Petambak Udang Vaname di Lamsel Keluhkan Serangan Penyakit Mio

Editor: Irvan Syafari

533

LAMPUNG — Pasca banjir luapan sungai Way Sekampung melanda lahan pertambakan udang vaname (Lithopenaeus Vannamaei) sebagian petambak udang mulai mengalami serangan penyakit Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV).

Suhaimi (45) salah satu pembudidaya udang jenis vaname di Dusun Umbul Besar, Desa Bandar Agung mengutarakan, penyakit myo atau dikenal dengan mio menginfeksi udang vaname sejak sepekan terakhir.

Menurut dia saat pagi hari udang terserang mio akan mengambang dan mati. Pada petak lahan tambak seluas 1000 meter persegi Suhaimi mencatat, setiap pagi selama sepekan membersihkan lima hingga sepuluh ekor udang vaname yang mati. Tanda tanda fisik udang terserang virus mio terlihat pada bagian ekor yang berwarna merah muda lalu mati.

“Pada petak lahan tambak terkena virus mio langsung saya panen lebih awal karena jika tidak segera panen bisa mewabah ke udang lain dalam satu petak berimbas kerugian lebih besar,” terang Suhaimi saat ditemui Cendana News, Kamis sore (22/3/2018)

Pada petak lahan tambak lain, Suhaimi mengatakan, langsung melakukan penanganan dengan melakukan pengaturan sirkulasi air menggunakan kincir air. Perubahan cuaca menjadi salah satu pemicu udang vaname budi daya miliknya.

Begitu juga dengan hujan kerap melanda hingga banjir di wilayah tersebut, kemudian berganti cuaca panas. Kualitas air yang menurun akibat saluran air, yang kurang memadai mengakibatkan virus mio melanda tambak di wilayah tersebut.

Dampak dari serangan virus mio embuat hasil panen udang vaname milik Suhaimi merosot. Meski tidak terdampak langsung banjir akibat berada di dalam tanggul penangkis, ia mengaku, dari hasil sekitar satu ton udang vaname dirinya kehilangan sekitar dua kuintal akibat virus mio.

“Jika tidak segera dipanen, saya bisa memperoleh kerugian cukup banyak apalagi petambak di wilayah ini sudah menerapkan sistem tambak dengan kincir tenaga listrik,”keluh Suhaimi.

Pada petak lahan yang belum terimbas upaya untuk mencegah serangan virus mio dilakukan dengan melakukan pemberian air yang bersih. Beberapa bak penampungan air dari sumur bor diakuinya ditampung dan dialirkan ke lahan tambak dengan proses pembersihan mempergunakan filter.

Setiap pagi hari ia menebar dolomit atau zat kapur yang dipergunakan untuk membuat stabil kondisi air di dalam tambak yang memiliki kadar asam tinggi.

Kondisi yang sama dialami oleh Barial (40), warga Parit, Dusun Umbul Besar, yang memelihara udang vaname secara tradisional. Penyakit mio disebutnya membuat bagian udang pada ekor mula mula berwarna merah muda dan bisa menyebabkan kematian udang. Awalnya bagian tubuh udang berwarna putih dan menyebar ke seluruh tubuh udang.

“Saat virus mio menyerang, saya harus ekstra memperhatikan kebersihan tambak udang karena kematian udang tidak serempak namun merugikan,” cetusnya.

Budi daya udang vaname yang masih berusia dua bulan dengan masa panen saat umur tiga bulan diakuinya, mengalami penurunan produksi akibat virus mio. Meski demikian ia tetap berupaya menyelamatkan budi daya udang miliknya dengan melakukan pembersihan air secara rutin dan pemberian dolomit.

Pembudidaya udang vaname di Desa Berundung, Kecamatan Ketapang mengalami hal yang sama. Sodikin (40), salah satu petambak udang vaname mengaku, serangan virus mio kerap membuat ia merugi.

Kerugian diakuinya disebabkan hasil panen tidak maksimal terlebih sebagian mati sebelum waktu panen secara parsial. Masa panen lebih awal disebutnya membuat ia merugi puluhan juta rupiah dibandingkan kondisi normal.

Keluhan akan virus mio pada udang Vaname cukup beralasan, sebab ia melakukan budi daya udang sistem sewa. Pada tahun ini ia menyebut sewa lahan per hektare mencapai Rp6 juta. Sementara berbagai modal dan kebutuhan operasional diperoleh dari pemilik modal.

“Petambak tradisional seperti kami masih tergantung modal dari pemodal, sehingga saat ada serangan penyakit justru akan semakin terpuruk,” beber Sodikin.

udang vaname-Foto: Hnek Widi.

Salah satu cara meminimalisir kerugian lebih banyak akibat kematian masal Sodikin mengaku, terpaksa menyewa kincir dan mesin pompa. Kincir air dilakukan untuk menjaga sirkulasi.

Penggantian air dilakukan saat malam hari agar sirkulasi air bersih, serta udang yang belum terserang masih bisa diselamatkan, hingga masa panen normal hingga usia tiga bulan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.