Petani di Lamsel Kesulitan Tenaga Kerja

Editor: Koko Triarko

184

LAMPUNG — Masa tanam dan panen jagung yang nyaris bersamaan dengan proses pemupukan, membuat sejumlah petani kesulitan memperoleh pekerja.

Petani di Dusun Trans Jember, Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Sudarwanto (60), mengatakan, pada masa pemupukan tahap pertama, ia yang memiliki lahan seluas satu hektare kerap mempekerjakan 20 pekerja untuk memupuk. Namun, akibat masa panen dan tanam bersamaan ,sebagian pekerja juga bekerja sebagai buruh di lahan jagung lain.

Penggunaan tenaga kerja diakui Sudarwanto sudah mulai dilakukan sejak masa tanam, masa pemupukan hingga masa pemanenan jagung. Saat ini, buruh tani yang dominan kaum perempuan di wilayah tersebut diupah dengan sistem harian sekitar Rp60.000 per orang. Ia bahkan harus mencari buruh untuk pemupukan tanaman jagung ke desa lain akibat kebutuhan tenaga kerja meningkat.

Desi, salah satu pekerja proses pemupukan pertama lahan pertanian jagung di desa Ketapang [Foto: Henk Widi]
“Kondisi cuaca dengan dominasi hujan yang kerap terjadi di Lampung Selatan membuat petani jagung bisa melakukan penanaman selama tiga kali, meski waktunya bersamaan dengan masa tanam,” ungkap Sudarwanto, Senin (26/3/2018).

Akibat kekurangan tenaga kerja, Sudarwanto dan sejumlah petani agung memilih memberi upah tenaga kerja lebih mahal dari biasanya. Jika upah tenaga kerja penanaman, pemupukan dan pemanenan biasanya Rp60.000, sejumlah pemilik lahan rela membayar hingga Rp90.000 untuk satu hari kerja.

Sehari bekerja dalam proses pemupukan, Sudarwanto mengeluarkan biaya Rp1,2 juta untuk 20 pekerja.

“Pekerja umumnya ingin cepat selesai, agar bisa bekerja di lahan lain. Meski hitungan kerja harian, namun bisa diselesaikan dalam waktu setengah hari untuk bekerja di lahan petani lain,” cetus Sudarwanto.

Sistem padat karya terpaksa dilakukan dengan mengerahkan anggota keluarga untuk proses pemupukan. Selain bekerja untuk pemupukan sebagian buruh juga banyak dibutuhkan akibat masa tanam jagung yang bersamaan dengan masa panen dan penanaman di wilayah Kecamatan Ketapang.

Pekerja penanaman dan pemupukan hingga pemanenan didatangkan dari kecamatan lain di antaranya Penengahan dan Palas. Selain masa penanaman, pemupukan dan pemanenan jagung bersamaan, wilayah lain yang melakukan penanaman padi juga berimbas sulit memperoleh tenaga kerja.

Buruh panen dan pupuk yang sebagian dilakukan oleh kaum perempuan saat musim panen padi dan jagung, kebutuhan buruh angkut juga meningkat didominasi kaum laki-laki.

“Saat musim tanam, pemupukan hingga pemanenan jagung dan padi yang bersamaan mendorong peningkatan kebutuhan buruh angkut dengan sistem ojek,” beber Sudarwanto.

Pada lahan satu hektare miliknya, Sudarwanto mengaku membutuhkan satu  ton pupuk jenis Urea, Phonska dan pupuk organik. Saat ini, kebutuhan pupuk bersubsidi untuk jagung diakuinya diperoleh melalui kelompok tani, sehingga distribusi pupuk lebih lancar, meski harga pupuk jenis urea seharga Rp115.000 per sak, Phonska Rp130.000 dan pupuk organik seharga Rp40.000 per sak atau
ukuran 50 kilogram.

Desi (30), salah satu buruh pemupukan mengaku bekerja setiap hari sebagai buruh di beberapa lahan milik petani jagung. Ia menyebut, masa tanam jagung tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang sempat ada jeda antara masa tanam, pemupukan dan pemanenan.

Tahun ini, sejumlah lahan pertanian justru memasuki masa tanam, pemupukan dan pemanenan bersamaan berimbas kebutuhan tenaga kerja lebih banyak.

“Saya bahkan sudah diminta untuk membantu melakukan proses penanaman jagung milik petani lain, namun sekarang tergantung siapa lebih dahulu memilih,” terang Desi.

Dalam sepekan, Desi yang bekerja sebagai buruh tani, bisa memperoleh rata-rata sekitar Rp350.000 per pekan, dengan upah harian sekitar Rp70.000 sesuai standar di wilayah tersebut.

Pada lahan pertanian seluas satu hektare, untuk pemupukan jagung disebutnya kerap membutuhkan lebih dari sepuluh pekerja. Sistem buruh harian diakuinya menjadi sumber penghasilan bagi kaum perempuan di wilayah tersebut, terutama bagi warga yang tidak memiliki lahan pertanian.

Menjadi buruh tanam, pupuk dan panen, diakui Desi menjadi salah satu pekerjaan utama kaum perempuan di wilayah Ketapang.

Permintaan akan tenaga kerja yang besar disebutnya masih terus akan terjadi, karena alat penanaman mesin tidak bisa diterapkan di wilayah tersebut. Wilayah perbukitan dan terjal membuat alat penanam, pemupukan dan pemanenan jagung harus dilakukan menggunakan tenaga manusia.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.