Sarno Menolak Tawaran Pabrik dari Pak Harto

Oleh Mahpudi, MT

847

Catatan redaksi:

Merayakan Maret sebagai Bulan Pak Harto, redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012.

Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan).

Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Bagian 6 Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto

Usai mendengar kisah Pedro tentang kepedulian Pak Harto terhadap anak-anak yang ditinggal orangtua mereka karena gugur dalam operasi Trikora, rombongan segera meluncur ke arah timur. Foto dokumentasi Incognito Pak Harto yang bertanggal 7 April 1970, memandu kami untuk menyeberangi Provinsi Jawa Barat, tujuannya kota Tegal. Dalam foto tersebut, terlihat Pak Harto singgah di mess Diponegoro dan rumah tinggal sejumlah orang asing. Sampai kini, tim masih belum bisa menyingkap, siapa sebenarnya sejumlah orang asing yang disambangi Pak Harto di kota Tegal itu.

Bagian 1: Pak Harto Bertemu Otong di Desa Binong

Kami tak berlama-lama di kota Tegal, sebab foto-foto berikutnya menunjukkan, Pak Harto lebih banyak beraktivitas di Lebaksiu, sebuah daerah pertanian yang terletak di selatan kota Tegal. Lebaksiu dikenal sebagai kawasan pertanian yang subur, daerahnya agak berbukit, udaranya juga tidak sepanas kota Tegal yang berada di tepi pantai.

Setelah menempuh perjalanan sekira 30 menit dari Tegal, kami tiba di daerah Yamansari, Lebaksiu. Kami turun dari kendaraan dan mencoba bertanya kepada orang-orang dengan memperlihatkan foto dokumentasi yang kami bawa.

Bagian 2: Di Rambatan Wetan, Pak Harto Kunjungi Penderita “Korengan”

Sebagian besar dari mereka menggelengkan kepala, sambil mencoba mengarahkan kami kepada orang lain di dekatnya. ”Coba tanya ke bapak yang di warung itu”. Begitu seterusnya. Maklum, usia mereka memang masih tergolong muda, sekira 40 tahunan. Sementara, gambaran daerah Yamansari saat ini, sudah jauh berbeda dengan apa yang ditampilkan di foto dokumen tahun 1970.

Pantang berputus asa, kami terus menyusuri jalan. Mencari-cari orang yang sudah cukup berusia tua. Aha…. ada seorang pria tua tengah berpangku tangan di balai-balai tepi jalan. Meski mengenakan peci, rambutnya yang memutih, tampak kentara. Kami perkirakan usianya 80 tahunan. Kami mendekati. Segera kami tahu, ia ternyata seorang pandai besi. Disekeliling balai, kami mendapati berbagai peralatan pandai besi yang diaku miliknya. Hanya saja, saat itu, sedang tak ada kegiatan yang dilakukan. “Sekarang sepi pesanan mas,” ujarnya ketika kami tanya kondisi usahanya.

Tim bersama narasumber di daerah Yamansari, Lebaksiu di sebuah daerah pertanian yang terletak di selatan kota Tegal. Foto: Ist

Kami segera mengetahui, namanya Sarno. Usianya 80 tahun. Seperti kepada penduduk sebelumnya, setelah berbasa basi secukupnya dalam bahasa Jawa khas Tegal (Ngapak), kami pun bertanya kepada pria tua itu, ”Bapake tahu Presiden Soeharto pernah singgah ke desa sini?”

“Ya weruh (ya tahu dong, Red),” jawabnya.

Senang hati kami mendengarnya. Kami meminta izin untuk duduk bersama di balai. Segera kami perlihatkan satu persatu foto-foto dokumentasi dari tablet yang kami bawa. Sarno tersenyum melihat foto-foto itu. Sarno mengomentari satu persatu foto-foto itu sambil memberi kami petunjuk letak  lokasi itu sekarang.

“Bapake masih ingat kejadian apa ketika Pak Harto ke sini?”

