Petani Lamsel Tanam Padi Ketan Putih untuk Stok Hari Raya

Editor: Irvan Syafari

488

LAMPUNG — Tingkat konsumsi beras yang tinggi khususnya jenis beras ketan membuat sejumlah petani di Desa Klaten dan Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan menanam padi jenis tersebut.

Menurut salah seorang petani, Suminah (50), sesuai dengan kearifan lokal masyarakat yang sebagian berasal dari Yogyakarta, menanam padi ketan putih merupakan kebutuhan utama di samping menanam padi varietas lain. Kebutuhan akan kuliner berbahan ketan dalam acara adat membuat kebutuhan beras ketan cukup tinggi.

Dengan kearifan lokal akan penggunaan beras ketan yang tinggi, petani kerap menanam beberapa petak padi ketan putih. Selain sebagai stok, kebutuhan akan ketan putih semakin banyak menjelang hari raya di antaranya Idul Fitri dan Idul Adha.

Kebutuhan akan semakin tinggi saat ada keluarga dari Suku Jawa hendak melangsungkan acara keluarga, seperti menikahkan anak, khitanan atau kelahiran anak.

“Dalam kehidupan para petani di desa Klaten muncul sebuah kebiasaan bagi warga yang akan menikahkan anaknya beberapa bulan sebelumnya sudah menanam padi ketan bahkan bisa lebih banyak dibandingkan masa tanam sebelumnya,“ ujar Suminah saat ditemui Cendana News tengah menunggu tanaman padi miliknya dari serangan hama burung dan ternak unggas, yang sering merusak tanaman padi miliknya, Selasa (20/3/2018)

Lanjut dia, sebagian warga yang mulai menanam padi ketan dalam jumlah banyak bisa menjadi pertanda akan hajatan atau melangsungkan acara. Kebutuhan akan kuliner dalam acara adat Jawa dan filosofi ketan, yang bermakna mempererat persaudaraan terwujud dalam kuliner dari beras ketan.

Kuliner berbahan ketan di antaranya jadah, lemper, wajik. Sejumlah makanan lain yang kerap muncul pada momen khusus saat hajatan tersebut meningkatkan kebutuhan akan beras ketan.

Meski demikian seiring perkembangan zaman dengan banyaknya kuliner berbahan ketan membuat kebutuhan ketan putih tidak hanya untuk acara khusus. Suminah bahkan melihat peluang permintaan tinggi akan ketan di pasar selain untuk stok kebutuhan keluarganya.

Rata rata untuk kebutuhan keluarganya, ia kerap menyimpan dalam bentuk gabah sebanyak 5 hingga 6 kuintal. Sementara dalam bentuk beras ketan, ia menyimpan sebanyak 50 hingga 100 kilogram ketan putih.

“Beberapa pelanggan pedagang beras memesan kepada saya terutama selama bulan Ramadan dan saat Idul Fitri,” beber Suminah.

Harga beras ketan putih lebih tinggi dibandingkan jenis padi biasa seperti yang ditanam sejumlah petani berupa IR 64 , Ciherang dan Muncul. Di tingkat petani dengan kualitas yang bagus beras ketan putih dijual dengan harga Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Harga tersebut bisa lebih tinggi sekitar Rp23.000 hingga Rp25.000 per kilogram di pedagang pengecer.

Kebutuhan yang terbatas pada pembuatan kuliner dan momen istimewa disebut Suminah menjadi pemicu harga lebih tinggi dibanding beras biasa. Beras varietas IR 64 dan sejenisnya untuk konsumsi harian, dibanderol dengan harga mulai dari Rp8.000 hingga maksimal Rp13.000 untuk kelas medium. Meski demikian petani lebih banyak menanam padi penghasil beras untuk kebutuhan pokok tersebut dibandingkan ketan putih.

Penanaman padi ketan putih yang terbatas namun kontinu diakui Yanto (30), petani di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan. Lahan seluas satu hektare miliknya disebutnya kerap ditanam padi verietas ketan putih beberapa petak untuk stok kebutuhan hari raya dan momen khusus.

Hari Raya Idul Fitri meski masih akan berlangsung bulan Juni dan bulan puasa pada bulan Mei, sejumlah petani mulai mempersiapkan ketan putih.

“Petani yang sudah bisa memprediksi permintaan ketan putih meningkat pada masa tanam sebelumnya sudah menanam dan Maret ini pasti sudah memanen padi ketan,” terang Yanto.

Yanto mengatakan, untuk padi varietas Ciherang pada lahan seluas satu hektare dirinya bisa memperoleh 5 ton gabah. Sementara pada jenis padi ketan putih yang ditanam pada beberapa petak, ia masih bisa memperoleh sekitar 3 kuintal.

Harga jual yang tinggi disebutnya tidak lantas membuat ia menanam dalam jumlah banyak. Sebagian petani seperti dirinya menyebut menanam dalam jumlah terbatas untuk kebutuhan keluarga.

Yanto,petani di desa Rawi menanam padi varietas Ciherang dan sebagian padi jenis ketan putih -Foto: Henk Widi.

Sejumlah petani lain memanfaatkan peluang harga tinggi beras ketan, ada yang menanam dalam area setengah hektare. Petani penanam ketan putih jumlah banyak disebutnya, terutama petani yang memiliki lahan lebih dari dua hektare.

Kebutuhan akan beras ketan pada Ramadan atau puasa untuk berbagai jenis kuliner dan Idul Fitri menjadi peluang petani mendapat keuntungan.

Baca Juga
Lihat juga...