Sandiaga Imbau Warga Jakarta Hentikan Penggunaan Air Tanah

Editor: Koko Triarko

302

JAKARTA —- Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno, mengajak warga Jakarta untuk mulai meninggalkan pemakaian air tanah, karena penggunaan air tanah secara berlebihan dan terus-menerus dapat menimbulkan dampak negatif bagi keberlangsungan lingkungan.

Sandi mengimbau, warga DKI Jakarta untuk mulai meninggalkan pemakaian air tanah dan beralih ke perpipaan (air PAM).  “Mari kita berhenti memakai air tanah secara berlebihan dan mulailah menggunakan air perpipaan,” kata Sandiaga di kediamannya, Jalan Pulombangkeng, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/3/2018).

Dia pun mengajak para tetangganya yang tinggal di sekitar kediamannya untuk berhenti menggunakan air tanah. Untuk mendukung itu, mantan pengusaha itu, akan melakukan door to door ke rumah-rumah tetangganya dan membagikan pamflet sambil lari pagi.

“Saya suka lari pagi, jadi muter. Kalau misalnya ada pamflet yang bisa dibagi-bagi, nanti saya lari sambil ke rumah-rumah ini saya kelilingi sendiri supaya tetangga bisa mengikuti (pemakaian air PAM),” ucapnya.

Dalam kegiatan ini, dia terus mendorong seluruh masyarakat untuk berhenti menggunakan air tanah dan beralih ke air PAM. Dia menginginkan kegiatan ini berlanjut ke beberapa wilayah lain dan penggunaan air PAM tidak hanya digunakan oleh wilayah perkantoran.

“Hari ini saya mencoba mengubah diri saya sendiri. Kalau di perkantoran sudah mulai, di rumah juga harus mulai, ke depan, saya nyatakan gerakan dimulai dari rumah,” ungkapnya.

Sandi juga menjelaskan, tanah-tanah atau pun rumah-rumah yang retak bukan dikarenakan adanya gempa, tetapi kondisi tanah yang semakin turun akibat beban penggunaan air tanah.

“Jangan kaget kalau lihat cracking house, misalnya terbelah jalan. Orang bilang ada gempa. Enggak, ini simpel saja karena tanahnya turun dan bangunannya enggak kuat menyangganya,” tandasnya.

Penggunaan air tanah, kata Sandi, harus dihentikan lantaran kini turunnya permukaan tanah. Dia menilai, penggunaan air tanah masih masif, sehingga bisa menyebabkan penurunan tanah setiap tahun.

Direktur Utama PAM Jaya, Erlan Hidayat, menyatakan, bahwa penutupan sumur air tanah yang dilakukan oleh Sandiaga diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk tidak lagi menggunakan air tanah.

“PAM Jaya juga siap untuk melayani warga yang akan beralih menggunakan air PAM,” ucap Erlan, di kediaman Sandiaga.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta hanya 4,30 meter kubik per detik, air hujan yang masuk ke dalam tanah. Angka tersebut tidak sebanding dengan pengembalian air tanah dangkal di wilayah DKI Jakarta sebesar 13,75 meter kubik per detik.

Sementara, total jumlah air tanah dangkal maksimal yang dapat diambil adalah sebesar 36,17 juta meter kubik per tahun. Pengambilan air tanah dangkal yang berlebihan menyebabkan terjadinya intrusi air laut dan penurunan permukaan tanah.

Baca Juga
Lihat juga...