Saat Pedro Mengawal Pak Harto di Lanud Jatiwangi

Oleh Mahpudi, MT

1.218

Catatan redaksi:

Merayakan Maret sebagai Bulan Pak Harto, redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto di  2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Bagian 5 Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto

Peta rencana perjalanan Napak Tilas Incognito Pak Harto, mengarahkan tim ekspedisi menuju selatan, tepatnya ke sebuah lapangan terbang milik TNI AU di Jatiwangi, Majalengka. Demikianlah, usai melakukan penelusuran jejak Pak Harto di wilayah Indramayu, hari itu, 5 Mei 2012, rombongan bergerak ke sebuah kota kecil bernama Jatiwangi yang dulu dikenal sebagai kawasan perkebunan tebu nan luas sejak masa Hindia Belanda. Sebuah reruntuhan komplek pabrik gula yang tepat di salah satu sudut perempatan kota, menyisakan gambaran betapa pada masa silam, wilayah ini merupakan kawasan yang makmur. Saat ini, kawasan tersebut sudah berganti dengan komplek perbelanjaan yang nyaris tak menyisakan kenangan akan hal itu.

Dari pusat kota Jatiwangi, rombongan mengarahkan kendaraan ke utara, lalu sampai ke sebuah lapangan udara yang diberi nama Lapangan Udara Sugiri Sukani. Ini bukan lapangan terbang sipil, melainkan sebuah lapangan terbang milik TNI Angkatan Udara. Di sekeliling lapangan terbang masih terhampar luas persawahan. Daerah ini memang ideal untuk jalur lalu lintas penerbangan udara. Tak heran, bila kemudian di bagian lain dari kawasan Kabupaten Majalengka ini, tepatnya di daerah Kertajati, kini tengah dibangun Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).

Presiden Soeharto dalam perjalanan incognitonya pada 7 April 1970 mengunjungi asrama anak yatim Trikora di Lapangan Udara Darurat Djatiwangi (kini Lanud S. Sukani) – Foto Dokumen

Foto dokumentasi Incognito yang kami bawa memberikan informasi bahwa Pak Harto mengunjungi anak-anak yatim di lapangan udara Jatiwangi. Agak aneh dengan frasa ini : anak yatim di komplek lapangan udara. Hal itu semakin menambah rasa penasaran kami untuk mencari tahu.

Kawasan lapangan udara Sukani bukan kawasan publik, bahkan bisa dibilang, jauh dari perumahan penduduk. Ketika kami tiba di daerah ini, tak mudah menjumpai orang untuk dimintai informasi. Sungguh Allah Maha Baik, usai menunaikan Shalat Jumat di sebuah masjid, tak jauh dari komplek bandara, dalam situasi kebingungan, kami bertemu dengan seorang pria tua, tak jauh dari masjid. Badannya tinggi dengan rambut sudah memutih semua. Tapi, dari wajahnya kami yakini, Dia bukanlah penduduk setempat yang mayoritas suku Sunda.

Pria tua itu terperangah ketika mendengar penjelasan kami. “Mari saya antar,” ujarnya ringkas. Ia meminta seseorang untuk mengeluarkan sepeda motornya dan mengantarkan dirinya berkendara di depan rombongan kami. Berkat pria tua itu, kami jadi tidak perlu repot-repot mengurus birokrasi ketika memasuki kawasan lapangan udara yang dijaga tentara. Rupanya, Ia sangat dikenal dan dihormati oleh petugas di kawasan tersebut.

Tak lama, pria tua bersama seorang petugas mengantar kami ke sebuah bangunan. Bangunan lama khas militer yang cukup terawat. Warna cat biru laut yang menandai bangunan ini, merupakan bagian dari komplek TNI Angakatan Udara. Hanya saja, bangunan itu kosong dan sedang tidak dimanfaatkan. Kami segera mengenali, karena foto dokumentasi memperlihatkan dengan jelas bentuk bangunan itu. Kami pun diijinkan masuk ke dalam bangunan yang kosong itu. “Ini bangunan yang dikunjungi Pak Harto,” demikian Pria tua itu menjelaskan.

Presiden Soeharto dalam perjalanan incognitonya pada 7 April 1970 mengunjungi asrama anak yatim Trikora di Lapangan Udara Darurat Djatiwangi (kini Lanud S. Sukani) – Foto Dokumen

Petugas yang mengantar kami tersebut, semula ragu. Namun, begitu diperlihatkan foto-foto itu, Ia pun mengangguk tanda setuju. Sepanjang kami berkeliling di dalam bangunan, pria tua itu bercerita.

“Panggil saya Pedro. Nama lengkap saya Andreas Pedro Pareira,” demikian pria tua itu mengenalkan diri. Benar saja, gumam penulis dalam hati, “beliau bukan orang asli sini.” Seperti tahu isi hati saya, Ia pun menjelaskan bahwa dirinya memang bukan orang Sunda, melainkan orang dari Nusa Tenggara Timur. Ketika muda, Ia mendaftarkan diri sebagai salah seorang prajurit dan diterima di lingkungan Pasukan Gerak Tjepat (PGT). Lalu, Ia ditempatkan di lingkungan Angkatan Udara. Saat itu, Ia pun ditempatkan di Jatiwangi (dulu nama lapangan terbang ini adalah Lapangan Udara Darurat Djatiwangi, Red).

