Presiden Soeharto Pelopor Jalan Tol Indonesia

Editor: Koko Triarko

1.448

JAKARTA – Tanggal 9 Maret adalah tanggal bersejarah bagi dunia transportasi Indonesia. Pada tanggal tersebut di tahun 1978, untuk pertama kalinya Presiden Soeharto meresmikan Jalan Tol Jagorawi. Sebuah jalan tol pertama yang dimiliki Indonesia yang dibangun sejak 1973, menghubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi. Sejak itu, sepanjang 490 km jalan bebas hambatan berhasil dibangun. 

Saat diresmikan, jalan tol tersebut baru sampai ruas Jakarta-Citeureup, dengan karyawan 200 orang. Jalan tol Jagorawi merupakan jalan tol pertama yang didanai APBN dari pinjaman luar negeri, kemudian pengelolaannya diberikan kepada PT Jasa Marga sebagai modal awal perusahaan tersebut, dan merupakan penyertaan pemerintah.

Jalan tol Jagorawi dikelola oleh PT Jasa Marga. Jagorawi sendiri merupakan singkatan kata dari Jakarta-Bogor-Ciawi. Jalan tol ini mempunyai gerbang tol Cililitan, TMII, Dukuh, Pasar Rebo, Cibubur, Cibubur Utama, Cimanggis Utama, Cimanggis, Gunung  Putri, Citeureup, Sentul, Sentul Selatan, Bogor, dan Ciawi, melintasi Kota Jakarta Timur, Kota Depok, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor.

Setelah Jalan Tol Jagorawi, presiden-presiden berikutnya tinggal melanjutkan pembangunan jalan tol- jalan tol lainnya yang sudah lebih dulu dipelopori oleh Presiden Soeharto. Di antaranya, Presiden Habibie meresmikan 7,2 km jalan tol, Presiden Gus Dur (5,5 km), Presiden Megawati (34 km),  Presiden SBY (212 km), sampai Presiden Jokowi dengan 568 km jalan tol.

Pada 20 April 1987, Presiden Soeharto meresmikan jalan Tol Bekasi-Cawang, sebagaimana yang dilansir dalam http://soeharto.co, dari kutipan Antara(20/4/1987), yang masuk dalam buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Penerbit Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2008, yaitu dengan membayar tarif tol Rp1.500 untuk memasuki ruas jalan Bekasi-Cawang (13 Km) dan Rp500 Cawang-Semanggi (6,7 Km), Presiden Soeharto menandai dibukanya jalan tol tersebut.

Presiden membayar Rp1.500 di gerbang tol Bekasi Barat, karena kendaraan yang ditumpanginya adalah bis yang termasuk kendaraan golongan II (di atas 2,5 ton).

Jenis kendaraan golongan I seperti sedan, jip dan bus mini untuk ruas Cawang-Bekasi sesuai Surat Keputusan Presiden nomor 6 tahun 1987, tarifnya Rp800. Sedang untuk ruas Cawang-Semanggi dengan Keppres yang sama ditetapkan Rp500, baik untuk kendaraan golongan I maupun II.

Dalam bus yang ditumpangi Presiden pagi itu turut pula lbu Tien Soeharto, Menteri Pekerjaan Umum, Suyono Sosrodarsono, Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin, Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono, Menteri/Ketua Bappenas, JB. Sumarlin, Gubemur Jawa Barat Jogie SM dan Gubemur DKI Jakarta, R. Soeprapto.

Sebelum melintasi jalan tol baru itu, Presiden dan Ibu Tien Soeharto di gedung pengelolaan Pondok Gede Timur memperoleh penjelasan dari Direktur Utama PT. Jasa Marga, Ir.Yuwono Kolopaking, tentang pembangunan proyek jalan tersebut.

Jasa Marga adalah badan usaha milik negara (persero), yang ditugaskan membangun, mengelola dan memelihara jalan tol di Indonesia. Jalan tol Cawang­ Bekasi yang merupakan bagian dari proyek tol Jakarta-Cikampek (72 Km) mulai dibangun November 1983, dengan biaya Rp40.275 juta, belum termasuk pembebasan tanah.

Selain dari dana APBN dan obligasi PT. Jasa Marga, biaya pembangunan jalan tersebut juga diperoleh dari Bank Dunia dan bantuan kredit dari Pemerintah Jerman Barat (KFAED).

Menurut kontraktor yang melaksanakan pembangunan jalan tol itu, Kumagai­ Kadil JO, bersamaan pembangunan jalan tol yang lebarnya 2 x 7,20 meter itu dibangun pula sembilan jembatan lintas atas (overpass), tiga simpang susun (interchange) dan tiga persimpangan sebidang (intersection).

Ruas jalan tol Semanggi-Cawang dibangun dengan biaya Rp54.701 juta, termasuk beberapa jalan layang seperti di Kuningan dan Tebet. Di jalan tol Semanggi­ Cawang, kendaraan bermotor dapat melaju dengan kecepatan 80 Km/ jam, sedangkan pada ruas Cawang-Bekasi 120 Km/ jam.

