RI-Singapura Gelar Ekspedisi Laut Jawa

293
Laut Jawa-Ist

JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan ekspedisi laut dalam pertama di Laut Jawa bersama National University of Singapore (NUS) dan Lee Kong Chian Natural History Museum, sekaligus penanda 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura.

“Ekspedisi laut dalam ini akan mengungkapkan keragaman biota laut dalam di bagian barat daya Pulau Jawa, daerah di mana hampir tidak ada eksplorasi yang pernah dilakukan,” kata peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dwi Listyo Rahayu, yang bertindak sebagai salah satu pimpinan ekspedisi di Jakarta, Jumat (23/3/2018).

Sebanyak 30 peneliti dan staf pendukung dari Indonesia dan Singapura akan memulai ekspedisi selama 14 hari di Laut Jawa. Ekspedisi yang berlangsung mulai 23 Maret sampai 5 April 2018 ini merupakan eksplorasi biologis laut dalam terpadu yang pertama kali dilakukan di bagian laut Indonesia yang sebagian besar belum dijelajahi, khususnya di perairan Jawa.

Ekspedisi ini sekaligus juga menandai 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura, dalam tajuk ‘RI SING 50’. Peluncuran ekspedisi dilakukan di Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, dan akan dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi serta diplomat kedua belah negara.

Ekspedisi ini adalah salah satu dari hasil kerja sama antara LIPI dengan NUS pada 2012, dan akan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII milik LIPI sebagai wahana penelitian.

Ekspedisi ini akan menjadi kerja sama ilmiah antara peneliti-peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dengan Lee Kong Chian Natural History Museum dan Tropical Marine Institute-NUS.

Lebih lanjut, Dwi menjelaskan, bahwa ekspedisi ini akan dimulai dari sekitar Selat Sunda ke arah timur menuju perairan Cilacap pada kedalaman 500 sampai 2.000 meter di bawah permukaan laut, dan akan fokus untuk mengumpulkan sampel dari berbagai organisme laut alam yang biasanya sulit didapatkan, seperti Crustacea (kepiting dan udang), Mollusca (kerang), Porifera (spons laut), Cnidaria (ubur-ubur), Polychaeta (cacing), Echinodermata (bintang laut dan bulu babi) dan ikan.

“Ekspedisi ini diharapkan menguak keanekaragaman jenis biota laut dalam di Palung Jawa, tidak hanya untuk ilmu kelautan, tapi juga melihat potensi biota laut dalam untuk bahan pangan atau manfaat lainnya,” kata Dwi.

Latih, peneliti Indonesia, menjelaskan ekspedisi ini juga diharapkan melatih peneliti-peneliti muda Indonesia untuk melakukan pekerjaan taksonomi morfologi bersama dengan peneliti dari negara lain.

Head of the Lee Kong Chian Natural History Museum of the National University of Singapore, Peter Ng, mengatakan pihaknya sangat bersemangat menjalankan eskpedisi yang disebutnya sebagai puncak dari diskusi dan penjajakan bersama untuk setiap kemungkinan selama 15 tahun ini.

“Kami semua sangat bersemangat untuk mengetahui biota apa yang ada di daerah yang hampir belum pernah dijelajahi oleh ahli biologi mana pun,” ujar Ng.

Ng menjelaskan, Laut Jawa yang disebutnya sebagai ‘daerah tanpa manusia’ ini mengandung kekayaan keanekaragaman hayati yang belum banyak dikenal dan dikaji dalam ilmu pengetahuan.

“Memahami kekayaan ini penting, karena kita tidak bisa melindungi kekayaan ini tanpa mengetahuinya terlebih dahulu. Ini adalah pertama kalinya Singapura dan Indonesia menyelenggarakan ekspedisi keanekaragaman hayati laut dalam bersama-sama”, katanya.

Dari sisi kebijakan pemerintah, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah, mengatakan bahwa ekspedisi bersama ini memberikan manfaat ganda. Selain untuk pengembangan ilmu kelautan, ekspedisi ini juga memberikan informasi kepada pemerintah dan bangsa Indonesia tentang potensi sumber daya laut yang ada di sekitar perairan tersebut yang dapat dimanfaatkan.

Lebih lanjut, Dirhamsyah mengatakan, ekspedisi ini merupakan ajang peningkatan kapasitas peneliti-peneliti muda Indonesia untuk memahami biota dan ekosistem laut dalam yang belum banyak diketahui oleh peneliti-peneliti Indonesia. Pada ekspedisi ini, akan terlibat beberapa peneliti kelas dunia dari beberapa negara seperti Singapura, Perancis dan Taiwan.

Secara garis besar, ekspedisi akan dibagi dalam dua kegiatan besar. Pertama adalah kegiatan di atas kapal yang meliputi pengambilan sampel dengan peralatan seperti beam trawl dan epibhentic sledge, penanganan sampel, serta kompilasi data.

Selanjutnya adalah kegiatan pascaekspedisi, yang meliputi penanganan lanjutan sampel, penyusunan laporan sementara, dan workshop. Studi tentang sampel ini diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun dan hasilnya akan dibagikan dan didiskusikan dengan dunia pada lokakarya khusus yang akan diadakan di Indonesia pada 2020. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...