‘Prukades’ Dibangun Tingkatkan Kualitas Industri Pertanian

Editor: Koko Triarko

273
Ketua Dewan Pakar Mendes PDTT, Prof. Haryono Suyono. -Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA – Ketua Dewan Pakar Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Trasmigrasi (Mendes PDTT), Haryono Suyono, mengatakan, gagasan produksi unggulan kawasan pedesaan (Prukades) adalah usaha membangun kemitraan antara petani dan peternak desa dengan perusahaan swasta.

“Alhamdulillah, minggu lalu telah MoU antara Mendes PDTT, Eko Putro Sandjojo dengan 147 bupati dari seluruh Indonesia dan 96 lembaga atau perusahaan swasta,” kata Haryono, kepada Cendana News, ditemui di Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Menurutnya, sekarang ini sedang disiapkan pusat-pusat pelatihan atau yang dinamakan ‘Akademi Desa’ di minimal sembilan lokasi di seluruh Indonesia. Dan, akan menggandeng beberapa perguruan tinggi untuk secara bertahap menyiapkan tenaga-tenaga yang bisa membantu pembuatan Prukades.

“Langkah pertama, kita mengembangkan kira-kira lebih dari 250 Prukades di seluruh Indonesia. Prukades  adalah ekonomi skala besar dengan kawasan desa antardesa, antarkecamatan, dan antarkabupaten,” kata mantan Menteri Menko Kesra dan Taskin ini.

Karena skala besar, katanya, maka Kemendes PDTT mengandeng swasta yang ditugaskan menularkan teknologi tinggi kepada para petani dan peternak serta pariwisata desa. Pengusaha swasta sebagai mitra itu juga bisa menyediakan bibit unggul, memberi pelajaran tentang cara pengolahan lahan yang optimal atau cara panen yang baik. Sehingga, kualitas hasilnya maksimal atau meningkat.

Disampaikan dia, pihak swasta sebagai mitra bisa menyediakan tenaga ahli, untuk mendampingi petani sampai petani benar-benar mampu menerapkan sistem tanam dan pemeliharaan modern, dengan masukan ilmu dan terknologi mutakhir.

Menurutnya, kalau biasanya penggarapan tanah hanya dicangkul, maka bisa dengan menggunakan traktor. Sehingga penggarapan tanahnya, seperti pertanian model di Australia dan Amerika yang produktivitasnya meningkat.

Kalau pengolahan lahan pertanian secara modern di kedua negara tersebut  berhasil diterapkan, juga akan terlaksana dalam model-model Prukades ini. “Prukades ini dapat meningkatkan kualitas industri pertanian,” ujar Haryono.

Sebagai contoh, sebut Haryono, buah jambu di Jawa Barat yang semula hanya dikonsumsi, karena dijual juga harganya murah. Dengan model kemitraan Prukades, maka jambu tersebut akan digarap oleh mitra atau perusahaan swasta menjadi jus dan coklat serta lainnya. Jadi, jambu tersebut akan digarap dengan sistem modern tanpa meninggalkan sisa.

Contoh lain lagi, tambah Haryono, di Sumbawa yaitu penggarapan jagung dibuat sebegitu rupa. Sehingga sisa-sisa dari jagung ini nantinya akan menjadi palet. “Palet ini menjadi bahan bakar menggantikan listrik,” kata mantan Ketua Yayasan Damandiri ini.

Inilah, kata dia, contoh usaha-usaha pertanian yang digarap dengan teknologi modern tanpa meninggalkan limbah. Sehingga dengan sendirinya, lingkungan bertambah bagus, dan petani atau peternak akan lebih makmur, karena nilai harga dari produknya tidak lagi rendah.

Kembali dicontohkan, di Malang yang hampir di setiap desa menghasilkan buah kelengkeng, tapi sayangnya, warna kelengkeng itu ‘blulukan’. Ini karena ketika pohon tersebut  berbuah tak dipelihara dengan baik. Padahal, seharusnya buah kelengkeng itu dibersihkan lalu dibungkus plastik, sehingga ketika dipanen kualitasnya akan bagus.

Dengan model kemitraan dalam gagasan Prukades, buah kelengkeng ini akan diproduksi lebih unggul dengan harga jual menguntungkan para petani.

Guna mewujudkan Prukades ini, infrastruktur menjadi hal penting yang harus dipertimbangkan. “Infrastruktur harus bagus, makanya Mendes PDTT bersinergi dengan Menteri PU dan Menteri Pertanian,” kata mantan Kepala BKKBN ini.

Menurutnya, sinergi tersebut dalam hal pembuatan jalan-jalan di pedesaan dan pemberian traktor kepada para petani dalam upaya memaksimalkan pengolahan lahan.

Baca Juga
Lihat juga...