Salim Said: Film Indonesia Era Kini Semakin Baik

Editor: Satmoko

342

JAKARTA – Salim Said dulu dikenal sebagai penulis kritik film. Bukunya  tentang film berjudul Profil Dunia Perfilman Indonesia (1982) dan Pantulan Layar Perak (The Shadow on the Silver Screen) serta Dari Festival ke Festival.

Menurut dia, perkembangan film Indonesia era kini semakin baik. Lulusan doktor ilmu politik di Ohio State University, Amerika, ini memang dikenal juga sebagai wartawan. Ketajaman penanya dalam mengulas film Indonesia menyebabkan dia “kurang disukai” produser. Hingga awal 1980-an dia adalah Kepala Urusan (Desk) Film & Luar Negeri sebuah majalah ibu kota.

Sampai sekarang ia mengaku rajin menonton film Indonesia. Menurut penilaiannya film Indonesia sekarang memang jauh lebih baik daripada dulu ketika ia sebagai penulis kritik film dan bertahun-tahun menjadi juri film. Sebagai anggota dari Dewan Film Nasional dan Dewan Kesenian Jakarta, ia sering berpartisipasi dalam diskusi tentang film, sejarah, sosial dan politik Indonesia dalam tingkat nasional maupun internasional

“Sekarang persentase film Indonesia yang baik lebih banyak, “ kata Salim Said saat acara Gala Premiere Film Moonrise Over Egypt di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu

Remake atau membuat versi baru, bagi Salim Said, film Indonesia sekarang rata-rata bagus. Kenapa sekarang bagus tapi mengapa dulu tidak, ia membeberkan ada beberapa kemungkinan, seperti di antaranya, sekarang banyak anak muda didikan sekolah film.

“Atau mungkin juga karena ada sumber-sumber modal yang tidak lagi ditanam produser film lama,“ beber Anggota Dewan Film Nasional selama 2 periode 1989-1995, disamping sebagai Ketua Bidang Luar Negeri Pantap FFI (1988-1992).

Ada sesuatu yang berubah yang menyebabkan film Indonesia sekarang sebagian besar enak ditonton. Dulu kalau mau jadi sutradara harus menjadi asisten dulu. “Hal itu yang menghambat tenaga-tenaga kreatif muda,“ paparnya.

Mengenai film Moonrise Over Egypt, Salim Said menyimpulkan ada dua, yaitu tentang diplomasi dan juga cerita mata-mata Belanda. Ia mengaku tidak pernah mendengar cerita ada mata-mata Belanda.

“Apakah ini cara membuat film ini agar tidak datar sehingga dibuat sedramatis mungkin sehingga film menjadi menarik?“ demikian Salim Said mempertanyakan.

Kemudian, pada adegan penembakan, Salim Said menganggap secara filmis mestinya tokohnya kena tembak karena dibidik dan senjatanya dipicu meledak. Tapi, ternyata, tokoh tersebut tidak apa-apa dan tidak ada penjelasan, apakah dia kena atau pembantunya yang kena.

Ia jadi ingat cerita tentang penembakan, yang karena membungkuk memasang bintang, tokohnya jadi tidak kena tembak. “Dalam film ini kurang jelas digambarkan,“ tegasnya.

Menurut Salim Said, yang menarik dari film Moonrise Over Egypt, bagaimana menggunakan sentimen Islam dalam mencari dukungan Mesir.

“Diplomat yang baik menggunakan hal-hal seperti itu untuk usaha diplomasi. Hal tersebut digambarkan dengan jelas dalam film ini,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...