Petambak Udang Vaname Lamsel Tebar Ulang Benur

Editor: Irvan Syafari

325

LAMPUNG — Sejumlah tambak budidaya udang vaname yang sempat terendam air di Dusun Umbul Besar, Dusun Bunut Utara dan Sumber Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi mulai surut.

Sebelumnya sejumlah petambak udang vaname dengan luas mencapai puluhan hektare terpaksa dilakukan proses panen parsial dini akibat petak tambak terimbas limpasan Sungai Way Sekampung. Sebagian tambak bahkan mulai surut, meski sejumlah petambak mengalami kerugian cukup besar.

Budiman,salah satu petambak di dusun Bunut mengungkapkan panen parsial hingga panen total telah dilakukan sejak sepekan terakhir. Meski demikian ia menuturkan, proses pembersihan tambak tetap harus dilakukan dengan mempergunakan mesin pompa air. Pembersihan dilakukan untuk membersihkan area tambak dari lumpur,pasir dan sampah yang masuk ke lokasi tambak.

“Tambak yang saya miliki harus segera dikuras karena banjir sudah surut sekaligus membersihkan tambak untuk budi daya udang vaname baru, karena imbas banjir sudah saya panen sebanyak delapan kuintal dari normal mendapatkan satu ton per petak,” terang Budiman saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (19/3/2018)

Pemilik lima petak tambak tersebut mengakui, limpasnya tambak udang miliknya terjadi akibat tanggul tambak kurang tinggi. Selain proses melakukan pengurasan air dalam tambak, ia akan melakukan peninggian tanggul mempergunakan alat berat. Peninggian tanggul diakuinya dilakukan mengantisipasi saat terjadi banjir di wilayah yang berada di dekat sungai Way Sekampung tersebut.

Hasil panen dini akibat banjir luapan Sungai Way Sekampung disebutnya dipergunakan untuk modal membeli benih udang (benur) di pesisir Rajabasa Lampung Selatan. Meski mengalami kerugian hingga puluhan juta, ia mengaku masih tetap akan melakukan budi daya udang vaname.

Udang vename bisa dipanen total setelah berusia tiga bulan. Harga menjanjikan sekitar Rp80.000 untuk udang berusia 90 hari membuat petambak udang memilih membudidayakan udang vaname dengan risiko kerugian besar saat banjir.

Firdaus,salah satu petambak lain menuturkan, proses pengurasan tambak diakuinya membutuhkan waktu yang lama. Selain harus mempergunakan mesin pompa, ketinggian air yang masih sama dengan Sungai Way Sekampung membuat air susah dibuang.

Pembuangan air diakuinya akan bisa maksimal dilakukan saat banjir benar benar mulai surut. Meski demikian Firdaus telah menyediakan benih udang baru untuk ditebar pada lahan tambak yang sudah dikuras.

“Usaha sektor perikanan budi daya khususnya tambak tidak mengenal musim karena saat kita menebar bibit dengan perawatan maka akan panen udang vaname,” papar Firdaus.

Hujan yang mulai tidak turun selama beberapa hari terakhir ditambah surutnya air banjir membuat budi daya udang vaname mulai berjalan normal. Sebagian petambak dengan modal besar melakukan pengamanan areal tambak mempergunakan pagar semen, sehingga saat banjir air tidak menerjang ke area tambak. Namun sejumlah pemilik usaha tambak dengan sistem tradisional hanya mengandalkan tanggul dengan karung berisi pasir.

Firdaus menyebut membutuhkan modal hingga belasan juta untuk kembali bisa menebar benih baru udang vaname. Selain biaya operasional pembersihan tambak, pengeringan, pemberian pupuk, pembelian benur udang membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Meski demikian dengan harga udang vaname mencapai Rp80.000 per kilogram untuk panen sebanyak satu ton dirinya bisa memperoleh omzet sebesar Rp80 juta.

“Selain banjir kendala utama kami sebagai pembudidaya udang salah satunya penyakit jenis white spot atau panu udang yang kerap terjadi saat kemarau,” beber Firdaus.

Kepala Desa Bandar Agung,Syamsul Anwar mengatakan, dari total 120 kepala keluarga yang mengungsi ia tinggal 10 orang bertahan di tenda tanggul penangkis. Sebagian besar warganya merupakan pemilik usaha tambak udang vaname, ikan patin, bandeng dan pertanian padi sawah.

“Sektor perikanan budi daya dan tangkap menjadi sumber perekonomian warga sehingga menjadi lumpuh saat banjir karena warga mengungsi,” terang dia.

Ia akan mengusulkan kepada pihak terkait untuk melakukan normalisasi Sungai Way Sekampung. Selain proses normalisasi tanggul yang nyaris jebol, akses jalan utama warga di Tanggul Penangkis akan direhabilitasi.

Udang jenis vaname hasil budi daya tambak tradisional di Desa Bandar Agung kecamatan Sragi Lampung Selatan-Foto: Henk Widi.

Selain sebagai akses utama mobilitas warga, akses jalan tersebut menjadi tempat transaksi pedagang dan pembeli udang vaname.

Baca Juga
Lihat juga...