Ratusan Jemaah Korban First Travel Unjuk Rasa di Kemenag

Editor: Irvan Syafari

317

JAKARTA —- Ratusan jemaah korban biro perjalanan ibadah umroh Frist Travel melakukan unjuk rasa di kantor Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia. Kedatangannya Kemenag ini untuk menuntut sikap atas kelanjutan kasus penipuan terhadap travel umroh.

Kuasa hukum para korban jemaah First Travel Riesqi Rahmadiansyah mengatakan, para jemaah jemaah First Travel memiliki sejumlah tuntutan kepada Kemenag. Adapun tuntutanya, jemaah meminta Kemenag menjembatani para korban untuk mencari tahu berapa jumlah aset yang masih dimiliki oleh Owner First Travel kepada Pusat Pelaporan dan Anaslisis Transaksi Keuangan (PPATK) atau Kejaksaan.

“Berapa sebenarnya aset yang masih dimiliki First Travel? Setelah First Travel baru dicek lagi, apakah masih ada aset pemilik First Travel (Andika dan Anissa),” ucap Riesqi di depan Kantor Kemenag, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat (16/3/2018).

Menurutnya, dari sejumlah jemaah yang sudah pernah bertemu langsung dengan pemilik travel tersebut mengaku masih memiliki aset sekitar Rp500 miliar. Atas pengakuan jemaah, kata Riesqi, dia meminta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) lebih proaktif.

“Kami juga sudah meminta LPSK proaktif melindungi apakah benar masih ada aset itu,” paparnya.

Para jemaah juga menuntut Kemenag memantau hasil sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Selain itu Kemenag juga diminta memantau persidangan pidana yang berlangsung di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. Dia menilai, saat ini Kemenag dinilai lambat mengurusi kasus penipuan First Travel.

“Kemenag sampai saat ini belum memberikan pernyataan bahkan terkesan adem ayem,” katanya.

Kemudian dengan adanya penipunan travel umroh ini, Riesqi mengatakan banyak travel bermasalah akhir-akhir ini. Dia pun mempertanyakan hal itu. Dia menduga adanya indikasi suap. Dia meminta kepada Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) untuk menindaklanjuti kasus penipuan First Travel di lingkungan Kemenag.

“Jangan-jangan yang agen-agen kami bilang ada indikasi suap itu terbukti dengan (Pemilik First Travel). Kami meminta KPK unuk menindaklanjuti hal itu,” pintanya.

Para jemaah pun mengajak pihak Kemenag untuk duduk bersama membicarakan mengenai skema pemberangkatan jemaah yang menjadi korban. Dia mengklaim mempunyai tawaran skema pemberangkatan sendiri.

“Jika benar aset tersebut masih ada. Saya berani menghitung para jemaah masih bisa berangkat,” tuturnya.

“Saya berani menghitung bahwa minimal pemberangkatan umroh adalah 950 dollar. Kalau 63 ribu orang, saya rasa dengan 500 milliar rupiah masih bisa berangkat,” sambungnya.

Kini ketiga bos First Travel, Andika Surachman, Annisa Hasibuan, dan Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki tengah diadili di Pengadilan Negeri Depok. Peradilan sudah masuk tahap mendengarkan keterangan saksi-saksi.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Andika dan Annisa melanggar Pasal 378 dan Pasal 372 tentang Penipuan dan Penggelapan serta Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP. Ketiga terdakwa terancam hukuman penjara 20 tahun lebih sampai seumur hidup.

Jaksa menyebut perbuatan tiga terdakwa telah merugikan 63.310 calon peserta umrah yang gagal diberangkatkan. Total nilai kerugian mencapai Rp905,33 miliar.

Baca Juga
Lihat juga...