,73 persen, lebih rendah dari triwulan lalu yang sebesar 4,01 persen.

Sedangkan realisasi inflasi Kalsel pada 2017 tercatat 3,73 persen. Angka ini masih dalam sasaran inflasi Kalsel maupun nasional yang sebesar 4 plus minus 1 persen.

“Inflasi Kalsel pada akhir 2018 diperkirakan akan dapat tetap dijaga ke arah sasaran inflasi Kalimantan Selatan yang lebih rendah 3,75 persen, sebagai sasaran antara menuju target inflasi nasional 3,5 persen. Kami meyakini target tersebut bisa terwujud karena didukung oleh relatif lebih rendahnya tekanan dari kelompok administered prices ketimbang tahun lalu, adanya program pengendalian inflasi dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan kordinasi yang baik antara BI dan Pemerintah Daerah (Pemda),” tambahnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) M Saleh mengingatkan agar Pemda jangan larut dengan kembali merangkak naiknya harga komoditas pertambangan sekarang, karena kenaikan harga tersebut hanya bersifat sementara.

Akan lebih baik menurutnya sekarang ini Pemda fokus mendorong sektor alternatif yang bisa mendorong geliat ekonomi Kalsel ke depannya tidak hanya terfokus pada Sumber Daya Alam (SDA) saja, tapi sektor lainnya yang bisa diperbaharui.

Misalnya sektor pariwisata, industri pengolahan, pertanian hingga perkebunan. Beberapa sektor tersebut menurutnya di masa depan bisa menggantikan dominasi sektor pertambangan di Kalsel asal digarap dengan serius.

“Agar beberapa sektor tadi bisa menggantikan sektor pertambangan, tentunya segala infrastrukturnya harus disediakan. Bahkan kalau perlu beri berbagai insentif menarik agar investor tertarik untuk membuka usahanya di Banua,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...