Pembangunan jalan Cawang-Semanggi dinilai penting untuk mengatasi kemacetan lalu lintas sepanjang jalan Gatot Subroto dan MT. Haryono. Sedangkan, jalan tol Cawang­ Bekasi, selanjutnya sampai ke Cikampek yang seluruhnya selesai pada 1988, diperlukan untuk mengatasi kepadatan lalu lintas barang dan penumpang di jalur utara Jawa Barat.

Menurut Yuwono Kolopaking, Depertemen Pekerjaan Umum saat itu, sedang meneliti kemungkinan pembangunan jalan tol lanjutan dari Cikampek ke Purwakarta terus menuju selatan hingga Padalarang, sebagai upaya menciptakan jalan alternatif bagi jalur Bandung-Jakarta melalui Puncak/Bogor yang sekarang ini sudah dirasakan padat.

Pembangunan jalan tol mendapat tanggapan dari Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Teodore Wallau, yang mengatakan masa depan jalan tol di Indonesia cerah, karena pasti merupakan kebutuhan baru akibat pertumbuhan penduduk dan ekonomi.

Ia mengemukakan pendapat itu setelah menyaksikan jalan tol Belmera yang menghubungkan pelabuhan Belawan dengan gerbang utama kota Medan di selatan, Tanjung Morawa, yang saat itu “masih sunyi”.

Jalan itu mulai dibangun pada 1981 dengan pinjaman Jerman Barat dan Kuwait untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di pusat kota Medan, melancarkan arus keluar­ masuk barang ke pelabuhan, serta mempermudah pengembangan wilayah ekonomi.

Jalan sepanjang 34 kilometer yang dirancang bebas hambatan itu, mulai dibuka untuk umum pertengahan Desember 1986, sebelum diresmikan Presiden Soeharto, pada Maret 1986. Jalan tol pertama di luar Jawa itu mampu menampung 20 ribu satuan-bus sehari, dan semula diperkirakan akan dilalui 7.000 kendaraan setiap 24 jam pada tahun-tahun pertama.

Pihak PT. Jasa Marga, badan usaha milik negara yang secara khusus membangun dan mengelola jalan tol di Indonesia, mengakui jalan tol Belmera masih terus mengalami defisit, dalam arti penghasilannya kurang dari Rp4 juta sehari, belum cukup untuk membayar cicilan pinjaman, serta biaya operasional.

Tetapi, seorang pejabat Jasa Marga yang menyerahterimakan jabatan kepala cabang Belmera, dari Ir. Warbini kepada pejabat sementara Ir. Arman Panjaitan, sebulan lalu, sangat yakin kalau jalan tol yang bernilai Rp52 miliar itu pasti akan menjadi kebutuhan pada tahun-tahun mendatang.

Dengan nada yang sama, Duta Besar Wallau, juga menegaskan, jalan tol Belmera dan bahkan jalan tol lain di Indonesia, akan berkembang pesat mengingat pertumbuhan penduduk dan ekonomi Indonesia tergolong pesat.

Menurut Duta Besar Wallau, pada masa mendatang, waktu akan semakin berharga dan mahal, sehingga setiap pelaku ekonomi membutuhkan kecepatan, ketepatan dan keamanan dalam setiap gerak.

“Pada saat itulah jalan tol menjadi pilihan utama,” katanya.

Banyak manfaat dari jalan tol, seperti melancarkan lalu lintas, mempersingkat waktu, memajukan daerah berkembang, meningkatkan kualitas ekonomi, meningkatkan distribusi barang serta jasa pada pelayanan, mengurangi macet, jalur alternatif yang membantu, meningkatkan keamanan dunia transportasi.

Dengan jarak tempuh yang jauh, maka transportasi akan memerlukan waktu tempuh yang jauh pula. Juga memberikan kemungkinan keselamatan yang sangat diperlukan untuk selalu terjaga.

Maka itu, pemerintah juga memilih pada pembangunan jalan tol daerah dan antardaerah yang terus dikembangkan dan dilaksanakan secara nyata. Karena dengan adanya jalan tol, akan terdapat peningkatan keamanan dunia transportasi yang kian lama kian pesat.

Jalan tol sangat berpengaruh dalam perekonomian suatu negara. Di Amerika, meskipun suatu daerah belum banyak penghuninya, infrastruktur pertama yang dibangun adalah jalan tol menuju daerah tersebut. Maka, akses menuju daerah tersebut akan lebih mudah dijangkau dan dengan sendirinya investor juga akan datang.

Dengan adanya jalan tol, daerah akan lebih maju, perjalanan pun menjadi lebih cepat. Banyak harapan muncul dalam pembangunan jalan tol di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Karena umumnya perjalanan di pulau Jawa lewat jalan umum nontol memakan waktu yang cukup lama.

Diharapkan, akan ada jalan Trans-Jawa yang akan memudahkan bagi pengguna jalan mempercepat perjalanan serta menghemat biaya. Jalan tol juga dibutuhkan di Sumatera serta di Selat Sunda, dengan adanya jalan tol tersebut Indonesia sudah tentu akan lebih maju lagi dalam hal ekonominya.

Baca Juga
Lihat juga...