Prof Zainuddin: Sama Rasa Sama Rata ala PKI

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

596

KEDIRI — Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan sebuah partai yang ideologinya mengambil dari faham yang diajarkan oleh Karl Marx yang kemudian dikenal dengan ideologi marxisme. Dimana mempunyai anggapan bahwa agama adalah candu, agama adalah opium yang membuat orang tidak sadar.

Oleh karenanya, orang-orang PKI sangat tidak suka terhadap umat Islam khususnya Pelajar Islam Indonesia (PII) sehingga sering melakukan kekerasan kepada umat Islam, jelas ketua umum PW KB-PII Jawa Timur, Prof. Dr. Zainuddin Maliki, saat menghadiri acara Refleksi 53 tahun teror PKI Kanigoro, beberapa waktu lalu.

Marxisme juga berpandangan bahwa masyarakat harus dijauhkan dari Agama jika ingin membangun sebuah konsep masyarakat yang mereka sebut masyarakat sama rata sama rasa.

“Jadi konsep marxisme itu ingin menciptakan masyarakat yang di dalamnya tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin. Maka kemudian mereka ciptakan suatu sistem dimana masyarakat dapat mengalami atau merasakan dengan perasaan yang sama yaitu dengan konsep Sama Rata Sama Rasa,” terangnya.

Untuk menciptakan masyarakat tanpa perbedaan kelas ekonomi, marxisme mengajarkan untuk menjalankan revolusi. Caranya adalah dengan melakukan kekerasan. Maka terjadilah praktek-praktek kekerasan yang dilakukan oleh para penganut marxisme.

“PKI termasuk terpengaruh ideologi marxisme yang mengajarkan untuk menciptakan masyarakat sama rata sama rasa harus menempuh dengan cara kekerasan,” terangnya.

Itulah sebabnya PKI di Indonesia banyak terlibat dalam aksi kekerasan dan berbagai bentuk pelanggaran hak seperti terjadinya peristiwa di Kanigoro Kediri, Madiun, Bandar beksi dan di berbagai tempat lain, tandasnya.

Menurut Zainuddin, dulu PKI merasa sangat besar dan sangat arogan karena merasa dekat dengan kekuasaan. Saking arogannya, mereka meminta kepada pemerintah untuk membubarkan kekuatan-kekuatan yang disebut PKI sebagai kekuatan kontra revolusi. Mereka juga meminta untuk membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) karena dianggap sebagai penghalang revolusi.

“Pada saat itu PKI memang sangat arogan sehingga mereka ingin membubarkan setiap organisasi yang tidak sepaham dengan PKI,” Kisahnya.

Itulah sebabnya kemudian partai komunis di Indonesia ideologinya adalah revolusi dengan menggunakan kekerasan. Tapi Alhamdulillah bangsa Indonesia bisa menghadapi sehingga PKI gagal yang kemudian ditetapkan sebagai partai terlarang di Indonesia sampai sekarang, tambahnya.

Tetapi dengan berjalannya waktu, banyak masyarakat Indonesia yang tidak tahu bahwa sesungguhnya kekerasan itu pelakunya adalah PKI. Bahkan sekarang ini ada kecenderungan terdapat gerakan-gerakan yang ingin membalik fakta.

Ada gerakan yang ingin membalik sejarah bahwa sesungguhnya pelaku kekerasan itu bukanlah PKI. Pelaku kekerasan itu adalah dilakukan oleh negara.

“Jadi fakta yang sebenarnaya telah mereka ubah bahwa pelaku kekerasan bukanlah PKI, tapi negara dan sekarang negara didesak untuk mengakui kesalahannya,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mewaspadai bahaya ideologi komunis yang sampai saat ini masih hidup.

“Selain itu, diharapkan masyarakat terutama kaum muda harus mau belajar tentang sejarah yang benar sehingga tidak termakan oleh pemutar balikkan fakta yang sengaja dihembuskan oleh PKI,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...