Bagian 3: Pak Harto Ajak Nobar Warga Tambi Indramayu

Sekali lagi dengan senyumnya yang khas, Sarno menjawab pertanyaan kami dengan bahasa campuran Jawa Ngapak dan bahasa Indonesia. Sarno pun mulai membuka kenangannya yang telah terpendam berpuluh tahun silam.

Ketika Pak Harto mengunjungi kampungnya, Yamansari-Lebaksiu, Tegal, Jawa Tengah, Sarno sudah menjalani profesi pandai besi. Daerah ini merupakan kawasan pertanian. Tentunya, para petani memerlukan peralatan yang lazim dihasilkan oleh pandai besi. Antara lain cangkul, parang, garu, dan sabit. Bengkel pandai besi yang dijalankan Sarno,merupakan warisan orangtuanya sejak kurun waktu 1959.

Lelaki sederhana itu ingat, ada serombongan orang-orang berpenampilan gagah dan berbaju rapi singgah ke tempatnya bekerja. Betapa kaget Sarno mendapati orang-orang itu menyambangi bengkelnya. Satu orang mengenalkan dirinya sebagai Presiden Soeharto. Saat itu, Pak Harto bertanya, “apa saja yang bisa dibuatnya?”

“Saya bisa mengerjakan pembuatan cangkul, sabit, serta perlengkapan pertanian lainnya,” jawab Sarno.

Bagian 4: Komplek PROSIDA dan “Jejak Basah” Pak Harto di Jatibarang

Tentu saja Pak Harto sangat antusias. Sarno pun bukan main kagetnya ketika  Pak Harto meminta agar dibuatkan cangkul dan sabit. Yang lebih mengagetkan bagi Sarno, jumlah yang dipesannya mencapai ratusan. Sarno mengingat, waktu itu, ia dengan polos menjawab, “Inyong ya ora sanggup (Saya tidak sanggup).”

Pak Harto menyusuri jalan desa di sebuah daerah pertanian yang terletak di selatan kota Tegal. Foto: Ist/Museum Purna Bhakti Pertiwi

Sarno beralasan, ia terbiasa mengerjakan dalam waktu seminggu, tak lebih dari tiga sampai enam buah cangkul atau sabit. Jadi, mengerjakan dalam jumlah sebanyak itu, perlu waktu berbulan-bulan.

Sarno lebih dibuat kaget lagi oleh Pak Harto. Karena, seketika itu juga, Pak Harto menawarinya untuk membuat pabrik agar bisa memenuhi pesanan itu. Lagi-lagi, Sarno menolak. Ketika itu, Pak Harto bertanya langsung, mengapa ia tidak mau dibuatkan pabrik.

Sarno langsung menjawab, ”kalau membuat pabrik, berarti saya harus berutang. Saya tidak mau. Bagi saya, utang akan menjadi beban sepanjang hidup.”

Sarno ingat, Pak Harto hanya senyum-senyum mendapati jawaban Sarno yang demikian. Meski begitu, Sarno mengaku tetap memenuhi pesanan Pak Harto, namun sesuai kemampuannya saja.

Bagian 5: Saat Pedro Mengawal Pak Harto di Lanud Jatiwangi

Kisah Sarno dan cangkul pesanan memperlihatkan betapa  kedatangan Pak Harto pada 7 April 1970, memang membawa kenangan tersendiri bagi penduduk Yamansari, Lebaksiu-Tegal. Terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut seperti Sarno.

Tim bersama narasumber di daerah Yamansari, Lebaksiu di sebuah daerah pertanian yang terletak di selatan kota Tegal. Foto: Ist

Sarno masih terus terngiang atas kehadiran Pak Harto menyusuri  jalan desa, turun ke sawah, memasuki tempat penggilingan padi, membeli sesuatu di warung kelontong, dan berbincang-bincang dengan penduduk tentang banyak hal. Semua itu mengendap sebagai ingatan kolektif tentang seorang Presiden bersahaja yang rela blusukan ke lubuk terdalam hati nurani rakyatnya. ***

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.