Plt.Bupati Sikka: Pendidikan Bukan Lahan Mencari Kekayaan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.335

MAUMERE — Tantangan terbesar pendidikan di kabupaten Sikka pertama pada pendidik itu sendiri,metodenya dimana guru sekarang terutama guru honor tidak dibekali dengan ilmu Pedagogik, ilmu pendidikan tentang cara mengajar.

“Kalau dulu ada SGA, SGB, SPG, SGO tapi sekarang sekolah umum saja dimana sarjana strata satu bisa mengajar di SMA. Padahal guru itu adalah sebuah panggilan, bukan profesi untuk menjadi lahan mencari kekayaan,” tegas Drs. Paolus Nong Susar Plt.Bupati Sikka Kamis (1/3/2018).

Kepada Cendana News, Nong Susar menegaskan, guru dulu betul-betul melayani dengan hati dan pikiran dia benar-benar berada di sekolah, bersama murid. Sekarang ini guru dituntut mengejar sertifikasi, mengejar uang.

“Kepala-kepala sekolah juga dengan adanya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dirinya dibuat sibuk mengurusi pembangunan gedung dan belanja lainnya. Ini sebuah kesalahan dimana tugas dia harusnya mengajar bukan urus yang lain,” sesalnya.

Anak didik sekarang tambah Nong Susar, tidak lagi dilatih membuat analisa dan susah diajarkan menulis atau mengarang. Tidak diajarkan menggali informasi dan menuangkannya dalam tulisan. Ini tantangan dimana anak kita tidak dilatih membuat analisa, menarasikan semua fakta-fakta sosial.

“Sekarang semua serba instan,menghitung saja bisa menggunakan telepon genggam saja.Lembaga pendidikan mengajarkan sesuatu yang salah dan ini perlu diperbaiki,” harapnya.

Salah Gunakan Bahasa

Saat ini pun pemimpin di Indonesia juga mengajarkan seuatu yang salah kepada generasi muda dan masyarakat dengan menggunakan bahasa yang salah dalam setiap pembicaraan resmi. Padahal mereka sedang berbicara di media massa termasuk di televisi yang ditonton masyarakat luas.

“Coba lihat sekarang ini para pemimpin suka sekali menyebut kata “Jaman Now”. Ini kata-kata apa, kita tidak menghargai bahasa kita sendiri, ini sebuah kekeliruan. Bahkan dimana-mana ini juga ditiru hingga ke tingkat desa padahal ini merusak identitas bangsa Indonesia,” tuturnya.

Plt. Bupati Sikka
Plt. Bupati Sikka Drs.Paolus Nong Susar. Foto : Ebed de Rosary

Padahal menurut wakil bupati Sikka ini, bahasa menunjukan bangsa sehingga istilah Jaman Now merupakan sebuah kekeliruan, kesalahan bertutur dan tidak menghargai bahasa sendiri.

“Tantangan kedua, anak-anak didik sekarang dalam membuat tulisan atau naskah ilmiah suka mencari data dari internet dan menjiplak tulisan tersebut. Ketiga soal fasilitas, sarana dan pra sarana pendidikan. Anggaran kabupaten Sikka juga terbatas tapi kita tidak boleh menyerah karena keterbatasan dana ini,” pintanya.

Keempat soal keluarga, lanjut Nong Susar, dimana keluarga terlihat masa bodoh dan menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada pihak sekolah. Orang tua tidak membangun komunikasi dengan anak sehingga hubungan interaksi antara orang tua dan anak terputus. Ini yang menyebabkan anak akan mencari informasi dari pihak lain.

“Kelima soal informasi dimana saat ini banyak sekali infoirmasi di media serta media-media sosial yang bersifat negatif. Banyak berita hoax atau bohong yang dengan mudah bisa dibaca dan merasuki pikiran anak-anak,” sebutnya.

Sementara itu, Donatus Nahak, salah seorang ketua komite sekolah yang diajak berbincang oleh Cendana News mengatakan, pendidikan karakter saat ini sudah mulai hilang sehingga anak-anak sekolah sekarang hanya lebih mengejar angka dibandingkan yang lain.

“Ini yang perlu divealusi, anak-anak perlu diajari sejak dini tentang sopan santun, saling menghormati antara satu sama yang lainnya. Rasa saling memiliki dan menghargai orang lain sudah mulai hilang,” tutur Don sapaannya.

Untuk itu Don berharap agar sejak usia dini melalui pendidikan di PAUD ataupun TK bahkan SD anak-anak perlu dibekali dengan pendidikan karakter dan etika. Ini penting untuk meletakkan dasar yang menjadi ciri khas generasi mendatang yang selalu menghargai adat dan budaya.

“Anak-anak sekarang seperti kehilangan jati diri. Mereka seakan tercerabut dari akar budaya dan ini menjadi tantangan bagi generasi muda kita ke depannya khususnya lembaga pendidikan dan keluarga itu sendiri,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...