Rumbia dan Gelam Efektif Selamatkan Kuala Jaya dari Banjir

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

342

LAMPUNG — Jajaran tanaman Rumbia (Metroxylon sagu) dan kayu gelam (Melaleuca sp) masih tumbuh secara alami di sepanjang alur muara sungai Sekampung perbatasan kabupaten Lampung Selatan dan kabupaten Lampung Timur.

Tanaman terlihat tumbuh alami pada bantaran sungai Way Sekampung sepanjang kurang lebih sepuluh kilometer di sisi kabupaten Lamsel dan Lamtim. Selain sebagai benteng alam, sungai dan lahan pertambakan, tanaman tersebut melindungi perkampungan nelayan.

Firdaus (43) warga dusun Bunut Utara desa Bandar Agung menyebut pada awal tahun 1980-an dua jenis tanaman tersebut mendominasi area rawa di sungai way Sekampung. Jenis tanaman gelam, rumbia, palem dan kelapa bahkan tumbuh liar sebagai vegetasi alami yang menjadi habitat alami berbagai jenis burung.

Jenis burung camar, belibis, manyar, bangau serta burung air bahkan hidup berkoloni dan menjadikan pohon di dekat aliran sungai sebagai tempat tinggal.

“Pada waktu itu belum banyak warga yang memanfaatkan kayu gelam, penebangan semakin banyak untuk bahan pembuatan jembatan dan konstruksi bangunan yang mudah diperoleh dibanding bambu,” terang Firdaus salah satu warga desa Bandar Agung yang tinggal di dekat sungai Way Sekampung saat dikonfirmasi Cendana News baru baru ini.

Selain kayu gelam, penggunaan lahan di sekitar sungai way Sekampung untuk tambak juga memaksa penebangan jenis pohon rumbia atau sagu. Hektaran lahan yang disulap menjadi tambak udang vaname, bandeng sekaligus penambangan pasir mengakibatkan ekosistem sagu dan gelam terbatas pada bagian muara sungai.

Selain tidak dirusak keberadaan tanaman tersebut dipertahankan warga sebagai penahan luapan sungai way Sekampung saat puncak musim hujan.

Sebagian besar masyarakat nelayan, petambak tinggal di dekat sungai Way Sekampung bahkan di kuala Jaya sebagian tinggal di atas sungai menggunakan rumah terapung. Keberadaan ekosistem kayu rumbia dan gelam yang masih dipertahankan oleh warga di antaranya merupakan tanaman baru yang terbukti efektif menahan laju longsor bantaran sungai.

“Beberapa kali mengalami banjir warga mulai sengaja mempertahankan pohon gelam dan rumbia karena menghemat pembuatan tanggul penangkis,” terang Firdaus.

Sementara itu, Ahmad Rizal (43), warga dusun Kuala Jaya dan ketua kelompok nelayan Usaha Baru menyebutkan, siklus banjir dengan debit air cukup tinggi biasanya terjadi setiap lima tahun sekali bahkan merendam perumahan warga. Namun akibat faktor kerusakan alam dampak penebangan pohon dan alih fungsi lahan di bagian hulu sungai membuat banjir terjadi dua tahun bahkan rutin setiap tahun.

“Keberadaan tanaman rumbia di sepanjang bantaran sungai setidaknya menjadi benteng alami antara badan sungai dan area yang dimanfaatkan masyarakat,” ujar Ahmad Rizal.

Ahmad Rizal
Ahmad Rizal, ketua kelompok nelayan Usaha Baru dusun Kuala Jaya desa Bandar Agung kecamatan Sragi [Foto: Henk Widi]
Ia menyebut tanpa adanya tanaman yang dipertahankan tersebut area terdampak banjir disebutnya akan lebih luas. Meski berdampak bagi 120 warga di dusun Bandar Agung namun kondisi tersebut tidak berdampak bagi ratusan warga nelayan di Kuala Jaya. Lokasi yang terlindung oleh jajaran pohon rumbia dan gelam membuat kampung nelayan aman ditambah pohon mangrove di sisi Timur yang menghadap perairan laut Jawa.

Banjir yang melanda wilayah Kuala Jaya disebutnya umumnya terjadi akibat rob pasang air laut dan terjadi mengikuti siklus bulan purnama. Ia bahkan mengimbau agar warga tidak menebang kayu gelam dan rumbia yang terbukti mengamankan kampung nelayan di wilayah tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...