Petani di Lombok Enggan Tanam Padi Merah

Editor: Satmoko

251
Asiah menjemur padi merah hasil panen sawah miliknya/Foto: Turmuzi

MATARAM – Musim panen padi di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) telah tiba.

Dari berbagai jenis padi yang ditanam petani, padi merah termasuk padi paling banyak dicari dengan harga jauh lebih mahal daripada jenis padi lain yang ditanam petani.

“Padi merah sekarang banyak dicari dan harganya mahal, satu kuintal, harganya mencapai 600 ribu kalau sudah kering. Sementara kalau masih basah di tengah sawah, harganya 500 ribu per kuintal,” kata Asiah, petani Lombok Tengah kepada Cendana News, Senin (5/3/2018).

Ia mengatakan, harga padi merah tersebut jauh lebih mahal, kalau dibandingkan harga padi biasa, di mana satu kuintal harganya hanya mencapai 450 ribu.

Meski mahal, padi merah bagi sebagian besar petani di Pulau Lombok, jarang yang mau menanam. Kalaupun ada yang menanam biasanya oleh petani dengan lahan tadah hujan.

“Karena memang padi merah, paling bagus dan cocok ditanam di lahan yang tanahnya mudah kering,” katanya.

Mindri, petani lain mengatakan, padi merah selain harganya mahal, juga termasuk jenis padi yang tidak terlalu sulit perawatan. Pemupukan misalnya cukup dilakukan sekali dan tidak perlu terlalu banyak.

Justru kalau terlalu banyak pupuk, padinya cepat rebah saat kena angin, karena batang padinya terlalu subur, padi merah juga bisa ditanam di lahan padang atau pegunungan.

“Keunggulan lain, padi merah termasuk jenis padi paling tahan penyakit dan serangan berbagai macam gulma lain,” katanya.

Terpisah, Kamiludin, pengepul gabah petani Lombok Tengah mengatakan, padi merah mahal, karena banyak dicari, karena selain mengandung gizi tinggi, juga kerap dijadikan obat.

“Kalau pada anak balita, padi merah banyak dijadikan makanan dalam bentuk bubur, karena dinilai lebih bergizi,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...