banner lebaran

Pohon Kayu Lindungi Lingkungan Sekaligus Investasi

Editor: Koko Triarko

342

LAMPUNG – Pentingnya menjaga lingkungan yang hijau dengan beragam pohon peneduh, membuat warga Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, menanam beragam jenis pohon kayu.

Tabrani (40), mengaku menanam ratusan batang pohon jati putih, albasia daun lebar, bambu hijau dan bambu ori. Berbagai jenis tanaman tersebut diakuinya sengaja dipertahankan untuk menjaga lingkungan yang berada di sepanjang jalan raya Palas yang merupakan ruas jalan provinsi.

Penanaman tanaman kayu disebutnya sudah dipanen satu kali dan kini memasuki masa tanam kedua untuk jenis pohon albasia daun lebar.

Sebagai tanaman peneduh sekaligus kayu untuk bahan bangunan, Tabrani mengungkapkan, telah menjual sebagian kayu untuk kebutuhan bahan bangunan.

Jenis kayu sengon yang ditanam di kebun miliknya dijual per kubik seharga Rp1,6 juta, kayu jati putih Rp1,3 juta dan bambu hijau super dijual per batang seharga Rp10.000.

Tabrani menyabit rumput untuk pakan ternak yang sengaja dipelihara di lahan kebun miliknya bersama tanaman kayu [Foto: Henk Widi]
Sebagian lahan tanaman kayu yang sudah ditebang langsung dilakukan peremajaan dengan tanaman baru sekaligus melindungi rumput sumber pakan ternak miliknya.

“Saya menanam berbagai jenis tanaman kayu sebagai investasi jangka menengah, karena sebagian sudah bisa dipanen pada usia enam tahun, lingkungan di sekitar saya juga menjadi bebas polusi, karena banyak tanaman,” terang salah satu warga Desa Sukaraja ini, saat ditemui Cendana News Rabu (28/3/2018).

Tabrani menyebut, sebelumnya lahan yang dimilikinya merupakan lahan gersang dengan jenis tanah padas yang tidak subur. Setelah ditanami jajaran bambu hijau sebanyak delapan rumpun, lahan kebun miliknya mulai menjadi subur.

Tanaman bambu yang masih bertahan dalam kondisi musim kemarau bahkan menjadi penahan longsor dan penahan air untuk sumur dalam yang dimilikinya. Setelah berusia enam tahun lebih, ia pun bisa memanen bambu dan menjualnya ke warga untuk bahan bangunan.

Sementara, lanjutnya, daun tanaman bambu tersebut pada saat musim kemarau bisa dipergunakan sebagai sumber pakan ternak sapi miliknya. Pemanfaatan rebung atau tunas bambu muda bisa dipergunakan untuk sumber bahan sayuran tradisional.

Selain bermanfaat untuk menjaga lingkungan, ia mengaku juga dapat memperoleh keuntungan ekonomis dari tanaman bambu yang ditanam.

“Lingkungan yang ternaungi oleh rumpun tanaman bambu menjadi lebih sejuk dan berbagai tanaman lain bisa tumbuh subur,” beber Tabrani.

Penanaman berbagai jenis pohon secara tumpangsari atau multy purposes tree species (MPTS), diakui Tabrani sudah dilakukan puluhan tahun silam. Hobi beternak yang sudah dilakukan sejak sekolah dasar bahkan membuatnya mengembangkan pola penanaman pohon yang bisa digunakan untuk pakan ternak.

Selain ternak sapi sebanyak enam ekor, ternak kambing juga dikembangkannya memanfaatkan potensi sumber pakan yang sengaja ditanamnya.

Pada lahan setengah hektare di dekat rumah dan di kebun, ia menanam berbagai tanaman kayu dan pohon produktif, di antaranya pohon nangka yang sekaligus menjadi sumber bahan pakan ternak kambing, bersama jenis tanaman lain di antaranya jati putih, rumput gajahan dan rumput odot yang ditanam di sela sela pohon kayu.

“Saya memelihara rumput untuk tambahan pasokan pakan, karena pakan hijauan kerap saya cari di tepi Sungai Way Pisang, sebagian di area perkebunan sawit,” cetus Tabrani.

Memelihara berbagai jenis pohon diakuinya selain bisa memberi manfaat secara ekologis, juga bisa mengambil keuntungan secara ekonomi. Ternak sapi dengan sistem penggemukan diakuinya dilakukan dengan membeli sapi anakan seharga Rp15 juta hingga Rp16 juta, dan setelah digemukkan dijual seharga Rp23 juta hingga Rp25 juta.

Demikian juga dengan ternak kambing yang dibeli pada usia delapan bulan seharga Rp700 ribu sudah bisa dijual setelah proses penggemukan seharga sekitar Rp1,3 juta.

Limbah kotoran ternak kambing dan sapi disebut Tabrani dipergunakan sebagai pupuk untuk tanaman kayu dan bambu yang dipeliharanya. Melalui proses menjaga lingkungan dan menanam berbagai jenis kayu tersebut, Tabrani masih bisa memenuhi kebutuhan pakan secara berkelanjutan. Sebab rumput dan tanaman kayu yang dipangkas untuk pakan masih akan bertunas untuk sumber pakan berikutnya.

“Sebelum kayu dipanen untuk bahan bangunan, daun bisa dipakai untuk pakan terus-menerus tanpa merusak tanaman, bahkan membantu pertumbuhan tanaman, terutama rumput jenis gajahan dan pohon jati putih,” katanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.