Andreas Pedro Pareira – Foto Mahpudi

Pedro berkisah bahwa Ia saat itu menjadi ajudan Letnan Kolonel Sugiri Sukani, Komandan Resimen Pasukan Gerak Cepat (PGT) yang bermarkas di Lapangan Udara Darurat Djatiwangi. Pada masa konfrontasi dengan Malaysia dalam Operasi Dwikora, dilakukanlah penerbangan penyusupan ke wilayah Malaysia menggunakan pesawat Hercules C-130. Penerbangan tanggal 6 September 1964 ini dipimpin langsung oleh Letkol Sugiri Sukani. Pedro sudah bersiap di dalam pesawat. Namun, sebelum keberangkatan, Sang komandan memerintahkan Pedro untuk turun dan mengambilkan sesuatu yang tertinggal. Pedro diminta untuk menyusul dengan pesawat berikutnya.

Sejarah kemudian mencatat, pesawat Hercules yang dinaiki oleh Letkol Sugiri Sukani bersama pasukannya guna menghindari radar lawan pesawat terbang rendah di wilayah Johor Baru. Entah bagaimana, pesawat pun jatuh. Bersama pasukannya, Letkol Sukani  gugur sebagai pahlawan bangsa. Kelak, nama Sugiri Sukani diabadikan sebagai nama lapangan udara di Jatiwangi ini.

Lalu, bagaimana ceritanya Pak Harto bisa sampai di lapangan udara ini dalam perjalanan Incognito-nya pada 7 April 1970?

Lagi-lagi, Pedro membuka-buka lembaran ingatannya. Sebagai mantan Panglima Komando Operasi Mandala, Pak Harto dikenal sangat peduli dengan nasib keluarga anak buahnya. Terlebih, di antara anak buahnya, banyak yang gugur selama melaksanakan amanat Tri Komando Rakyat (Trikora) yang dikumandangkan Presiden Soekarno di Yogyakarta pada 19 Desember 1961. Ada ratusan anak menjadi yatim karena orangtua mereka gugur di medan perjuangan untuk mengembalikan Irian Barat (kini wilayah Papua) ke pangkuan NKRI.

Inilah yang mendorong Pak Harto pada 1963 mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Trikora. Yayasan yang difokuskan untuk memberikan beasiswa bagi anak-anak yatim dan menyantuni janda pejuang Trikora. Tak hanya itu, Pak Harto juga memerintahkan TNI- AU untuk membangunkan asrama guna menampung anak-anak yatim yang jumlahnya cukup banyak. Agar mereka mendapat perhatian dan pendidikan yang cukup dari Pemerintah. Asrama pun didirikan di dalam kompleks Lapangan Udara Darurat Jatiwangi Jawa Barat.

Andreas Pedro Parera saat itu sedang berdinas sebagai Prajurit Angkatan Udara RI ketika rombongan Pak Harto datang ke Asrama Yatim Trikora. Pedro menjadi bagian dari tim yang mengamankan kedatangan Presiden Soeharto untuk berjumpa dengan anak-anak yatim yang sedang mengikuti serangkaian pendidikan di sana.

Menurut Pedro, beberapa tahun setelah kunjungan Pak Harto ke asrama ini, Pemerintah memindahkan anak-anak yatim itu ke asrama yang baru di lingkungan Komplek Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Sementara, bangunan bekas asrama itu dibiarkan tetap ada, hingga kini.  Meski ada beberapa perubahan, bagian dalam bangunan masih meninggalkan jejak sebagai sebuah asrama. Pedro ingat, bagaimana Pak Harto memberikan bingkisan kepada anak-anak yatim di sana, serta bercakap-cakap dengan mereka.

Tim ekspedisi Incognito Pak Harto berfoto bersama Andreas Pedro Pareira (ketiga dari kiri) di depan bangunan bekas asrama yatim Trikora di Lapangan Udara Sukani, Jatiwangi – Foto Mahpudi

Sambil menitikkan air mata, Pedro berkata, ”Beliau sangat peduli dengan anak-anak yatim. Berkat Pak Harto, mereka yang kehilangan orangtuanya di medan pertempuran bisa tetap tabah, kuat, dan mampu melanjutkan cita-citanya.”

Dari kisah Pedro, sejumlah anak yatim itu kini banyak yang meraih sukses, berkarier di dunia militer seperti orang tua mereka, menjadi pegawai, dan juga pengusaha di berbagai sektor di seluruh Indonesia. Dari kisah haru tersebut, Pedro dan kami sama-sama berdoa, anak-anak yatim alumni Asrama Yatim Lapangan Udara Jatiwangi itu masih ingat kunjungan seorang Presiden yang begitu memperhatikan nasib mereka di masa sulit dahulu.

Baca Juga
Lihat juga...